Wawan Djuwarsa wrote:

> Assalamualaikum wr.wb.
> Sehubungan dengan jawaban saudara Istigfar,  tanpa bermaksud menyalahkan
> atau menghujat.... :)   saya tertarik dengan kalimat "mungkin memang
> kebetulan saja".
>
> Saya ingin bertanya kepada pengasuh milis Tasawuf ini atau rekan-rekan
> lain ...Apakah ada PERISTIWA apa pun di dunia ini yang terjadi secara
> KEBETULAN ?
>
> Contoh konkretnya banyaklah kita jumpai ..misalnya "kebetulan saya
> berpapasan" "kebetulan saya terpilih" "kebetulan pas saya
> butuh..barangnya ada" dsb.nya.
>
> Saya pribadi cenderung berpendapat (belum tentu benar..)  TIDAK ADA
> SESUATU YANG TERJADI SECARA KEBETULAN...pasti disitu ada MAHA
> PLANNING..disitu ada "Hikmah" (termasuk kasus yang meninggal dunia
> secara "sehidup semati" ini....selain karena memang sudah takdirnya)
> cuma saya tidak punya "argumen" yang kuat.
>
> Maaf jika kurang berkenan...
>
> Wassalam,
> Wawan Dj.
>
> > -----Original Message-----
> > From: [EMAIL PROTECTED] [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Thursday, April 29, 1999 10:44 PM
> > To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:      Re: [Tasawuf] sehidup semati
> >
> > Assalamu'alaikum,
> >
> > Ada dua kemungkinan (menurut saya):
> > 1. mungkin memang kebetulan saja, dan tidak perlu dikorek-korek
> > kenapa sebabnya
> > 2. mungkin mereka pernah berjanji/berucap entah sengaja/tidak,
> > entah serius/tidak untuk sehidup-semati, yang kemudian menjadi doa
> > yang dikabulkan Allah swt.
> >
> > Hubungannya dengan kesucian cinta? Wah kalau soal ini saya tidak
> > tahu tuh :-)
> >
> > Wassalamu'alaikum,
> >
> > Istiqfar
> >
> >
> > On Wed, 28 Apr 1999 13:33:30 +0700, you wrote:
> >
> > | sahabat saya mengirim berita ibunya meninggal dunia, sorenya ada
> > berita
> > | bahwa ayahnya meninggal dunia.
> >
>

Bismillahirrahmanirrahim
Assalaamu'alaikum wr.wb.

Memang tidak jarang kita mendengar perkataan 'kebetulan', terutama bila
berkenaan dengan hal yang tidak diduga sebelumnya. Tetapi, saya percaya
rekan-rekan di milis ini tidak ada yang mengartikannya seperti pemahaman
orang-orang materialisme. Karena mereka mengatakan bahwa semua kejadian di
alam semesta ini adalah 'kebetulan' belaka, bahkan mereka mengatakan
keberadaan alam semesta ini sendiri merupakan 'kebetulan'. Tentu saja kita
sebagai umat Islam akan menolak pandangan ini karena pandangan tersebut
mempunyai implikasi tiadanya Pencipta alam semesta. Untuk menolak pandangan
ini kita tidak bisa beragumen dengan Al-Qur'an ataupun Hadits, karena
sebagaimana maklum mereka tidak (belum?) mengimani keduanya. Oleh karena
itu, untuk menyanggah mereka, kita memakai argumen yang lain.

Sebelum mengkaji apakah mungkin �kebetulan� bisa terjadi atau tidak, kita
perlu tahu terlebih dahulu pengertian �kebetulan�. Secara umum, �kebetulan�
adalah kejadian yang tidak dimaksud/ dituju atau tidak direncanakan/diatur
sebelumnya. �Kebetulan� adalah lawan dari �keberaturan�, sebab keberaturan
akan melahirkan kesamaan akibat (lihat posting saya: �Apa artinya ada?�),
sedang �kebetulan� tidak akan pernah melahirkan kesamaan.

Bagaimana mereka (penganut paham materialisme) sampai pada kesimpulan
tiadanya penciptaan, berikut ini adalah argumentasi mereka:

1.'Kebetulan', dapat dilihat dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya seseorang
hendak pergi berbelanja kepasar dan secara 'kebetulan' ditengah jalan
bertemu dengan kawannya yang sudah lama tidak dilihatnya, dan
kejadian-kejadian lain yang semacam. Kejadian-kejadian tersebut tidak bisa
diingkari kenyataannya dan semua itu adalah kebetulan-kebetulan yang
faktual.

2.Pada semua benda yang tidak mempunyai rasa dan pikiran, bagaimana mungkin
benda-benda itu melakukan aktivitas dan gerakan mereka dengan tujuan?
Bukankah semua yang terjadi atas benda-benda itu adalah tanpa tujuan, yang
berati tanpa perencanaan? Maka dengan demikian, mengapa alam ini tidak bisa
dikatakan terjadi tanpa perencanaan alias terjadi dengan kebetulan?

3. Dalam fenomena alam, bisa dilihat banyak terjadi kehancuran, kematian,
kesengsaraan dan penderitaan yang sudah tentu semuanya itu bukan merupakan
tujuan natur (benda-benda) itu. Bila demikian, mengapa tidak bisa dikatakan
bahwa segala macam kebaikan dan manfaat yang ada pada natur itu juga tidak
dituju olehnya, sehingga hal itu menjadi bukti bahwa semua kejadian yang
menimpa natur tersebut adalah kebetulan? Sebab tidak ditujunya sesuatu oleh
natur berarti tidak direncanakan, dan tidak direncanakan berarti adalah
kebetulan.

4. Sering bisa dilihat adanya natur (benda) yang mengakibatkan banyak
akibat. Padahal yang menjadi azas sistem sebab-akibat adalah adanya hubungan
(ikatan) yang erat (asasi) antara sebab dan akibatnya sehingga tidak
memungkinkan adanya satu natur mengakibatkan lebih dari satu akibat. Maka
dengan demikian terbuktilah bahwa semua fenomena terjadi secara �kebetulan�.
(Argumen ini merupakan penyanggahan mereka atas adanya sistem sebab-akibat
pada alam semesta).

Dengan sekurang-kurangnya 4 argumen di atas, mereka (penganut paham
materialisme) kemudian mengingkari penciptaan dan mengingkari adanya
Pencipta.

Disini kita akan menjawab satu persatu argumentasi mereka berdasarkan dalil
atau kaidah sebab-akibat dan keberaturan. Kita mulai dari argumentasi mereka
yang ke 1.

Kalau kita perhatikan di sekeliling kita, semua kejadian-kejadian �mungkin�
yang tidak wajib dan tidak terlarang (mengenai keberadaan/kejadian yang
mungkin, wajib dan terlarang, lihat posting saya: Apa artinya ada?), dapat
dibedakan menjadi 4 kelompok yaitu: selalu, sering, jarang dan sama
(fifty-fifty), baik pada sesuatu yang mempunyai rasa (keinginan) maupun
tidak. Pada sesuatu yang mempunyai rasa masih bisa dibedakan lagi yakni:
yang mengetahui dan tidak mengetahui.

Sekarang kita akan meneliti satu persatu dari 4 kelompok kejadian mungkin di
atas, kita mulai dengan kejadian �selalu�.

Kejadian-kejadian �selalu� dan tidak pernah berubah banyak kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya buah padi kalau ditanam dan kemudian tumbuh,
maka akan selalu menumbuhkan pohon padi. Begitu juga dengan tumbuhan
lainnya. Benih tumbuhan itu selalu menumbuhkan pohon yang sama (segolongan)
dengan masing-masing benihnya. Kejadian-kejadian yang bersifat �selalu� ini
bisa kita ambil dari kejadian-kejadian alam yang lain. Misalnya, air akan
selalu menguap pada suhu dan tekanan tertentu; api akan selalu padam dalam
keadaan tertentu bila terkena air, manusia selalu akan pandai kalau rajin
belajar, jika mempunyai kecerdasan cukup tinggi dan tidak ada aral
melintang. Dari fakta kejadian-kejadian �selalu� tersebut, kita akan dapat
menyimpulkan bahwa tidak mungkin �kebetulan� bisa terjadi pada
kejadian-kejadian �selalu�. Sebab :

I. Kejadian-kejadian �selalu� mempunyai sebab tertentu yang secara umum
sama. Sehingga kejadian-kejadian �selalu� mempunyai pemandu arah, yaitu
sebabnya. Dengan demikian, kejadian-kejadian �selalu� tersebut dituju oleh
suatu wujud, baik wujud itu mempunyai rasa dan keinginan yang kemudian
menginginkannya, ataupun wujud itu tidak mempunyai rasa dan tidak
menginginkannya. Dan kita dapat memahami bahwa menuju adalah lawan dari
kebetulan.

II. Sebab yang sama yang �selalu� mengakibatkan suatu akibat yang sama
merupakan pertanda dari adanya keberaturan alam semesta. Maka dari itu kita
mempunyai rumusan berpikir karenanya. Seperti setiap ada akibat pasti ada
sebab yang kemudian berkembang menjadi: dua tambah dua sama dengan empat;
dengan otopsi seorang dokter dapat meraba bahkan memastikan penyebab
kematian seseorang; bila terdengar jeritan minta tolong, kita akan tahu
bahwa ada orang yang memerlukan bantuan. Sekarang coba kita bayangkan,
seandainya tidak ada keberaturan dalam alam ini, mungkinkah semua contoh di
atas bisa terjadi? Tentu tidak. Yang terjadi adalah seorang psikiater akan
berkata bahwa orang yang ceria dan bahagia itu karena terbakarnya rumah,
istri, orang tua dan anaknya, sehingga siapa saja yang ingin bahagia
hendaknya membakar mereka; seorang dokter akan minum racun untuk
menyembuhkan tangannya yang keseleo atau salah urat; seorang suami akan
menjauhi istrinya manakala dia menginginkan keturunan dan lain sebagainya.
Walhasil dunia ini akan rusak. Tak ada nilai, pegangan, ukuran dan etika.
Dan, itulah yang akan terjadi bila tidak ada keberaturan dalam alam raya
ini, baik yang mempunyai rasa dan keinginan maupun tidak. Dengan demikian,
maka semua kejadian �selalu� sudah diatur oleh sebab lengkapnya. Dan kita
dapat memahami bahwa keberaturan yang demikian itu sangat bertentangan
dengan pengertian kebetulan, sebab kebetulan adalah kejadian yang tidak
disengaja atau tidak diatur sebelumnya.

III. Kalau kita melempar tiga batu sebanyak lima kali lemparan yang kita
lempar begitu saja, maka kita akan mendapati letak ketiga batu hasil
lemparan kita itu tidak sama. Kalau kita lakukan seribu lemparanpun sulit
untuk mencari kesamaan letak ketiga batu-batu itu. Karena kita akan
kesulitan untuk menyamakan tekanan lemparan, ketinggian lemparan, jatuhnya
lemparan, posisi batu saat melempar dan lain-lain yang berfungsi sebagai
sebab hakiki dari letak batu. Kalau mencari dua kesamaan diantara seribu
lemparan saja sudah sangat sulit, kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin,
(adanya kesamaan tersebut akan menandakan adanya �kebetulan� yaitu kebetulan
sama, karena pada contoh ini batunya dilempar begitu saja tanpa
perencanaan), maka jelaslah bahwa kejadian-kejadian �selalu� yang sudah
tentu selalu sama dan tidak berubah pasti tidak terjadi secara kebetulan.
Dan, itulah yang dinamakan keberaturan.

Setelah kita membuktikan bahwa kejadian �selalu� tidak mungkin terjadi
secara kebetulan, sekarang kita akan meneliti kelompok berikutnya yaitu
kejadian �sering�.

Kejadian-kejadian �sering� juga bisa kita jumpai dalam kehidupan kita
sehari-hari. Misalnya, jumlah jari bayi yang dilahirkan �sering� berjumlah
lima jari pada masing-masing tangannya. Atau orang yang pergi kepasar,
seringnya sampai dipasar. �Sering� tentu saja bukan �selalu�, sehingga
kadangkala seorang bayi dilahirkan mempunyai empat atau enam jari. Atau
kadangkala orang yang pergi kepasar tidak sampai kepasar karena bertemu
teman dijalan, kecelakaan dan lain-lain. Kejadian-kejadian �sering� ini
dapat kita temui sebanyak-banyaknya dalam kejadian-kejadian alam dan isinya.
Tetapi bila kita renungkan lebih dalam, maka masalahnya akan menjadi lain.
Sebab, kejadian-kejadian �sering� dikatakan sering karena kita menghubungkan
suatu kejadian tidak pada sebab hakikinya. Seperti contoh di atas, lima jari
pada bayi dikatakan sering karena kita menghubungkannya pada proses kejadian
janin secara umum. Sehingga karena banyak mengakibatkan lima jari, maka
dikatakan bahwa akibat (kejadian) semacam itu tergolong kedalam
kejadian-kejadian �sering�. Tetapi kalau kita hubungkan lima jari itu pada
sebab hakikinya, yaitu janin atau bibit yang dalam keadaan tertentu sehingga
hanya mampu menerima akibat berupa lima jari, maka kejadian-kejadian atau
akibat-akibat yang bakal timbul tidak akan pernah lain. Jelasnya, bayi yang
akan lahir nanti selalu mempunyai lima jari. (contoh semacam lima jari ini
bisa diambil juga dari terjadinya bibir sumbing).

Demikian juga halnya dengan orang yang pergi kepasar. Kalau kita hubungkan
kejadian itu (sampainya dipasar) dengan pergi dan keinginannya, gerak dan
lain-lain serta tiadanya halangan dijalan, maka pasti orang itu akan
mencapai pasar. Jadi, kejadian-kejadian �sering� akan tergolong kedalam
kejadian-kejadian �selalu� kalau kita tidak salah menghubungkan suatu
kejadian atau akibat dengan sebab hakikinya. Dengan demikian maka
�kebetulan� tidak akan terjadi pada kejadian �sering� yang mana pada
hakekatnya adalah kejadian �selalu� juga.

Setelah kita membuktikan bahwa kejadian �sering� tidak mungkin terjadi
secara kebetulan, sekarang kita akan meneliti kelompok berikutnya lagi yaitu
kejadian �jarang�.

Kejadian-kejadian �jarang� juga nampak jelas dalam kehidupan kita
sehari-hari. Seperti empat atau enam jari (ataupun bibir sumbing) pada bayi.
Atau perjumpaan seseorang dengan temannya ditengah jalan ketika pergi
kepasar, sebagaimana dicontohkan oleh kaum materialisme di atas.

Untuk mengetahui apakah kejadian-kejadian �jarang� terjadi dengan
�kebetulan�, kita perlu menegetahui  lebih dahulu apa yang disebut dengan
kejadian �jarang� tersebut. Kalau kita perhatikan kembali penjelasan
kejadian-kejadian �sering� di atas, maka akan nampak jelas kedudukan/posisi
kejadian-kejadian �jarang� ini.

Sekali lagi, sebenarnya kejadian-kejadian dikatakan �jarang� karena kita
menghubungkan suatu kejadian dengan sesuatu yang bukan sebab hakikinya
ataupun menghubungkannya dengan sebab yang bersifat lebih umum. Misalnya
penghubungan empat atau enam jari pada proses janin secara umum. Tetapi bila
empat atau enam jari dihubungkan dengan sebab hakikinya, yaitu janin yang
mempunyai keadaan tertentu yang tidak mungkin menerima lima jari, bahkan
hanya mampu menerima empat atau enam jari maka bayi yang akan terbentuk
dalam perut ibunya pasti akan mempunyai empat atau enam jari. Dengan
demikian kalau ada bayi-bayi lain mempunyai keadaan sebab yang sama dengan
bayi yang berjari empat atau enam tersebut, maka bayi-bayi itu tidak akan
pernah lahir kecuali mempunyai empat atau enam jari.

Begitu juga halnya dengan orang yang bertemu temannnya ditengah jalan ketika
sedang menuju pasar. Kalau kita hubungkan kejadian itu dengan sebab
hakikinya, yaitu wujud gerak pelaku yang menuju ke pasar yang bersimpangan
dengan gerak temannya, maka kedua gerak mereka pasti bertemu disuatu titik.
Sehingga seandainya kepergian orang itu diulang seribu kali dengan syarat
bersimpangan dengan gerak temannya, maka hasil dari gerak yang akan dicapai,
tanpa diragukan lagi, adalah pertemuan dengan temannya tersebut. Jadi
pertemuan itu bukan suatu kebetulan.

Dari kedua contoh di atas maka dengan mudah dapat kita katakan bahwa
kejadian-kejadian itu terjadi karena �aturan� wujud. Sebab kejadian-kjadian
itu tidak akan terjadi kecuali seirama dengan sebab hakikinya. Dan yang
demikian itu adalah jelas bukan �kebetulan� sebagaimana yang
diduga/dipercayai oleh mereka (kaum materialisme).

Mungkin dengan penjelasan ini mereka masih belum puas dan mengatakan bahwa
pada contoh kedua itu masih terjadi dengan �kebetulan�. Sebab pertemuan itu
tidak dituju atau diingini, sementara �kebetulan� bisa berarti tidak dingini
atau direncanakan sebelumnya.

Sepintas perkataan mereka ini ada benarnya  tetapi kalau kita perhatikan
lebih seksama, sebenarnya pertemuan itu diinginkan secara tidak langsung.
Karena kaidah sebab-akibat mengatakan bahwa � sebabnya sebab adalah sebab
bagi suatu akibat�. Misalnya zat makanan yang menyebabkan adanya mani adalah
sebab pula bagi adanya bayi walaupun zat makanan tersebut berada pada
beberapa tingkat sebelum bayi. Karena bayi disebabkan oleh daging, dan
daging disebabkan  oleh darah, dan darah disebabkan pertemuan mani dan ovum,
dan mani itu sendiri disebabkan oleh zat makanan tersebut. Dengan penjelasan
ini maka tidak bisa dikatakan bahwa pertemuan itu tidak dituju atau
diinginkan. Sebab pertemuan itu disebabkan oleh dua gerak yang bersilang,
sedang gerak bersilang itu masih disebabkan oleh keinginan  kedua pelaku
gerak tersebut.

Setelah kita membuktikan bahwa kejadian-kejadian �selalu�, �sering� dan
�jarang� tidak mungkin terjadi secara �kebetulan�, sekarang kita akan
meneliti kelompok terakhir yaitu kejadian �fifty-fifty�. Dengan
penjelasan-penjelasan sebelumnya di atas, maka kejadian-kejadian
�sama/fifty-fifty� seperti berdiri dan duduknya seseorang misalnya, tidak
diragukan lagi adalah termasuk kejadian-kejadian �selalu�. Sebab,
kejadian-kejadian �sama� kalau kita hubungkan dengan sebab hakikinya maka
akan menjadi jelas bahwa ia adalah kejadian-kejadian �selalu� yang tidak
akan pernah berubah alias kejadian seratus persen.

Dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan sbb:
1. Semua kejadian adalah �kejadian selalu�,
2. �Kejadian selalu� tidak mungkin terjadi tanpa sebab yang pasti dan sama,
3. Kesamaan sebab dan akibat menunjukkan adanya �keberaturan� dalam
kejadian-kejadian tersebut,
4. Adanya �keberaturan� menandakan adanya Sang Pengatur yaitu Sang Pencipta
atau Tuhan.
5. �Kejadian selalu� sangat bertentangan dengan �kebetulan� dalam segala
maknanya.

Dengan kesimpulan ini maka untuk sementara selesai sudah sanggahan kita
terhadap argumen mereka yang ke 1. Dan, insya Allah akan dilanjutkan lagi
untuk sanggahan argumen yang ke 2 mereka.

Alhamdulillah Robbul �Alamin
Wassalaamu�alaikum wr.wb.




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke