Assalamu'alaikum Wr. Wb
Maha suci Allah atas segala Kebesaran dan Kesuciannya.
Secara manusiawi, saya salut kepada Mas Ali Abidin atas objetifitas dalam
mengkaji berbagai macam hal.
Walau saya ketahui Mas Ali adalah seorang Syi'ah yang ketat.
Saya percaya dan meyakini,
bahwa keinginan kita bertemu dengan-Nya yang salah satunya terepresentasi
dalam tinjauan objektif, akan
mengundang rahmat Allah kepada kita.
Selamat untuk Mas Ali.
Semoga rahmat Allah menaungi kita semua.
Ais, Up
-----Original Message-----
From: Ali Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 26 Februari, 1999 16:24
Subject: RE: [Tasawuf] Alquran & Sunnahku
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ahmad Anis wrote:
>Tetapi penjelasan dari saudara Ali tentang hadist lainnya membuat saya
>bertanya-tanya, Apakah/siapakah yang dimaksud Ahlulbait disini dan
>mengapa dipentingkan (setelah AlQuran) oleh Rasulullah?
Memang wajar pertanyaan tersebut karena seperti saya sebut dalam posting
tsb hadist "Alquran dan Ahlubaiku" tersebut sama sekali tidak populer
meski lebih kuat dibandingkan "AlQuran dan Sunnahku".
Siapakah "Ahlulbait"? Saya hanya akan memberikan 2 macam penafsiran
tentang makna ahlulbait sejauh yang saya pahami. Saya akan mencoba
senetral mungkin dalam hal ini.
1. Ahlulbait adalah orang yang telah bertemu diri
Pernah dijelaskan dalam posting pak Imam Suhadi dengan subject "Tahapan
Menuju Allah" bahwa Ahlulbait adalah orang yang sudah bertemu diri.
Dasar argumentasi dll saya kira juga pernah dijelaskan oleh beliau.
Dengan pemahaman ini menurut saya, sebenarnya peringatan nabi agar
umatnya tidak melalaikan Ahlulbait dapat diartikan bahwa Ahlulbait
(baca: orang yang bertemu diri) adalah wujud penjagaan Allah terhadap
Umatnya sepanjang masa. ALQuran dan Ahlulbait tidak mungkin saling
bertentangan satu sama lain. Sebagaimana Al-Quran ada dalam wujud
sebagai kitab maka Orang yang bertemu diri adalah contoh hidup dari
pelaksanaan AlQuran. Orang yang bertemu diri senantiasa mendapat
petunjuk dari Allah. Sebagaimana Muhammad SAAW adalah Quran yang
berjalan maka Ahlulbait adalah Quran yang berjalan seperti juga Muhammad
SAAW meski dalam kapasitas yang berbeda barangkali. Dan diingatkan oleh
nabi bahwa Manusia hendaknya mengikuti Ahlulbait tsb. Ahlulbaitlah yang
mampu menjelaskan makna AlQuran kepada umat manusia. Dalam pemahaman
inipun dipercaya bahwa Keluarga Nabi adalah termasuk di antara ahlulbait
tsb.
Barangkali yang lain bisa lebih baik menjelaskan daripada saya tentang
penafsiran ini.
2. Ahlulbait adalah Keluarga Nabi
Dalam AlQuran, kata 'ahlulbait' disebut dalam 33:33 yang berbunyi:
...... Sesungguhnya Allah sungguh-sungguh berkehendak untuk
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)
Ada hal yang sangat menarik dalam potongan ayat ini, yaitu bahwa ayat
ini berada diantara ayat-ayat yang ditujukan kepada istri-istri nabi,
sehingga beberapa mufassirin beranggapan bahwa ayat tsb ditujukan kepada
istri-istri nabi tsb. Tetapi seperti sering ditunjukkan bahwa AlQuran
memang mengandung kekonsistenan yang luar biasa dalam penggunaan
terminologi kata. Potongan ayat tersebut secara mendadak berubah
menggunakan Gender jamak laki-laki, padahal sebelumnya menggunakan
Gender jamak wanita sehingga kita mengetahui bahwa Allah
meng-address-kan potongan ayat tersebut bukan kepada istri-istri nabi.
(Dalam bahasa arab bila "perempuan banyak dan laki-laki" maka akan
menjadi "banyak laki-laki", sehingga minimal dapat dipahami bahwa
potongan ayat tersebut bukan ditujukan hanya kepada 'istri-istri nabi',
meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa istri-istri nabi termasuk di
dalamnya).
Serta penggunaan double kata "Yuthahirukum tathhira" yang keduanya
berasal dari akar kata yang sama yaitu "Tahir" yang berarti suci. Serta
ada beberapa hal menarik lainnya dari ayat ini seperti "Al-Rijs" dll.
Mungkin lain kali bisa dikorek-korek lagi ayat tsb.
Berikut kita dapat membaca hadist yang menerangkan ayat 33:33 ini biasa
disebut hadist al-Kisaa (hadist kerudung),
Diriwayatkan dari Aisyah (istri nabi): Suatu hari Nabi SAW memakai jubah
hitam yang panjang, kemudian nabi membentangkan jubah tersebut dan
mengerudungi Hasan bin Ali, kemudian memasukkan juga Husain bin Ali,
kemudian Fatimah,
kemudian Ali bin Abi Thalib. Setelah itu Rasulullah mengutip ayat 33:33
tersebut ......."
(Sahih Muslim, bab kemuliaan sahabat, bagian kemuliaan Ahlulbait,
Hadist#61)
Versi lain dari Hadist al-kisaa ini juga ada dalam riwayat lain.
Diriwayatkan dari Umar Ibn Abi Salama, anak Umm Salama (istri nabi),sbb:
Ayat (33:33)" diturunkan kepada nabi SAW di rumah Umm Salama. Pada saat
itu nabi bersama Fatimah, al-Hasan, dan al-Husain, and mengerudungi
mereka dengan jubahnya, dan dia juga mengerudungi Ali yang ada
dibelakang beliau. Kemudian Nabi berkata: "O' Allah! inilah anggota
ahlulbaitku. Jagalah mereka dari ketidaksucian and sucikanlah mereka
sesuci-sucinya. .......
Referensi : Sahih al-Tirmidhi
Dari potongan ayat dan kedua hadist ini Rasulullah menunjukkan kepada
kita siapakah ahlulbait yang dimaksudkan oleh Allah dalam Ayat 33:33
"disucikan sesuci-sucinya" maupun "alquran dan ahlulbait" yang dimaksud
dalam hadist yang saya kutipkan dalam posting saya terdahulu.
Juga dalam hadist berikut dari Anas bin Malik:
Rasulullah SAAW, sejak diturunkannya ayat "Sesungguhnya Allah
(bersungguh-sungguh) berkehendak untuk membersihkan ..... QS 33:33"
hingga 6 bulan sesudahnya, setiap kali waktu sholat telah tiba beliau
berdiri di depan pintu rumah Fatimah dan bersabda "Waktu sholat wahai
Ahlulbait; Tidak diragukan lagi bahwa Allah berkehendak untuk
menghilangkan ketidaksucian dari kalian dan menjadikan kalian murni tak
bernoda"
(Sahih Tirmidzi)
Dalam pemahaman Ahlulbait seperti inipun dipercaya bahwa meski Ahlulbait
dalam ayat-ayat serta hadist tsb menunjuk kepada 5 orang dalam hadist
al-kisa (termasuk Rasulullah SAAW sendiri), maka manusia yang mengikuti
jalan mereka mampu memiliki atribut seperti yang dimiliki kelima jiwa
suci tersebut.
Penjelasan ayat 33:33 seperti di atas konon dapat juga dibaca pada
tafsir Ibnu Katsir.
==========
Gabungan
==========
Bila pak Ahmad menerima kedua penjelasan tersebut sekaligus maka dapat
di artikan bahwa Rasulullah SAAW mengingatkan kita agar mengikuti orang
yang sudah bertemu diri (ahlulbait). Sedangkan Rasulullah SAAW
menunjukkan bahwa orang yang bertemu diri pada zaman Rasulullah hidup
adalah Hasan, Husain Fatimah binti Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib.
Mungkin hal ini paling mudah diterima. Semua mazhab mengakui bahwa
Hasan, Husain, Fatimah dan Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang
mulia. Mungkin ada baiknya pak Ahmad memberikan perhatian yang lebih
kepada orang-orang Ahlulbait tersebut.
>
>Menurut penjelasan yang pernah saya dengar, 'Aali Muhammad' (keluarga
>Nabi) adalah seluruh hamba Allah yang Shalihin. Apakah Ahlulbait ini
>juga adalah 'Aali Muhammad' dalam penjelasan di atas?
Aali Muhammad menunjuk pada Hamba Allah yang shalihin adalah penafsiran
yang saya kira merujuk pada bacaan Attahiyat sholat. Dimana kita
mengucapkan Shalawat & Salam atas Muhammad dan Aali Muhammad, kemudian
mengucapkan Assalaamu 'alaika ayyuhan Nabiiyyu.... Assalaamu Alaina
wa'ala ibadillahis Shalihin. Sehingga dapat dipahami bahwa 'Aali
Muhammad' yang disebutkan di awal tsb kemudian dijelaskan sebagai
'IbadillahisShalihin' pada bacaan berikutnya tentunya dengan pengharapan
agar kita (nahnu) suatu saat termasuk sebagai IbadillahisShalihin tsb
sehingga termasuk sebagai 'Aali Muhammad'. Saya kira pendapat tsb
sah-sah saja.
Tetapi saya cenderung pada pendapat bahwa 'Aali Muhammad' adalah sama
dengan Ahlulbait di atas. Siapakah 'Ahlulbait' sendiri terserah pak
Ahmad mau berpegang pada pendapat 1 & 2 di atas ataupun gabungan
keduanya.
Wallahu 'alam bishowab.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)