Assalamu'alaykum wr. wb.
Artikel Pak Narman ini pas sekali untuk menggambarkan tasawuf dari sudut
pandang seorang pejalan. Saya jadi tidak bisa menahan diri untuk memberikan
sedikit intermezzo terhadap aritkel Pak Narman ini.
Dulu saya memandang tasawuf sebagai sesuatu yang tidak logis, mistik,
un-empiric, dsb. Tapi kini saya justru melihat ada suatu struktur logika
yang amat kuat, padu dan syumul justru datang dari pintu tasawuf.
Tasawuf di mata saya, kini justru amat 'logis'. Hanya tentu saja, struktur
logika yang harus dibangun 'berbeda' dengan logika yang kita kenal.
Bagi saya, logika adalah suatu mata rantai pengetahuan yang
sambung-menyambung tanpa terputus. Artinya, sesuatu itu disebut tidak
logis, bila struktur pengetahuan/informasinya tidak runtut dan tidak
sambung-menyambung. Ada mata rantai yang hilang. Ada potongan puzzle yang
keselip.
Tapi bila hal tsb kemudian terjelaskan secara runtut, dan mata rantai yang
hilang itu ditemukan, maka label mistis/gaib/tidak logis itu jadi luruh
dengan sendirinya. Dan pada saat itu, yang disebut logika justru sesuatu
yang tadinya tampak mistis itu.
Pada jaman 'Hercules' , fenomena-fenomena alam mungkin merupakan sesuatu
yang mistis. Karena struktur pengetahuannya belum lengkap, jadilah mereka
mempersepsikan ttg adanya dewa angin, dewa api, dsb. Di masa kini, kita
justru bermain-main dengan itu semua.
Di Eropa abad pertengahan, heliosentris mungkin dipandang sebagai sesuatu
yang mistis dan mustahil dan menubruk norma-norma waktu itu, yaitu
geosentris. Tapi kini kita dengan yakin bisa berkata, bahwa geosentris-lah
yang salah. Bahkan kinipun kita sudah mulai menyadari bahwa tata surya
inipun berputar (bertawaf), bahkan galaksi, bahkan ......
Dan kini, bukankah kita semua sekarang sedang berdiri, hidup dan menikmati
di suatu alam mistis di mata orang-orang terdahulu. Tanpa sadar, kita
justru mendasarkan kehidupan kita di atas ladndasan-landaasan un-empirik
bagi masa silam.
Kemarin saya nonton Doraemon, yang mengisahkan bahwa Doraemon dengan mesin
waktunya mengambil seorang petani Jepang masa silam, untuk hidup di masa
kini. Setelah dikembalikan lagi ke masanya, si petani bercerita bahwa dia
habis dari negeri dewa-dewa.
Saya tidak sedang berdalil dengan Doraemon :), tapi memang kehidupan kita
saat ini adalah kehidupan dewa-dewa bagi orang-orang dulu. Dengan Dewa
Syiwa sebagai pemegang hegemoni :D
Kitapun tak akan bisa memprediksi teknologi seperti apakah yang akan
berkembang di masa depan. Apakah teknologi yang melibatkan perpindahan
elektron, gelombang frekuensi, dsb yang masih akan mendominasi? Atau
teknologi, yang tak pernah terbayangkan dibenak kita saat ini.
Dulu sekali, waktu masih SMA (kalo nggak salah), saya pernah nonton film
StarTrek yang mengisahkan perjumpaan mereka dengan suatu masyarakat yang
demikian tinggi peradabannya. Saking tingginya, mereka sudah tidak
membutuhkan jasad lagi bagi kehidupannya.
Kini saya merenung, bisa jadi arah perkembangan peradaban manusia kelak
adalah menuju ke sesuatu yang kini dipandang gaib dan mistis. Bisa jadi
tasawuf adalah pintunya. Bisa jadi akan muncul istilah teknologi batin,
atau teknologi jiwa, atau lainya. Bukankah Mbak Yani Qoyimah dulu pernah
memuncul istilah Teknologi Al-Qur'an, suatu istilah yang janggal ditelinga
kebanyakan orang saat ini.
Artinya ini, bisa jadi apa yang kini kita pandang tidak logis, justru akan
menjadi logika dan pengetahuan bagi mainstream umat masa depan.
Di Suatu Hadits Qudsi dinyatakan, "Aku adalah Kanzun Makhfiy (harta karun
tersembunyi), Aku rindu untuk dikenali. Karena itu aku ciptakan makhluk
agar aku diketahui".
Pembimbing saya pernah memberikan penjelasan terkait dengan hadits tsb.
Bahwa seharusnya semakin tua usia sejarah kehidupan, semakin jelas pula
kehadiran Allah. Dan tidak ada pengetahuan manusia yang hadir saat ini,
kecuali akan berperan bagi terungkapknya pengetahuan ttg Ilahi.
Artinya, tiadalah waktu akan bergulir, kecuali aspek-aspek Ilahi itu akan
semakin ditampakkan (di-tajali-kan).
Di masa depan, apa yang kini kita pandang sebagai karomah, ma'unah dsb
mungkin akan menjadi suatu disiplin ilmu tertentu. Akan mewujud menjadi
teknologi tertentu. Sebagaimana mursyid kami pernah bilang, yang 'begituan'
itu ibarat kumis bagi seorang pria. Akan menjadi sesuatu kemestian bila
saatnya telah tiba. Tapi ada pula yang memang tidak berbakat untuk memiliki
kumis. Itu tidak masalah, karena tumbuhnya kumis bukanlah hal yang penting.
Yang penting, si pria tsb tetap tumbuh menjadi dewasa, dan semakin paham
akan fenomena kehidupan.
Saat ini, janji-janji Allah akan kejayaan Islam, akan kehadiran Nabi Isa
as, dan Imam Mahdi, munculnya Dajjal, Y'juj Ma'juj, dsb, mungkin tak pernah
terbayangkan bagaimana kejadiannya. Bagi kita itu masih merupakan masalah
gaib. Tapi bagi umat pada saat itu, kehadirannya akan sangat logis.
Allah dengan Al-Latiifnya, selalu berusaha mengajari hambaNya dengan
lembut, smooth dan selalu melalui evolusi. Revolusi bukanlah sifat Allah,
dan itu sudah Allah buktikan sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa intermezzo ini terlalu
diilmiah-ilmiahkan. Rekans... pada akhirnya saya hanya mengajak merenung
untuk menemukan suatu logika, yang terlau sering kita ucapkan, tapi sungguh
kita tak pernah memahaminya. Yaitu logika iman.
Dulu para sahabat sedemikian mengkristal keimanannya. Sedemikian kukuh
maqomatnya Sedemikian tegar iltizamnya kepada Ad-Diin. Sehingga sedemikan
rela untuk berkorban demi Allah dan RasulNya. Apakah kita kira itu muncul
tanpa pengetahuan dan tanpa alur 'logika' ? Sehingga sedemikan yakin mereka
akan janji-janji Allah. Para sahabat sedemian paham akan 'logika'
perjuangan mereka.
Bandingkan dengan kita-kita yang telah mebaca berjilid-jilid kitab sirah
dan hadits. Dan sudah berkali-kali mengkhatamkan Al-Qur'an. Sudahkah hadir
suatu keyakinan yang akan mampu mengantarkan kita kepada alam perjuangan
yang seperti itu? Bila tidak, maka ketahuilah, bahwa itu karena kita tak
memiliki struktur pengetahuan, dan struktur logika tentang iman. Bagi kita
iman itu adalah "percaya", yaitu sejenis Unidentified Flying Object. Sudah
"unidentified", obyek tsb "flying" lagi ;} Bagaimana mungkin kita bisa
memahaminya.
Karena itu bila kita memang ingin menjadikan Rasulullah dan kaum salaf
sebagai tauladan, maka tauladanilah langkah utama mereka, yaitu membangun
struktur pengetahuan.
Rekans... sungguh yang membuat kita merasa aman itu hanyalah pengetahuan.
Imam Ali berkata, "Pengetahuan akan menjagamu". That's real....
Bukankah kini kita merasa aman bila naik pesawat terbang, karena
pengetahuan. Bukankah kita merasa aman seharian didepan layar komputer,
karena pengetahuan. Bukankah kita merasa aman melakukan transaksi
perbankan, karena pengetahuan. Dst.
Dan sungguh... tasawuf (ilmu sirr) adalah suatu pengetahuan. Yang dengannya
kita akan yakin aman, bukan sekedar merasa aman), akan kehidupan dunia dan
akhirat kita.
Itulah parameternya. Apapun yang mengatarkan kita kepada pengetahuan yang
menjaga keamanan kita, itulah tasawuf.
Wassalamu'alaykum wr. wb.
ps: Tapi ngomong-ngomong, untuk apa ini semua ya?? Untuk apa kita memiliki
pengetahuan dan untuk apa kita beriman :)
At 09:13 AM 3/9/99 +0700, R. Sunarman wrote:
>Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
>
>Tulisan berikut rasanya sudah pernah dimunculkan di milis, tetapi
>dalam bahasa Inggris. Kali ini, meskipun belepotan, saya tampilkan
>dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan dapat membuka cakrawala baru
>bagi rekan-rekan yang masih berdiri di luar tasawuf.
>
>Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
>RS
>
>------
>
>Seringkali kita mendengar istilah mistik atau ilmu tasawuf. Bukan
>tak beralasan mengapa di sini dipergunakan kata "ilmu". Penggunaan
>istilah Ilmu Tasawuf dimaksudkan untuk memberi kesan sebagai
>berikut:
>
>(a)
>Ilmu pengetahuan, apapun jenisnya, mistik atau bukan, semuanya
>berakar dari pengalaman empirical. Namun, salah satu perbedaan utama
>antara sains and ilmu tasawuf adalah, ilmu tasawuf mengeksplorasi
>secara ketat pengalaman-pengalaman yang datang dari sumber di luar
>panca indera.
>
>(b)
>Penggunaan instrumen-instrumen berperan penting dalam proses-proses
>ilmu pengetahuan. Dalam sains, instrumen-instrumen (misalnya
>mikroskop, teleskop, akselerator partikel, oscilloscope, gas
>chromatography, seismograf, dll) berkaitan dengan pengalaman panca
>indera yang kita gunakan.
>
>Dalam Ilmu Tasawuf, manusia mempunyai berbagai instrumen internal
>(pikiran, hati, sirr, ruh, dll) yang memungkinkan seseorang, atas
>izin Allah, untuk mengakses pengalaman akan realita di luar
>jangkauan panca indera. Namun instrumen-instrumen internal ini,
>sebagaimana instrumentasi yang lain, harus dikalibrasikan dengan
>baik agar memberi hasil yang dapat dipercaya. Proses kalibrasi ini
>dilakukan di bawah bimbingan seorang guru spiritual [mursyid].
>
>(c)
>Semua bentuk of ilmu pengetahuan berlandaskan pada metodologi
>rekursif untuk membantu para pencari kebenaran dalam memperoleh
>perkiraan yang makin dekat dengan berbagai aspek fenomena kenyataan
>yang dipelajarinya. Metodologi rekursif adalah rangkaian
>langkah-langkah yang diulang-ulang sedemikian rupa hingga hasil dari
>tiap pengulangan dipelajari sebagai umpan balik. Dengan demikian
>langkah eksperimen berikutnya ditentukan oleh hasil yang telah
>dicapai sebelumnya. Tujuan dari aspek rekursif dalam proses ilmiah
>ini adalah agar urutan pengulangan-pengulangan makin menyempit ke
>arah penemuan dalam dimensi kebenaran yang makin dalam mengenai
>obyek yang dipelajari.
>
>Dalam Ilmu Tasawuf, proses dalam metodologi rekursif memainkan peran
>yang fundamental. Pencari kebenaran, di bawah bimbingan guru
>spiritualnya, mengulang-ulang siklus langkah-langkah metodologis
>yang selalu disesuaikan dengan hasil yang diperoleh dari langkah
>sebelumnya. Rekursi atau pengulangan yang demikian, dengan variasi
>tertentu, insya Allah akan mengantarkan pencari kebenaran ke arah
>pemahaman yang lebih mendalam dalam dimension realita lain.
>
>(d)
>Terdapat beberapa aspek dalam ilmu pengetahuan fisik yang
>memanfaatkan kaidah "bersembunyi" yaitu cara mempelajari fenomena
>yang tidak mempengaruhi, mengubah atau merusak obyek yang
>dipelajari. Namun, kebanyakan metode yang diterapkan sains, dalam
>derajat yang berbeda-beda, selalu mempengaeruhi atau mengubah
>proses-proses dan struktur realita yang dipelajari.
>
>Dalam Ilmu Tasawuf, penekanan dilakukan dalam mengupayakan penerapan
>metode "bersembunyi" dalam proses pencarian. Untuk itu pencari harus
>melakukan pekerjaan berat untuk melenyapkan semua penyebab distorsi,
>bias, praduga, pra-anggapan, dll. dari proses pencarian.
>
>Memang, kondisi spiritual pengetahuan adalah cara untuk mengetahui
>suatu realita yang tidak ditengahi oleh konsep, emosi, keyakinan,
>perkiraan, perasaan, atau bahasa. Dengan demikian, dalam satu sisi,
>pengetahuan adalah suatu contoh dari kaidah 'tersembunyi' (lebih
>bersifat kualitatif dari pada kuantitatif) yang tidak memasukkan
>'benda asing' ke dalam suatu realita. Seseorang mengalami suatu
>realita dalam bentuk manifestasi (menyatu dengan obyek) dan bukan
>dalam keadaan terpisah dari obyek.
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)