Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Menjawab pertanyaan anda tidaklah mudah dan tidak dapat to the point,
karena kemampuan berkesimpulan dan berkeputusan sangat tergantung dari
kearifan tiap pribadi. Kearifan ini ditempa oleh pengalaman.
Bayangkan profesi seorang hakim: sehari-hari ia menghadapi orang-orang
yang bertikai. Kalau orang-orang yang bertikai itu tidak mengatakan
hal-hal yang tidak saling bertentangan, maka profesi itu tidak akan
diperlukan. Ada kalanya keputusan hakim itu memenangkan satu pihak,
ada pula kalanya keputusan itu berupa win-win solution.
Bagi kita, untuk hal-hal yang tidak mendesak [tidak ada urgensinya],
sebaiknya jangan dulu berkesimpulan dan memutuskan apa-apa; biarkan
segala informasi masuk secara alami. Hal ini didasari pada kenyataan
bahwa tiap hari cakrawala kita makin bertambah luas, sehingga
keputusan kita esok akan lebih bijak dari keputusan kita hari ini.
Segala informasi yang masuk kita jadikan bahan untuk menguji dan
menyempurnakan hipotesis yang kita buat.
Dari pengalaman saya, kalau kita dipojokkan pada situasi HARUS
mengambil kesimpulan dan harus mengambil keputusan dari berbagai
informasi yang bertentangan, [seperti kasus hakim di atas] ada dua
cara yang perlu ditempuh:
1. Secara rasional: kumpulkan segala informasi yang ada atau dapat
diadakan sebagai bahan pertimbangan. Gunakan sebuah norma yang
mempunyai otoritas sebadai acuan [Injil, Qur'an, KUHP, peraturan,
kaidah, adat atau perjanjian lain]. Atas dasar itu putuskan dengan
sebaik-baiknya menurut keyakinan anda pada saat itu. Sadari bahwa tak
ada kesimpulan dan keputusan yang tak mengandung kesalahan, dan karena
itu kita tak perlu takut mengambil keputusan. Kalau di kemudian hari
kita menemukan bahwa kesimpulan atau keputusan kita keliru, jangan
malu-malu untuk merevisinya selama hal itu masih mungkin, karena
sebaik apapun keputusan kita buat, keputusan itu tak terlepas pada
posisi sudut pandang kita pada saat yang bersangkutan. Kalaupun kita
berkata bahwa keputusan itu mengacu pada pasal sekian ayat sekian
KUHP, jangan dikira bahwa kita tidak terlepas dari subyektivitas.
2. Secara irrasional [berdasarkan iman]: lakukan hubungan dengan Tuhan
untuk mohon petunjuk dan bimbingan-Nya, sebaik mungkin, sebisa anda,
sekurang-kurangnya dengan doa semakna Al Fatihah. Kalau bimbingan
Allah itu datang, kehendak dan jalan pikiran kita akan tergiring ke
arah tertentu dengan cara-cara yang sulit atau tidak dapat dijelaskan.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
Wawan Djuwarsa wrote:
>
> Alhamdulillah....
> Terima kasih atas penjelasannya (pencerahannya) Pak Sunarman.
> Pelajaran yang bisa saya tarik :
> * Semua pandangan/ pendapat manusia bersifat relatif benar sesuai
> dengan sudut pandangnya (yang mutlak hanya milik Allah)
> * Kita tidak boleh menyalahkan orang lain karena sudut pandangnya
> yang berbeda.
>
> Pertanyaannya adalah ....Mohon maaf ...jika pertanyaannya agak "Error"
> tapi ini saya perlukan...mudah-mudahan tidak bosan..J
> Pada saat kita "HARUS" MENGAMBIL KESIMPULAN atau MENGAMBIL KEPUTUSAN
> dari pandangan pandangan yang relatif "berbeda/ beragam" pertimbangan
> apa yang harus kita ambil sebagai pegangan ?
>
> Wassalam,
> Wawan Djuwarsa
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)