>| Dalam Petunjuk Umum (Al Qur'an), ada titik-titik yang merupakan kunci dari
>| sebuah tahapan.
>
>Yang dimaksud tahapan di AQ itu mungkin buat saya kurang jelas.
>Hanya saja, yang hendak saya tekankan di sini, adalah bahwa yang
>dijamin Allah diberi petunjuk adalah orang yang beriman. Tapi
>*tidak ada* jaminan bahwa kalau dia tidak/belum beriman maka
>*pasti* baginya tidak akan menerima petunjuk. Di sini, dengan
>rendah hati kita harus berkata, "Wallahu a'lam" Karena itu sudah
>urusannya yang Punya alam ini.

Semua Allah Yang Tahu.
Dan tiada yang manusia ketahui kecuali apa yang Allah izinkan untuk
diketahui oleh seorang hamba.
Terima kasih atas masukannya Mas Istiqfar. Hal ini sangat bermanfaat buat
Abah.

>| Benar Mas Istiqfar. Dalam perjalanan (mencari jalan/wasilah QS 5:35) ini
>| kuncinya Ikhlas. Karena Iblis tidak akan sanggup menyesatkan orang yang
>| Mukhlis (15:39-40)
>He..he..., ini pun mungkin ada sedikit kerancuan mengenai makna
>antara mana yang disebut kunci mana yang disebut sebagai ciri.
>Kunci berbeda dengan ciri. Kunci adalah cara bagaimana mencapai
>sesuatu. Sedangkan ciri adalah *parameter/tolak ukur* bagaimana
>suatu tingkatan kondisi telah tercapai. Tentu saja, tidak ada
>jaminan - sekali lagi - bahwa untuk mencapai kondisi tertentu tsb
>dapat dilakukan dengan meng-emulasi ciri yang disebutkan, karena
>itu dua entitas yang berbeda.
>
>Di AQ, hanya disebutkan syetan tidak bisa mengganggu orang yang
>hatinya ikhlas. Ini - menurut hemat saya - adalah suatu kondisi
>seperti yang di atas itu. Bukan kunci. Karena kita harus telaah

>lagi, bagaimana kondisi ikhlas ini bisa tercapai - yang menurut
>hemat saya lagi - pencapaiannya terjadi secara perlahan, sangat
>sedikit demi sedikit. Di satu waktu kita ikhlas, di waktu lain kita
>belum, sampai porsi ikhlas perlahan lebih besar daripada porsi
>tidak ikhlas kita.

Silakan lihat kasusnya lebih jernih.


>| Allah akan menunjukkan jalan-jalan-Nya, kepada orang-orang yang menuju-Nya.
>Ah saya lupa ayatnya. Di AQ Allah berfirman, yang intinya, adalah
>Carilah olehmu jalan menuju Tuhanmu. Ini biasanya menjadi dalil
>bagi para salik.

Silakan lihat di QS 5:35

>| Jalan tersesebut disediakan oleh Allah. Tidak usah kita berpikir "paling
>| cepat"  karena ingin cepat (ketergesa-gesaan) merupakan salah satu wujud
>| hawa nafsu.
>Betul, memang jalan(-jalan) itu disediakan Allah. Jalan itu memang
>disuruh untuk dicari dengan modal hati dan akal kita. Itulah
>mengapa orang beriman seringkali disebut AQ sebagai orang yang
>beruntung. Lihat juga kisah Isra' Mi'raj mengenai jalan ceritanya
>sampai sholat akhirnya jadi cuma 5 waktu/17 rakaat sehari. 
>"Paling cepat" di sini, bukan karena hawa nafsu, melainkan lebih ke
>"Apa jadinya, kalau saya masih dlm pencarian, ternyata keburu
>meninggal dalam kekufuran - yang bahkan saya sendiri tidak tahu
>bahwa jalan saya itu sebenarnya jalan kufur."  Banyak yang
>mengalami seperti ini. Putar sana, lihat sini, mencari obat
>penenang hati, tahu-tahu terperosok ke pamahaman dan oknum yang
>salah, padahal umur terus bertambah tua...

Untuk itu berpeganglah kepada Petunjuk Umum yaitu Al Qur'an.
Agar tidak terperosok. (sudah dipesankan oleh Nabi SAW).

Ingat Mas Istiqfar.
Seorang dapat keluar dari dosa atau masuk Syurga, bukan sekali-kali
karena amalnya. Kalaulah amal kita ditimbang dengan dosa kita,
seimbang saja itu sudah bagus. 

Seorang dapat keluar dari dosa atau masuk syurga, HANYA karena rahmat Allah.
Terbebasnya seorang dari kekufuran, lalu masuk kedalam iman, itu juga tidak
mutlak disebabkan karena amalnya atau karena metode jalan yang ditempuhnya,
tetapi karena rahmat-Nya, yang diberikan kepada seseorang karena
kemurahan-Nya. (see QS 10:100)

Apabila seorang merasa bahwa dirinya beriman karena amal dan jalan yang
ditempuhnya, bukan karena rahmat atas kemurahan tuhannya, tanpa disadari ia
telah membuat hijab antara dirinya dan tuhannya.

Buat saya sebagai pejalan Tasawuf disebuah thariqah, saya tidak akan
mengatakan jalan saya adalah jalan yang paling benar, sehingga saya harus
mengajak orang-orang mengikuti jalan yang saya tempuh.

Tapi buat saya, yang terpenting adalah bagaimana setiap individu mengerti
bahwa
dalam Al Qur'an (yang sekarang ini masih seperti benang kusut buat saya),
terdapat
panduan jalan tersebut. Jalan yang bersifat umum berlaku untuk semua manusia.
Menganut Agama Islam atau tidak.

Wallahu'alam





---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)





Kirim email ke