Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Aduh pak Agus Haryono, anda ternyata menyimpan banyak sekali kisah
orang-orang sederhana yang ternyata malah sangat mudah mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Saya iri berat kepada orang-orang begini.
Kalau mendengar penjelasan pak Wargino serta juga beberapa orang lainnya di
milis lain memang rada mengecilkan hati bagi orang yang sudah terlanjur
ruwet dengan teori-teori (seperti saya :-). Pak Wargino mengatakan
diantaranya sbb: "Orang yang sederhana begini ini biasanya mulus sekali
jalannya untuk menggapai tangan Ilahi. Lain halnya dengan orang yang suka
berteori ruwet ...."
Tapi untungnya dulu ada penjelasan yang rada membesarkan hati dari Abah
Hilmy bahwa segala teori yang ruwet-ruwet itu merupakan gelas yang akan
menampung kucuran air iman dari Allah SWT. Orang yang tidak ber-teori ruwet
gelasnya akan kecil sehingga tidakmampu menampung banyak air Iman.
Insyaallah kita yang sudah ruwet ini nantinya akan kegedean gelas sehingga
tersungkur juga dan Insyaallah gelas kita sudah besaaar sehingga akan
menampung banyak air Iman sehingga mampu lebih banyak menghasilkan amal
salih. Abah Hilmy mengatakan diantaranya sbb;
"PENGETAHUAN = gelas
IMAN = air yang mengisi gelas
Semakin besar gelasnya, maka akan semakin banyak air yang dapat
ditampungnya.
Untuk itulah selalu kita terus bekali diri kita dengan PENGETAHUAN. Agar
semakin besar gelas iman kita. Air ketika diminum oleh manusia, jadilah ia
energi.
Energi untuk berbuat AMAL DAN SHALIH."
Kalau mengutip kata Gepeng Srimulat dulu "Untung ada Abah..... hehehe..,
jadi saya tidak terlalu berkecil hati"
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> ----------
> From: Agus Haryono[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Wednesday, 7 July 1999 13:29
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Tasawuf] Terserah Tuhan
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Judulnya "Terserah Tuhan".
>
> Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Qur'an dan Hadist.
> Bahkan, juga kitab Kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam
> hidupnya. Ia pun datang pada pak Kiai, mohon petunjuk.
> "Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata pak Kiai. "Pergilah kamu pada
> Kamin."
> Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang Bakso. Tahu apa tukang
> Bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng,"
> pikirnya.
> "Tidak, saya serius, Nak," kata pak Kiai.
> Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul pak Kiai, sambil minta
> maaf atas gendeng-nya tadi.
> Tapi, mengapa Kamin? ia masih penasaran. Tentu saja, pak Kiai bermaksud
> baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung?
> Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin. Tak ada yang
> istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras.
> Anak-anaknya dikerhkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok
> kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk.
> Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan
> rumahnya itu, melayani pembeli.
> Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan
> serasi. Pembeli berjejal.
> Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung
> kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup
> tentram.
> hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat., lebih dalam.
> Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu
> pendiam. Ia bicara sedikit.
> "Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi.
> "Saya serahkan hidup ini pada Tuhan,' jawabnya, polos.
> "Warung anda maju. Apa rahasianya?"
> "Tidak ada. Semua terserah Tuhan."
> "Anak-anak Anada sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?"
> "Semua saya serahkan Tuhan."
> "Maksudnya?"
> "Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau
> tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan Maha Pengatur. Jadi, semua
> terserah Tuhan."
> Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko
> menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh
> sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. Kamin, si tukang bakso ini,
> iman dan dakwahnya juga murni, dan total.
> Hardi sujud. Bijaksana pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam
> Kamin itu, yang belum dimilkinya selam ini.
>
> Wassalamu'alaikum wr.wb.
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)