Danang Setiawan wrote: > Assalaammu'alaykum wr. wb. > > Kita sudah diangkat oleh-Nya sebagai Khalifatullah (Wakil > Allah) dibumi ini, Cuma, apakah kita semua (umat Islam) "mampu" sebagai Khalifah Allah?Saya rasa, hanya orang yang "beriman" yang mampu melaksanakannya. Yang mampu melaksanakan petunjuk-petunjukNya. > oleh sebab itu kita harus menyuarakan 'aspirasi' Nya yang > tersurat didalam > Alqur'an dan Sunnah-sunnah Nya. Oleh sebab itu kita harus > memilih seseorang > yang benar-benar menyuarakan 'aspirasi' Nya. Al Qur'an dan Sunnah itu bukan hanya tersurat, tapi juga tersirat dan tersembunyi. (ilmunya tidak cukup ditulis dengan delapan lautan sebagai tinta).Bagaimana kita bisa menilai orang (pemimpin) yang bisa menyuarakan 'aspirasi'Nya (petunjukNya)? "Barang siapa yang menjadikan Allah, Rasul dan orang-orang beriman menjadi penolong (pemimpin)nya maka sesungguhnya pengikut Allah itulah yang pasti menang" (Q.S 5 : 56). Jika umat Islam ingin "menang"/beruntung (dunia-akhirat), maka ia harus memilih pemimpin yang benar-benar "beriman". Orang yang beriman tentu saja bukan orang yang "berambisi" duniawi, tetapi hanya mengharapkan Ridlo Allah [menjadikan Allah dan Rasul sebagai penolong/pemimpinnya]. > Dengan sistim pemilu yang > sekarang ini, tidak memungkinkan hal ini terjadi sebab yang > disuarakan > adalah aspirasi rakyat (mahlukNya). Apakah semuanya?Coba kita pikirkan dengan jernih, dan tanyakan pada "hati nurani" masing-masing. Apa yang kita cari dalam hidup ini? -Duniawi/ambisi ataukah Akhirat/Ridlo Allah?- Apa yang kita inginkan terhadap bangsa ini? -Tetap seperti ini (huru-hara, bencana, krisis moral, dll) ataukah menjadi negara yang "baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur" (aman, damai, adil, makmur mendapatkan ampunan dan ridlo Allah)-. Islam adalah sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta (bukan hanya umat Islam saja, bukan manusia saja, tetapi alam semesta). Untuk itu semua kita harus merujuk kepada petunjuk-petunjukNya. Bukan hanya "rekayasa" manusia belaka, yang penuh dengan kekurangan. > Oleh sebab itu, dengan mengikuti Pemilu > sekarang ini berarti kita telah memilih orang-orang yang tidak > jelas, tidak > dikenal, Maka, mintalah petunjukNya, supaya kita tidak "salah pilih". > masih menganggap Pancasila sebagai dasar negara, Apakah Pancasila bertentangan dengan Islam?Lihat sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Adalah ajaran TAUHID, meng-Esa-kan Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah SWT. Janganlah kita memecah belah umat di Indonesia dengan "menyalahkan" Pancasila. > masih berorientasi > kebangsaan, masih memperjuangkan partai (bukan memperjuangkan > kehendakNya). Apakah semuanya? > Saya kira berdosa kita kalau mengikutinya sebab akan menambah > murka-Nya. > Murka Allah sudah kelihatan sekarang, dengan merajalelanya kemaksiatan, huru-hara, timbulnya bencana alam, penyalah gunaan amanat para pemimpin, dll. Dan masalah-masalah di atas sepertinya sulit untuk diatasi.Apakah kita hanya "diam"? > Pada masa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, Khalifah adalah > ditunjuk bukan > dipilih rame-rame. Karena mereka memilih Allah, Rasul dan orang-orang beriman menjadi pemimpinnya. Dan jelas Rasul masih ada atau masih dekat. Para sahabat bertemu langsung dengan Rasul. > Wa'alaykumsalaam wr. wb. >
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
