Assalamu'alaykum wr. wb.

Terimakasih Mas Budi...
Sejauh pemahaman saya yang dangkal ini, saya tidak melihat pertentangan
antara pendapat Mas  Budi dengan intermezzo saya.
Di milist ini sudah amat sering disampaikan nasihat-nasihat sebagaimana Mas
Budi sampaikan. Janganlah memakai logika akal bawah untuk menyelami samudera
ma'rifat. Sehingga kadang ini banyak membuat orang patah arang.
Tasawuf menjadi sesuatu yang 'eksklusif', sehingga muncullah sebutan mistis.

Memang pada akhirnya, samudera ma'rifat itu, tidak bisa downgrade-kan. Tidak
bisa di desakralisasikan. Tidak bisa disosialisasikan. Orang harus membangun
struktur bangunan tasawufnya sendiri, dengan menjalaninya. (Dan itu
benar-benar atas kehendak Allah).

Sebagaimana nasihat Pak Sunarman, jangan berdiri di pinggir jalan saja.
Berbahaya!! Untung kalo cuman kesamber motor, meski tetap bengep. Gimana
kalau kesamber 'bis', bisa tewas. Bila kesamber 'mobil' bisa cacat.
Pilihannya cuma 2, ikut berjalan, atau pulang saja ke rumah. Karena di rumah
justru lebih aman daripada di berdiri di pinggir jalan.

Untuk rekans yang masih menganggp tasawuf sebagai sesuatu yang 'mistis',
saya menuliskan intermezzo ttg logika. Karena selama ini kita mendefinisikan
logika, hanya sebatas sesuatu proses analisa dan perenungan yang melibatkan
akal bawah. Dalam takaran ini selamanya tasawuf hanya akan dikenal sebagai
sesuatu yang tidak logis.

Tapi kan kenyataannya tidak seperti itu. Bagi para salik, tasawuf justru
amat logis. Tapi logis dalam takaran si akal atas (lub). Intinya, tasawuf
itu adalah sesuatu yang terjelaskan dan terdefinisi juga koq.

Karena itu, terpicu oleh posting Pak Sunarman, bahwa tasawuf itu juga
merupakan suatu 'ilmu', saya mencoba memberikan resultan positif, dengan
mengajak untuk me-redefinisi-kan istilah logika.

Saya berharap rekans tidak melihat posting intermezzo tsb, sebagai suatu
posting yang hanya berbicara ttg logika sebagaimana dipahami masyarakat
umum. Karena berbicara ttg filsafat dan logika, bukan wilayah saya. Meski
masyarakat dan ahli-ahli filsafat sekarang pun, tidak mengenal apa itu
filsafat. Mereka pun tak mengerti, siapa itu sesungguhnya Aristoteles,
Plato, Socrates dsb.

He..he..  :)

Wassalamu'alaykum wr. wb.



-----Original Message-----
From: Budi Utomo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, March 10, 1999 10:58 PM
Subject: Re: [Tasawuf] Mengapa Tasawuf disebut


>
>>From: Muhammad Sigit <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>To: [EMAIL PROTECTED],Tasawuf <[EMAIL PROTECTED]>
>>Subject: Re: [Tasawuf] Mengapa Tasawuf disebut "Ilmu"
>>Date: Tue, 09 Mar 1999 12:09:53 +0700
>>
>>Assalamu'alaykum wr. wb.
>>------ deleted---------
>>
>>Mungkin ada yang beranggapan bahwa intermezzo ini terlalu
>>diilmiah-ilmiahkan. Rekans... pada akhirnya saya hanya mengajak
>merenung
>>untuk menemukan suatu logika, yang terlau sering kita ucapkan, tapi
>sungguh
>>kita tak pernah memahaminya. Yaitu logika iman.
>>
>>Dulu para sahabat sedemikian mengkristal keimanannya. Sedemikian kukuh
>>maqomatnya Sedemikian tegar iltizamnya kepada Ad-Diin. Sehingga
>sedemikan
>>rela untuk berkorban demi Allah dan RasulNya. Apakah kita kira itu
>muncul
>>tanpa pengetahuan dan tanpa alur 'logika' ? Sehingga sedemikan yakin
>mereka
>>akan janji-janji Allah. Para sahabat sedemian paham akan 'logika'
>>perjuangan mereka.
>>
>>Bandingkan dengan kita-kita yang telah mebaca berjilid-jilid kitab
>sirah
>>dan hadits. Dan sudah berkali-kali mengkhatamkan Al-Qur'an. Sudahkah
>hadir
>>suatu keyakinan yang akan mampu mengantarkan kita kepada alam
>perjuangan
>>yang seperti itu? Bila tidak, maka ketahuilah, bahwa itu karena kita
>tak
>>memiliki struktur pengetahuan, dan struktur logika tentang iman. Bagi
>kita
>>iman itu adalah "percaya", yaitu sejenis Unidentified Flying Object.
>Sudah
>>"unidentified", obyek tsb "flying" lagi ;} Bagaimana mungkin kita bisa
>>memahaminya.
>>Karena itu bila kita memang ingin menjadikan Rasulullah dan kaum salaf
>>sebagai tauladan, maka tauladanilah langkah utama mereka, yaitu
>membangun
>>struktur pengetahuan.
>>------- deleted--------------
>>
>
>Assalamu'alaikum wr wb,
>Mas Sigit sebelumnya saya minta maaf, sedikit mengomentari tulisan anda.
>
>Saya melihat bahwa anda sebenarnya mengetahui batasan kemampuan logika
>dan filsafat. Mungkin ada baiknya kalau anda merenung kembali akan
>keterbatasan segala teori tentang logika dan filsafat.
>
>Permainan logika atau berfikir logis, memang akan membantu dalam tahapan
>tertentu untuk mengetahui suatu penomena.
>Saya agak risih penekanan anda tentang logika itu sepertinya agak
>sedikit berlebih.
>
>Kalau kita ingin menyelam kedalam beneran dengan berbekal logika
>kemungkinan besar akan mentok dan hanya menghabiskan waktu saja.
>
>Terlalu banyak sudah produk-produk logika yang dikenal dengan filsafat
>misalnya filsafat ketuhanan, filsafat agama, filsafat nilai, filsafat
>pendidikan, filsafat manusia, filsafat.. macem-macem lagi, yang
>kesemuanya itu tidak mampu menembus dalamnya samudra ma'rifat yang tanpa
>batas itu.
>
>Kokohnya keimanan para sahabat dan sholihiin itu menurut saya bukan
>hanya karena kepiawaian mereka dalam berlogika, melainkan keimanan
>dengan 'penyaksian' yang sempurna. Bukan sekedar pengetahuan untuk itu.
>
>Bisa jadi pemahaman mereka berpola induktif. Yang berawal dari
>pengamalan syariah yang sempurna membawa mereka ke alam penyaksian yang
>sempurna pula. Dari sinilah mereka memahami segala hakikat yang anda
>sebut dengan logika itu walaupun tidak semuanya bisa dibahasakan.
>
>Tapi bila sebaliknya dengan pendekatan deduktif, mungkin hanya akan
>membentuk lingkaran-lingkaran imaginer berlapis yang terbatas pada riak
>kedalaman samudra itu.
>
>Tapi itu hanya sebuah pendapat....
>Maaf kalau sekiranya kurang berkenan.
>Sebagai penutup, mari kita renungkan puisi Rumi berikut ini:
>----
>Ka'bah bagi ruh-ruh dan Jibril; pohon Sidra.
>Kiblat orang rakus itulah taplak meja.
>Kiblat bagi ma'rifat; cahaya penyatuan dengan Tuhan.
>Kiblat akal, filosofi; pikiran yang sia-sia!
>Kiblat sang asketik; Tuhan yang murah hati,
>Kiblat orang tamak; sebuah dompet yang penuh emas,
>Kiblat mereka yang melihat pada makna sejati, adalah kesabaran.
>Kiblat mereka yang memuja bentuk, suatu citra dari batu.
>Kiblat kaum esoterik adalah Dia, Tuhan Yang Maha Agung.
>Kiblat kaum eksoterik tidak lain adalah wajah seorang wanita.
>---
>
>Kurang dan lebih mohon maaf,
>Wassalamu'alaikum wr wb,
>BU
>
>
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke