Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Yth.Pak Sunarman,

R. Sunarman wrote:
>
> Kalau pengertian
> saya sendiri, ruh itu adalah Dzat Hidup, ia tidak mengenal dimensi
> tempat. Di mana pun ia berada, kalau ia masih berkehendak memberi
> hidup kepada tubuh itu, maka hiduplah tubuh itu.
>

>Artinya bukan suatu yang mustahil apabila seseorang bermimpi mengunjungi
kota Mekah (walaupun belum pernah kesana), dan tatkala suatu ketika sso
itu menjalankan ibadah haji ke kota Mekah maka dia merasa bahwa beberapa
tempat itu serasa pernah dikunjunginya, jadi apa yang dia lihat dalam
mimpi sebelumnya dibandingkan dengan kenyataan ternyata = sama ??

[wargino:]
Itulah imimpi yang benar.
Menurut pendapat saya mimpi bisa merupakan reply dari pengalaman
hidup,baik yang sudah dijalani maupun yang diangan-angankan dan bisa juga
sebuah 'informasi kebenaran'.

> Mimpi itu merupakan gambaran isyarat-isyarat yang diterima otak selama
> tidur, yang sumbernya bermacam-macam, di antaranya:
>
> Petunjuk dari Allah. Ini yang penting untuk kita kelola dalam
> tasawuf. Seringkali petunjuk Allah (shirathal mustaqim) datang kepada
> kita melalui mimpi. Petunjuk itu bisa berupa perintah/larangan atau
> sekedar info mengenai apa yang teral/sedang/akan terjadi. Nabi Ibrahim
> mendapat petunjuk untuk menyembelih puteranya - melalui mimpi.
> Demikian pula, banyak kasus mimpi sebagai petunjuk dimunculkan di
> dalam Al Qur'an. Nabi Yusuf dikisahkan sebagai ahli takwil mimpi.

>Oh yaa, yang saya pertanyakan mengenai ruh kaitannya dengan mimpi ....
maksudnya adalah mimpi yang merupakan petunjuk dari Allah, ilusi saya
tadinya juga seperti itu bahwa ruh yang tidak mengenal dimensi ruang &
waktu dapat berkelana kemanapun sesuai kehendak Allah ?? Tapi kalau ruh
berkelana meninggalkan jasad apakah tidak mengakibatkan mati ??  Atau
barangkali ruh yang berkelana tetapi nyawa/ jiwa yang tetap tinggal
dengan raga, tapi bingung lagi nih ... apa bedanya ruh dengan nyawa dan
apa bedanya dengan jiwa ?? Apakah itu hanya istilah kata saja atau
bagaimana yang sebenarnya ... akal saya tidak mampu menganalisa hal
tersebut ... alias bingung !!, mohon dibantu.    Walaupun Pak Sunarman
sudah mendapat gaji dari Allah SWT untuk pekerjaan itu, saya yang masih
awam ini tetap nekad mendo'akan, semoga rahmat Allah senantiasa tetap
tercurah kepada bapak dan kita semua amin ... tapi ini tulus lho, bukan
rayuan koq.   Terimakasih penjelasannya, tapi masih haus pak, bolehkan
nambah lagi ... itupun kalau Pak Sunarman berkenan nyuguhin lagi yahh.

[wargino:]
Pertanyaan anda ini memang susah dijawab karena pertanyaan anda itu
menyangkut berbagai aspek atau unsur manusia baik jasadi maupun
unsur ruhani. Selama kita belum memahami unsur-unsur itu sangatlah
sulit untuk memahami mekanisme dan rahasianya.

Pengertian-pengertian semacam itu biasanya dijelaskan oleh seorang
mursyid dengan saliknya secara face to face.
Pemahaman pengertian semacam itu sebenarnya tidak cukup hanya
dengan penjelasan, melainkan disertai laku tertentu sehingga Allah
ridlo membuka salah satu rahasia diri hingga kita mengenalnya.

Barang siapa yang belum mengenal dirinya sendiri, walaupun sudah
dijelaskan oleh seseorang, yang bersangkutan hanya akan memahami
sebagai 'pengetahuan' belaka, tidak lebih dari itu.

Untuk hal-hal yang 'sensitif' mungkin lebih baik anda menemui
seorang mursyid. Walaupun rekan-rekan ada yang tahu maksud anda itu
untuk membahas secara khusus, sepertinya tidak mungkin di jalur ini.
(maaf ini hanya saran lho mas).

Saran kedua, kalau anda belum sempat membaca referensi tentang
definisi ruh,nafs,jiwa,nyawa... mungkin di arsip tasawuf masih ada.
(sekedar menambah pengetahuan).

Untuk sementara yang dapat saya tangkap (kalau tidak salah) dari
kebingungan anda ini nampaknya anda masih rancu memahami arti
'hidup' dan arti 'mati'
(ini mungkin perlu diclearkan dulu) sebelum membahas lebih jauh.
Mas Jaret bilang kalo sudah 'clear' pake hitam siapa takut...hi..hi..

Sekedar bahan pemikiran, ilustrasi di bawah ini (walau jauh dari
kasus yang sesungguhnya) dikarenakan perumpamaan tentang diri
manusia itu susah sekali dicari persamaanya mungkin bisa membantu
kearah yang anda maksud.

KONDISI[1]:
Ada sebuah komputer yang hanya pandai berhitung di saat
komputer sedang 'on' dan di dalamnya ada software hitung.

KONDISI[2]:
Disaat komputernya di-off-kan tentunya komputer tadi tidak bisa
berhitung (apa-apa) lagi.

KONDISI[3]:
Komputernya di-on tapi sofwarenya dikeluarkan, tentu juga tidak
bisa berhitung lagi.

Menurut anda kondisi manakah yang hidup dan mana yang mati?


Ini dulu ya mas, kurang lebih mohon maaf. Nggak usah dipikir
pusing-pusing, lha wong yang kita cari bukan itu kok. Malah kalo
sudah ketemu yang kita cari, hal-hal semacam itu insya Allah mudah sekali.

Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke