Republika Today
Ikhlas
Oleh Agus Sutanto
Ketika perang dahsyat antara kaum Muslimin dan kaum musyrikan masih
terus berlangsung, bumi Yarmuk basah oleh darah. Di pihak musyrikin
telah banyak korban yang tewas. Dari pihak kaum Muslimin demikian pula,
banyak yang syahid dan banyak pula yang terluka.
Adalah Hudzaifah Al-Adawi yang akan maju ke medan perang. Namun, ketika
didengarnya rintihan prajurit yang terluka, ia mendekat sambil mengambil
tempat minumnya. Hudzaifah meneteskan air minum ke mulut prajurit itu.
Tetapi sebelum tetesan berikutnya membasahi kerongkongannya. Prajurit
yang terluka parah itu menepis kantong air, seraya didengarnya erangan
menahan rasa sakit dari tempat lain. Sang prajurit meminta Hudzaifah
untuk segera mendekat ke arah suara erangan tadi. Katanya, ''Bawalah air
ini padanya, aku tidaklah lebih mulia dari jiwa siapa pun yang berjuang
di jalan Allah.''
Setelah didekati, orang yang mengerang tadi ternyata Hisyam bin Al-Ash.
''Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu, ya Hudzaifah,'' ucapnya
menahan rasa sakit.
Hudzaifah belum sempat menuangkan minuman, ketika tiba-tiba Hisyam
menunjuk ke arah salah seorang prajurit lainnya yang terluka. ''Bawalah
air minum ini padanya, ia lebih membutuhkannya dari pada aku.''
Akhirnya Hudzaifah menuju orang terluka yang ditunjukkan Hisyam. Tapi
terlambat, ia telah lebih dulu menghembuskan napas terakhir. Prajurit
itu gugur sebagai syahid dengan luka di sekujur badan.
Hudzaifah termenung sebentar. Lalu dengan sigap ia berlari ke arah
Hisyam bin Al-Ash. Tapi ternyata Hisyam pun telah gugur. Tanpa terasa
air mata Hudzaifah menetes, kedua pipinya basah. Tangis Hudzaifah
semakin deras ketika ia sampai pada orang yang pertama ditolongnya,
ternyata ia pun telah berangkat ke haribaan Illahi.
Fenomena dari perang Yarmuk ini bukanlah sesuatu yang hanya bersifat
kecenderungan manusiawi. Dalam arti keikhlasan dan pengorbanan yang
telah ditunjukkan jelas berasal dari penyerahan diri dan pengamalan
sungguh-sungguh ajaran Islam. Mereka meyakini kebenaran Islam dengan
pembenaran dalam hati dan melaksanakannya semaksimal mungkin dalam
kehidupan nyata. Jadi, keikhlasan bekorban itu merupakan bukti nyata
dari pengalaman ajaran Islam tersebut.
Kemuliaan yang telah ditunjukkan dalam perang Yarmuk memang telah
berlangsung dan berlalu beberapa abad silam. Namun perwujudan konkret
nilai-nilai Qurani-nya haruslah tetap kita teladani. Agar makna ikhlas
yang sebenar-benarnya selalu melekat di hati setiap pribadi Muslim.
Karena seseorang tidaklah bisa disebut Muslim, kecuali bila ia
betul-betul mengikhlaskan seluruh dirinya bagi Islam, tidak beramal
kecuali untuk kepentingan Islam, dan tidak mau taat kecuali kepada
Islam: Mereka tidak disuruh, kecuali supaya mengabadi kepada Allah
dengan seikhlas hati. (QS Al Bayyinah: 5).
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang ikhlas
dalam beramal dan berkorban di jalan Allah SWT. Amin.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)