>----------
>From:  RUMADI HARTAWAN[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]

>Memang saya pernah dengar-dengar riwayat seperti ini. Dengan adanya
>peristiwa ini, kaum Syiah justru tidak melaksanakan shaum Asyura' dengan
>alasan karena bulan Muharram merupakan hari / bulan perkabungan. 
>Mohon dikoreksi jika salah.
>Wallahu a'lam
>
>> ----------
>> From:        Hendra Nur Arifin[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Kalau tidak salah, pada bulan yang sama, 70 orang rombongan Imam Hussain
>> dijagal ribuan pasukan lain di Karbala ?
> 

Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Maaf, komentar ini memang benar-benar telat.... tapi biarlah daripada
tidak sama-sekali.

Sejauh yang saya ketahui memang benar bahwa kaum syiah tidak dianjurkan
untuk berpuasa pada hari Asyura 10 Muharam tetapi dianjurkan untuk
merasakan haus dan lapar hingga siang hari untuk mengenang peristiwa
Karbala. Pada hari itu tahun 61H, hanya sekitar 51 tahun sepeninggal
Rasulullah SAAW, maka Sayyidina Husein yang sangat dicintai oleh
Rasulullah SAAW telah dibantai dengan kejam oleh pasukan ibnu Ziyad
(gubernur Kufah) atas perintah Yazid bin Muawiyah (khalifah II bani
Umayyah). Kuburan Rasulullah masih basah, dan bumi Karbala telah
dibasahi dengan darah cucu kesayangannya. Shahabat yang masih hidup
ketika itu jelas mengingat Rasulullah SAAW menggendung dan menciumi
Sayyidina Husein, dan saat itu dipaksa melihat kepala Husein diarak dari
kota kekota. Mereka dipaksa melihat kepongahan Yazid dengan tongkatnya
mengetuk-ngetuk bibir di potongan kepala Husein, padahal bibir yang sama
telah diciumi oleh Rasulullah. Mereka dipaksa menyaksikan darah-daging
Rasulullah SAAW dihinakan di depan umatnya. Mereka dipaksa menyaksikan
tubuh Husein tanpa kepala diinjak-injak oleh puluhan bahkan ratusan kuda
pasukan suruhan Yazid. Terlalu banyak kekejaman yang dipertontonkan pada
hari itu untuk bisa diceritakan. Terlalu banyak.......

Orang tidak saja mengenal Husein sebagai cucu Rasulullah SAAW, tetapi
juga mengenal beliau sebagi ulama mulia yang wara' dan sangat dalam
ilmunya. Beliau saat itu sedang dalam perjalanan dari Mekkah ke Kufa
dengan 70 orang shahabatnya (beberapa diantaranya dari generasi
Shahabat) serta keluarga dan anak-anak atas undangan penduduk Kufa
sendiri. Beliau jelas bukan sedang membawa pasukan perang, sehingga
tidak ada seorangpun yang menganggap kejadian Karbala sebagai peperangan
yang seimbang atas 2 pasukan melainkan suatu pembantaian di luar batas
peri kemanusiaan oleh kaum Musyrikin terhadap sekelompok ulama mulia
yang bukan kebetulan dipimpin oleh Cucu Rasulullah SAAW sendiri . 

Orang-orang yang memahami kejadian Karbala pada 10 Muharram ini tidak
mempersoalkan apakah mau puasa Asyura ataupun tidak. Yang lebih penting
adalah pada hari itu ingatlah peristiwa Karbala. Yang lebih penting pada
hari itu janganlah orang islam bersuka-ria seperti orang Yahudi. Yang
lebih penting janganlah menganggap hari itu sebagai hari raya
sebagaimana Ibnu Ziyad yang naik ke atas mimbar Masjid Jami' di Kufa
dengan mempertontonkan kepala 70 Syuhada Kufah di ujung tombak serta
mempermalukan wanita dan anak-anak mereka dan berkata: " Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah yang telah menampakkan kebenaran dan ahlinya,
memenangkan Amirul Mukminin Yazid dan kelompoknya serta membunuh si
pendusta putera si pendusta, Husayn bin Ali dan
pengikut-pengikutnya".....

Yang penting bukan puasa atau tidak puasa, tetapi bagaimana memaknai
hari itu. Saya 100% yakin bahwa Rasulullah SAAW dan semua orang yang
memiliki hati nurani (serta  sadar sejarah) akan bersedih melihat
kebiadaban yang menimpa Ulama sekaligus cucu, darah-daging dan
kesayangan Rasulullah SAAW diperlakukan sangat kejam pada hari itu oleh
kaum musyrikin. Saya tidak mampu membayangkan betapa sakitnya hati
Rasulullah SAAW bila menyaksikan umatnya yang merayakan hari 10 Asyura
dengan bersuka ria sebagaimana yang dicontohkan Ibnu Ziyad. Pada zaman
bani Umayyah memang dibiasakan (barangkali dipaksakan) untuk bergembira
pada hari itu, tetapi apakah layak pada saat ini? 

Dalam perjalanannya menuju Karbala Imam Husayn AS mengungkapkan ucapan
yang menggariskan pendiriannya mengapa beliau melakukan perjalanan yang
sangat berbahaya tersebut: "Sesungguhnya dunia ini telah berubah dan
mengingkari haq, kebenaran telah ditinggalkan, tidak ada lagi yang
tinggal padanya melainkan semut-semut di bekas-bekas makanan.
Demikiannya tandusnya kehidupan sebagai penggembala kehilangan
ternakannya. Tidakkah anda melihat kebenaran dan kenapa tidak
melaksanakannya? Akan tetapi kebatilan dan kejahatan mengapa tidak boleh
dihentikan....untuk menggembirakan seorang beriman dalam pertemuan
dengan Allah... ianya suatu kepastian. Sesungguhnya aku tidak melihat
kematian dan maut yang mendatang melainkan dengan penuh kebahagiaan,
hidupku bersama dengan si zalim bagaikan duri yang menikam serta api
yang membakar. Sesungguhnya manusia telah menjadi hamba dunia dan agama
hanya berputar di lidah-lidah mereka demikian jalan kehidupan yang
dijalani oleh mereka, maka apabila mereka ditimpa dugaan lantas mereka
berkata telah hampirnya kami kepada kematian."

Ulama yang mulia dari mazhab jakfari menganjurkan untuk memperingati
hari itu dengan cara berpuasa setengah hari. Ulama yang mulia dari kaum
sunni memperingatinya dengan berpuasa sepenuh hari, semuanya saya kira
syah-syah saja. Saya kira semuanya dilakukan untuk menghapuskan
kebiasaan biadab bani Umayyah yang mengisi hari itu dengan bersuka-ria
seperti mengadakan pesta dll. Anehnya hingga saat inipun beberapa kyai
yang bebal malah mengadakan pesta (misalnya pesta pernikahan) pada hari
itu.... Apakah tidak ada tersisa sedikitpun pengetahuan sejarah? Apakah
tidak tersisa sedikitpun hati nurani?

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke