Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Posting dari Pak Agus Haryono sangat menyentuh hati saya ....
betapa ketulusan/ keikhlasan/ kepasrahan kepada Allah SWT (Sang Maha
Pengatur) telah melahirkan ketenteraman dalam kehidupannya yang penuh
dengan rakhmat, berkah, dan karunia-NYA. Betapa naifnya diri saya
yang telah mendzolimi diri sendiri, dan kalau meminta kepada Allah
selalu mendiktekan keinginan-keinginan diri sendiri .... Ya Allah,
ampunilah diri hamba-MU ini.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Edy W +++
Agus Haryono wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Judulnya "Terserah Tuhan".
>
> Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Qur'an dan Hadist.
> Bahkan, juga kitab Kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam
> hidupnya. Ia pun datang pada pak Kiai, mohon petunjuk.
> "Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata pak Kiai. "Pergilah kamu pada
> Kamin."
> Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang Bakso. Tahu apa tukang
> Bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng,"
> pikirnya.
> "Tidak, saya serius, Nak," kata pak Kiai.
> Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul pak Kiai, sambil minta
> maaf atas gendeng-nya tadi.
> Tapi, mengapa Kamin? ia masih penasaran. Tentu saja, pak Kiai bermaksud
> baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung?
> Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin. Tak ada yang
> istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras.
> Anak-anaknya dikerhkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok
> kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk.
> Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan
> rumahnya itu, melayani pembeli.
> Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan
> serasi. Pembeli berjejal.
> Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung
> kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup
> tentram.
> hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat., lebih dalam.
> Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu
> pendiam. Ia bicara sedikit.
> "Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi.
> "Saya serahkan hidup ini pada Tuhan,' jawabnya, polos.
> "Warung anda maju. Apa rahasianya?"
> "Tidak ada. Semua terserah Tuhan."
> "Anak-anak Anada sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?"
> "Semua saya serahkan Tuhan."
> "Maksudnya?"
> "Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau
> tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan Maha Pengatur. Jadi, semua
> terserah Tuhan."
> Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko
> menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh
> sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. Kamin, si tukang bakso ini,
> iman dan dakwahnya juga murni, dan total.
> Hardi sujud. Bijaksana pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam
> Kamin itu, yang belum dimilkinya selam ini.
>
> Wassalamu'alaikum wr.wb.
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)