>From: Muhammad Sigit <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED],Tasawuf <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Tasawuf] Mengapa Tasawuf disebut "Ilmu"
>Date: Tue, 09 Mar 1999 12:09:53 +0700
>
>Assalamu'alaykum wr. wb.
>------ deleted---------
>
>Mungkin ada yang beranggapan bahwa intermezzo ini terlalu
>diilmiah-ilmiahkan. Rekans... pada akhirnya saya hanya mengajak
merenung
>untuk menemukan suatu logika, yang terlau sering kita ucapkan, tapi
sungguh
>kita tak pernah memahaminya. Yaitu logika iman.
>
>Dulu para sahabat sedemikian mengkristal keimanannya. Sedemikian kukuh
>maqomatnya Sedemikian tegar iltizamnya kepada Ad-Diin. Sehingga
sedemikan
>rela untuk berkorban demi Allah dan RasulNya. Apakah kita kira itu
muncul
>tanpa pengetahuan dan tanpa alur 'logika' ? Sehingga sedemikan yakin
mereka
>akan janji-janji Allah. Para sahabat sedemian paham akan 'logika'
>perjuangan mereka.
>
>Bandingkan dengan kita-kita yang telah mebaca berjilid-jilid kitab
sirah
>dan hadits. Dan sudah berkali-kali mengkhatamkan Al-Qur'an. Sudahkah
hadir
>suatu keyakinan yang akan mampu mengantarkan kita kepada alam
perjuangan
>yang seperti itu? Bila tidak, maka ketahuilah, bahwa itu karena kita
tak
>memiliki struktur pengetahuan, dan struktur logika tentang iman. Bagi
kita
>iman itu adalah "percaya", yaitu sejenis Unidentified Flying Object.
Sudah
>"unidentified", obyek tsb "flying" lagi ;} Bagaimana mungkin kita bisa
>memahaminya.
>Karena itu bila kita memang ingin menjadikan Rasulullah dan kaum salaf
>sebagai tauladan, maka tauladanilah langkah utama mereka, yaitu
membangun
>struktur pengetahuan.
>------- deleted--------------
>
Assalamu'alaikum wr wb,
Mas Sigit sebelumnya saya minta maaf, sedikit mengomentari tulisan anda.
Saya melihat bahwa anda sebenarnya mengetahui batasan kemampuan logika
dan filsafat. Mungkin ada baiknya kalau anda merenung kembali akan
keterbatasan segala teori tentang logika dan filsafat.
Permainan logika atau berfikir logis, memang akan membantu dalam tahapan
tertentu untuk mengetahui suatu penomena.
Saya agak risih penekanan anda tentang logika itu sepertinya agak
sedikit berlebih.
Kalau kita ingin menyelam kedalam beneran dengan berbekal logika
kemungkinan besar akan mentok dan hanya menghabiskan waktu saja.
Terlalu banyak sudah produk-produk logika yang dikenal dengan filsafat
misalnya filsafat ketuhanan, filsafat agama, filsafat nilai, filsafat
pendidikan, filsafat manusia, filsafat.. macem-macem lagi, yang
kesemuanya itu tidak mampu menembus dalamnya samudra ma'rifat yang tanpa
batas itu.
Kokohnya keimanan para sahabat dan sholihiin itu menurut saya bukan
hanya karena kepiawaian mereka dalam berlogika, melainkan keimanan
dengan 'penyaksian' yang sempurna. Bukan sekedar pengetahuan untuk itu.
Bisa jadi pemahaman mereka berpola induktif. Yang berawal dari
pengamalan syariah yang sempurna membawa mereka ke alam penyaksian yang
sempurna pula. Dari sinilah mereka memahami segala hakikat yang anda
sebut dengan logika itu walaupun tidak semuanya bisa dibahasakan.
Tapi bila sebaliknya dengan pendekatan deduktif, mungkin hanya akan
membentuk lingkaran-lingkaran imaginer berlapis yang terbatas pada riak
kedalaman samudra itu.
Tapi itu hanya sebuah pendapat....
Maaf kalau sekiranya kurang berkenan.
Sebagai penutup, mari kita renungkan puisi Rumi berikut ini:
----
Ka'bah bagi ruh-ruh dan Jibril; pohon Sidra.
Kiblat orang rakus itulah taplak meja.
Kiblat bagi ma'rifat; cahaya penyatuan dengan Tuhan.
Kiblat akal, filosofi; pikiran yang sia-sia!
Kiblat sang asketik; Tuhan yang murah hati,
Kiblat orang tamak; sebuah dompet yang penuh emas,
Kiblat mereka yang melihat pada makna sejati, adalah kesabaran.
Kiblat mereka yang memuja bentuk, suatu citra dari batu.
Kiblat kaum esoterik adalah Dia, Tuhan Yang Maha Agung.
Kiblat kaum eksoterik tidak lain adalah wajah seorang wanita.
---
Kurang dan lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
BU
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)