Mungkin ada salah pengertian. Saya secara pribadi ingin menjelaskan sbb:

Seorang anak kecil agar mengerjakan perintah orang tuanya diiming-imingi
dengan sesuatu (hadiah/pahala), setelaah dia sekolah kalau bisa naik
kelas dibelikan sepeda/pahala. Kalau bisa sarjana akan dibelikan motor,
dst. Pada dasarnya orangtua menyuruh anaknya untuk demikian bukan untuk
kebaikan orang tua tersebut tapi untuk masa depan si Anak. Setelah anak
dewasa hadiah/pahala justru tidak diberikan tetapi anak tersebut dapat
membeli/memiliki/merasakan arti hadiah/pahala tsb. Demikian halnya kita
dalam menjalankan ibadah:
Untuk tahap I kita beribadah seperti budak (diperintah/dipaksa)
Untuk tahap II beribadah seperti pedagang (cari untung - rugi ) 
Untuk tahap III beribadah untuk mendapat ridha Allah

Semua tahap diatas benar, hanya saja nilainya beda disesuaikan dengan
tingkat umur dan pengetahuannya. Ada tingkat SD (dipaksa),
SMP/SMA(untung/rugi) dan tingkat Sarjana(ridha Allah). Yang jadi masalah
sekarang banyak orang yang umur dan pengetahuanya sudah Sarjana tapi
masih hitung untung rugi/ dipaksa 
dalam ibadah. 
NB: Istilah diatas sekedar supaya bisa jelas, walaupun tidak terlalu
jelas
       Analogi cerita sekedar agar bisa jelas/terang, jangan
digeneralisasi 


Anzar Djais

s Telecommunication Project Office Ujung Pandang
Communication on Air - DECTlink/Fastlink
Planning Department
Tel: (0411) 855355
Fax:(0411) 855344

> -----Original Message-----
> From: Ahmad Fadlah [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Thursday, February 25, 1999 6:35 PM
> To:   Tasawuf
> Subject:      [Tasawuf] Ikhlas 
> 
> Assalamu'alaikum wr.wb.
> Bicara tentang "ikhlas" adalah bagian yang sangat urgent bagi para
> salik
> dalam mengarungi kehidupan beribadahnya.
> 
> Saya jadi berfikir apakah maqam Ikhlasnya Rabiah al-Adawiyah itu yang
> paling
> tinggi disisi Allah atau malah yang lain. Karena pernyataannya
> beribadah
> bukan mengharap surga dan bukan karena takut neraka adalah sesuatu
> yang
> sangat mustahil untuk dicapai oleh sebagian besar ummat.
> 
> Apakah bagi orang yang beribadah yang Khauf (takut) pada Neraka dan
> mereka
> yang Raja'(harap) akan Surga dan kenikmatan lain pasca mati, apakah
> ini
> peringkatnya lebih rendah dibanding ikhlasnya Rabiah Al-Adawiyah ???
> 
> Saya pernah dengar bagaimana saudara kita dari Majlis Tabligh setiap
> kesempatan halaqah menyempatkan membaca Fadilah Amal. Misalkan saja
> bagaimana orang yang sembahyang berjamaah nilainya 27 kali ketimbang
> sembahyang sendiri.
> Bagaimana orang yang berdosa tapi dia ikut dalam majelis zikir Allah
> juga
> telah mengampuni dia...dsb.. dsb.
> 
> Nah bagi orang-orang yang mengarap fadilah amal seperti saya contohkan
> diatas.....lantas apakah mereka dipandang masih peringkat awam dalam
> keikhlasan ?? mungkin ikhwan yang lain dapat sharing tentang ini...
> 
> Sementara fadilah-fadilah itu disampaikan langsung oleh Rasulullah dan
> itu
> dijamin tidak mengada-ada.
> 
> Saya hanya hawatir bila orang beribadah tidak mengharap sesuatu
> kebaikan
> disisi Allah dia tidak ada motifasi.. bagaimana sobat ??
> 
> wassalam,
> ++++++++++++++++++
> H. Ahmad Fadlah
> Banda Aceh
> ++++++++++++++++++
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
> [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke