Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. Yosep M Yusuf S wrote: > Lalu bagaimana sikap kita terhadap ayat Allah dikaitkan dengan pembantaian > kaum muslim oleh Nashara (sesuai berita langit tsb.), yang menyatakan: > Wa qootiluu fii sabiilillahil ladziina yuqootiluunakum wa laa ta'taduu.... > "Dan bunuhlah mereka di jalan Allah, yaitu orang-orang yang membunuhmu dan > janganlah kamu melebihi batas"? > Siapakah yang dimaksud mereka di sini? Pertanyaan ini yang sulit dijawab dalam kasus kita sekarang. Pada zaman Nabi, musuh itu begitu jelas; Nabi masih hidup sehingga dapat memberi petunjuk dengan jelas siapa mereka itu. Apalagi Nabi turun tangan sendiri memimpin perang. Sekarang keadannya lain. Kita sungguh sulit menentukan yang mana musuh kita YANG SEBENARNYA. Tipuan-tipuan kotor terjadi dalam arus informasi, sehingga kita tidak dapat mengandalkan berita yang sampai kepada kita, baik berita melalui mass-media maupun dari mulut ke mulut. Tahukah anda siapakah yang jujur dan memberi informasi secara akurat tanpa bias, dan bagaimana cara memperoleh informasi itu? Sekiranya anda dapat menangkap makna "di jalan Allah" dalam kutipan ayat di atas, tentu anda dapat menjawabnya. > Apakah orang-orang yang berangkat perang sebelum mendapat petunjuk menjadi > sia-sia, padahal mereka berpegang teguh pada ayat di atas tersebut? > Lalu apakah tindakan kita di sini ketika mendengar saudara-saudara kita > (itupun kalau kita nganggap mereka saudara kita) dibantai karena agamanya > yang sama dengan kita? Okelah, anggap saja kita memperoleh landasan hukum yang kuat untuk membunuh musuh. Tetapi saya ingin bertanya dulu: Pada saat ini, siapakah musuh yang akan kita bunuh, dan ketika kita sampai ke tempat tujuan, bagaimana kita tahu bahwa orang musuh atau bukan sehingga kita tidak salah bunuh? Kita perlu mempertimbangkan bahwa medan perang pada saat ini sangat berbeda dengan kondisi pada zaman Nabi atau di padang Kurusetra [tempat perang Baratayudha], di mana musuh dapat dikenali dengan jelas secara fisik. Tentu kita tidak membayangkan bahwa dalam perang itu nanti, musuh akan berkumpul di suatu lapangan, terpisah dari saudara-saudara kita seperti dalam kisah klasik itu. Apakah salah bunuh itu bukan dosa dan merupakan perbuatan yang "melebihi batas" sebagaimana dimaksud oleh kutipan ayat di atas? Bisa-bisa, maksud kita berbuat kebajikan, tetapi kita ternyata malah melakukan kekejian. Jadi, sebelum jelas permasalahannya, kita perlu terlebih dahulu membuatnya jelas. Oleh karena itulah hingga hari ini _belum_ ada komando: "Serbuuuu.....!" > Lalu bagaimana dengan hadits shahih: > Raja'naa minal jihaadil ashgar ilaa jihadul akbar > "Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar" > Maa hua yaa Rasulullah? > "Apakah yang dimaksud jihad akbar tersebut? > Jihaadun Nafs > "Jihad melawan (hawa) Nafs"?? Kisah itu terjadi ketika semua peperangan fisik selesai. Nabi menganggap bahwa peperangan melawan musuh [di luar diri sendiri] hanyalah jihad kecil. Membunuh musuh di luar sana dianggap masalah kecil. Musuh yang lebih tangguh dan tidak mudah ditundukkan adalah musuh yang ada di dalam diri kita masing-masing: nafsu ammarah. Keinginan untuk dengan segera 'membalas orang Nasrani' itupun merupakan perwujudan dari nafsu ammarah. Kita perlu tahu bahwa Nabi mengobarkan perang bukan berlandaskan nafsu ammarah, melainkan atas dorongan jiwa muthmainnahnya. Nabi Ibrahim menggorok leher puteranya juga atas dorongan yang sama. Demikian pula ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak. Tiada dendam, tiada kebencian, tiada kemarahan, tiada kehendak dari dirinya sendiri. Dalam suatu peperangan, Khalifah(?) Ali sudah mengayunkan pedang dan hampir menebas leher musuhnya yang telah terjatuh, tetapi musuh itu mengejek dan meludahinya hingga bangkit kemarahannya. Ali membatalkan niatnya; musuh itu dibiarkannya pergi. "Aku hanya membunuh karena Allah, bukan karena kemarahanku," jawabnya kepada orang yang mempertanyakan perbuatannya yang mengherankan itu. Ali begitu takut akan dosa, ia takut bertindak ketika sedang marah karena pada saat itu Allah jauh darinya. Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. RS --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
