Yogi Ahmad Erlangga wrote:
 
> Saya mengamati diskusi tentang Mirza Ghulam Ahmad di mailing list ini.
> Saya melihat ada dua kubu yang saling"bertentangan", yang satu mencoba
> membenarkan bahwa MGA seorang Nabi dan al-Mahdi dan yang lain mengatakan
> ia bukan Nabi, melainkan seorang pendusta di kalangan ummat Islam. Mana
> yang benar?

Di sinilah pentingnya peran tasawuf dalam menyelesaikan permasalahan
yang tidak dapat diselesaikan dengan akal semata-mata. Kalau kedua
kubu itu saling ngotot mempertahankan keyakinannya masing-masing,
buntutnya adalah ... perang, sampai salah satu kubu hancur!
Argumentasi berdasarkan akal cenderung ditunggangi oleh anggapan-
anggapan dan kepentingan pribadi. Dengan metode tasawuf, kita
meninggalkan subyektivitas semacam itu. Kita melihat langsung
permasalahannya ... dengan menggunakan mata hati dari jiwa yang
terlebih dahulu disucikan. 
 
> Sulit buat kita, kalau kita berfikir apriori, untuk mengatakan yang
> pertama benar dan yang kedua benar. Bahkan "rasa pedas" pun bisa dikatakan
> asin kalau yang mengatakannya ingin mengajak orang lain mencoba rujaknya
> yang sesungguhnya pedas. Saya pun mungkin cenderung apriori.  
[...]
> Perihal rujak, ada suatu hal semestinya diingat. Jika rujak itu adalah
> Islam dan rasanya pedas waktu disampaikan oleh Nabi, karena dibuat dengan
> cabe 10 butir, gula merah 1 gandu, terasi satu sendok teh, dan asam satu
> biji, maka sampai kapanpun Islam akan terasa pedas. Jika ada yang
> mengatakan agak pedas maka sesungguhnya ia belum berislam. Dan jika ia
> tambahkan 10 butir cabe lagi lalu mengatakan pedas, maka ia berkata dusta,
> karena semsetinya lebih pedas dan yang lebih pedas itu bukan Islam. Jika
> Islam itu pedas maka selamanya akan pedas, tidak akan tidak pedas, agak
> pedas, sangat pedas, apalagi asin!!!!

Uraian anda menunjukkan bahwa anda belum memperoleh informasi yang
cukup bagaimana ujud metode obyektif yang dipakai tasawuf untuk
menemukan suatu kebenaran yang hakiki (kebenaran yang obyektif, 
yang lepas dari semua subyektivitas). 

Kebenaran obyektif yang ditemukan dalam kasus rujak itu adalah rasa
rujak sebagaimana yang dirasakan dan dilihat orang-orang yang
mencicipi. Obyektivitas berhenti sampai di situ, tidak berlanjut 
sampai ke komentar masing-masing orang. Kalau dilanjutkan ke tahap
komentar, maka komentar ini sudah tidak obyektif lagi karena kepekaan
panca indera manusia tidak sama dan tidak stabil. Selain itu,
perkataan itu sendiri mempunyai kelemahan sebagai alat komonikasi: ia
tidak selalu mampu menjelaskan sesuatu dengan jelas. Dapatkan dengan
seribu kata, anda menyusun deskripsi sehingga orang dapat memahami
rasa cabai dengan tepat tanpa harus mencicipinya sendiri? Kondisi
keterbatasan panca indera dan perkataan manusia ini merupakan fakta.
Kelemahan ini perlu disadari, diterima sebagaimana adanya, dan
dicarikan pelengkapnya.

Karena itu, maka dalam dunia fisik kita menciptakan alat-alat ukur
yang dipakai untuk membatu mencapai obyektivitas. Misalnya, beras
dinyatakan banyaknya dengan liter, kg atau ton, bukan sekedar disebut
sedikit, agak banyak dan banyak. Begitu pula sebagai pengganti dingin-
hangat-panas kita menggunakan derajat Celsius. Untuh mengganti
ungkapan panjang-pendek kita gunakan satuan cm, m, km. Untuk mengganti
tawar-sedang-asin kita gunakan satuan % kadar garam, dll.

Dalam dunia metafisik, termasukajaran-ajaran agama, kita tidak dapat
menggunakan alat-alat ukur seperti di atas. Untuk memeriksa kebenaran
suatu ajaran diperlukan alat tersendiri, yaitu hati manusia yang telah
dikalibrasikan dengan menyucian jiwa. Berbeda dengan kebenaran dalam
alam fisik, di sini kebenaran itu tidak bisa dikomunikasikan. Tidak
ada alat potret yang dapat merekam gambarnya, tidak ada tape recorder
untuk merekam suaranya, tidak ada termometer yang dapat menyatakan
berapa derajat suhu neraka, tidak ada alat ukur yang obyektif untuk
menyatakan seberapa nikmat surga itu, tidak ada perkataan yang sanggup
menuturkannya dengan tepat. Semuanya hanya bisa dirasakan langsung 
oleh orang yang ingin mengetahuinya secara obyektif. Selama kita hanya
mengandalkan cerita orang, maka perolehan kita hanyalah ibarat
menangkap cerita orang tentang rasa rujak itu; tidak obyektif.

Jadi, tasawuf bukan dicirikan oleh penjelasan panjang-lebar mengenai
ajaran-ajaran Allah, tetapi lebih memusatkan perhatian pada upaya
mengkalibrasikan hati kita masing-masing agar mampu melihat sendiri
kebenaran ajaran Allah di satu sisi, dan agar mampu menerapkan
ajaran-ajaran itu dengan lebih akurat tanpa bias di sisi lain.

Selain masalah obyektivitas tersebut, masih ada kendala lain yang
menghalangi penyampaian sesuatu pemahaman kepada orang lain. Fakta
yang kita lihat adalah fakta yang telanjang [bertingkat-tingkat: mulai
dari hanya sekedar tidak pakai baju, sampai tanpa penutup sama sekali
alias bugil total]. Di antara ketelanjangan fakta itu, Allah juga
memberi isyarat agar orang yang melihatnya tidak menceritakan
fakta-fakta tertentu kepada orang lain dalam bentuk telanjang. Jadi,
kalau fakta itu hendak dikomunikasikan, ia terlebih dahulu diberi
baju, celana, sepatu, peci dll sepantasnya tergantung dari kepada
siapa fakta itu akan disampaikan. 

Nabi-nabi adalah orang-orang yang diberi kemampuan untuk melihat fakta
telanjang, dan diperintahkan untuk menyampaikan fakta berupa petunjuk
[syariat] kepada umatnya, tetapi isinya berupa kombinasi antara fakta
telanjang dan fakta terbungkus (tersamar). Al Qur'an pun sangat sarat
dengan pengungkapan fakta secara tersamar. Tidak semua orang diijinkan
untuk melihat fakta telanjang di balik fakta-fakta terbungkus.
Perhatikan QS 2:269 berikut.

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang
realita) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang
banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran."

Kalau anda berkeinginan agar dimasukkan ke dalam golongan 'siapa yang
dikehendaki-Nya' pada ayat di atas, salah satu cara ialah menerapkan
tasawuf [gaya hidup sufistik] dalam kehidupan anda.

Ada hal lain yang perlu saya tambahkan. Tidak semua fakta yang dilihat
dalam alam metafisik boleh disampaikan kepada orang lain; fakta itu
cukup dipahami dan diterapkan untuk dirinya sendiri. Untuk memberi
ilustrasi, saya mengacu pada adegan terakhir film seri Kera Sakti yang
diceritakan Mas Rozi. 

Dalam adegan itu, seorang bekas jendral wanita yang kini telah sampai
ke tujuan [kesucian, menjadi Boddisatva], terheran-heran mengapa ia
sudah sampai, sementara Biksu gurunya, yang menunjukkan jalan justru
belum sampai juga setelah waktu berlalu 1, 2, 3 tahun. Ketika hal itu
ditanyakannya kepada Budda, Buddha hanya menjawab dengan cara
BERBISIK-BISIK, sedemikian pelan hingga orang yang diajak bicara harus
mendekatkan telinganya, itupun masih harus dibantu dengan telapak
tangan. Setelah mendengar jawaban itu, orang yang bertanya tertawa
terbahak-bahak berkepanjangan, lalu film tersebut tamat. Penonton film
itu tidak mendengar apa yang diucapkan Buddha dan tidak tahu mengapa
Boddhisatva itu tertawa. Hidup memang kosong. Dalam versi Al Qur'an,
hidup di dunia ini hanya main-main dan senda gurau belaka. Hidup yang
sungguhan adalah di akhirat. [QS 6:32]

Wassalam,
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke