Assalaamu'alaykum ww.

Jaret Imani wrote:

> Adakah cara, wahai pak Sunarman yth, mensimplifikasi cara memandang sesuatu sehingga 
>tidak hanya sekedar dengan akal (rasional) semata namun juga dengan hati (spiritual). 
>Namun tanpa terjebak dalam perangkap spekulasi dan syirik.

Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari spekulasi: "Come and
see it for yourself." Namun, bagi anda yang masih enggan untuk
berangkat sendiri, saya sampaikan pendapat pribadi sbb:

Abah Hilmy dalam setiap postingnya memasang banner: "Maha Suci Engkau,
tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32) Ini memberi isyarat bahwa pengetahuan yang kita
miliki sangat tergantung kepada kemurahan Tuhan, meskipun tak terlepas
pula dari upaya kita sendiri. Biarpun kita banyak melihat, membaca dan
mendengar, kita tetap saja tidak mengetahui apa-apa bila Dia tidak
mengajarkannya kepada kita dengan membukakan hikmah ke dalam hati
saniubari kita. Karena itu, dalam belajar, hendaklah kita merendah di
hadapan Allah dan memohon agar Dia berkenan mengucurkan hikmah kepada
kita. 

Saran saya bagi anda semua di tingkat intermediate [bukan pemula dalam
agama, baik yang belum maupun sudah menjalani tarekat], tempatkan
semua file informasi yang kita peroleh di dalam satu folder yang
diberi nama "For Verification" di dalam kepala anda; jangan buru-buru
di-delete karena tidak cocok dengan pandangan atau pola pikir anda,
jangan pula diterima hanya karena masuk akal. Logikanya, ukuran folder
itu akan terus membengkak sebelum anda melakukan verifikasi dan
memindakkannya ke folder lain atau menghapusnya. Tetapi kenyataannya,
cepat atau lambat, satu demi satu isi folder itu akan pindah ke folder
"Accepted", pindah ke folder "Rejected" atau hilang terhapus sendiri.
Siapa yang melakukannya? Allah melalui tangan-tangan ghaib-Nya! Jadi
jangan terlalu resah bila anda mengalami konflik atau keraguan, karena
ini merupakan tahapan yang wajar dalam proses belajar.

> Wah...ketahuan nih "tidak tahunya" :-)

Jangan khawatir. Mereka yang sudah mencebur ke dalam samudra
pengetahuan ilahi, banyak melihat, mendengar dan merasakan, justru
berkata bahwa mereka hanya tahu sangat sedikit, bahkan berkata 'Tidak
tahu apa-apa' hingga tak berani mengambil kesimpulan, baik dalam hati
maupun dengan perkataan. Ini kelihatannya tidak masuk akal; orang
belajar tetapi berakhir dengan 'tidak tahu'. Namun hal ini mungkin
dapat dimengeri melalui pepatah "Ibarat padi, makin berisi makin
merunduk."

Wassalaamu'alaykum ww.
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke