Assalaamu 'alaikum wr. wb.

----Original message----
From: Ali Abidin 
Date: Mon, 12 Jul 1999 15:10:25 -0700 

>     1. Masih tentang makanan, dalam fiqh islam biasanya ikan serta seluruh hewan
>     laut dianggap halal (artinya pasti mengandung energi spiritual yang baik?).
>     Tetapi dalam beberapa tarekat dianjurkan untuk tidak memakan hewan air yang
>     tidak bersisik seperti Cumi, Lele, Belut, Ikan Pari(?)  dll. Bagaimana
>     menurut pak Sunarman? Apakah hewan-hewan tak bersisik ini mengandung energi
>     spiritual yang buruk juga sehingga menarik bahan yang buruk dari dunia
>     astral?

Setahu saya, energi metafisik negatif pada makanan itu makin tinggi
pada makanan yang posisinya makin tinggi dalam rantai makanan. Rantai
makanan itu dimulai dengan tumbuh-tumbuhan, kemudian hewan herbivora,
hewan omnivora, dan hewan karnivora. Di perairan, rantai itu adalah:
phytoplankton, zooplankton, ikan kecil, ikan agak kecil, ... ikan
besar; tetapi ini tidak selalu pas karena ada ikan besar yang
herbivora. Ikan-ikan yang anda sebut dan kebetulan tak bersisik itu
termasuk karnivora; energi metafisik negatifnya cukup tinggi.

Fiqih itu terletak dalam dataran syariat. Ibarat obat, ia adalah jamu
tradisional atau obat generik yang dapat dengan mudah diperoleh di
toko-toko obat atau apotik tanpa resep; sedangkan tarekat itu seperti
obat resep yang hanya boleh dibeli dan dipakai dalam cara dan takaran
yang ditetapkan dokter. Dokter memberi resep setelah meneliti dengan
saksama keadaan yang spesifik pada pasien yang bersangkutan. Jadi
resep itu belum tentu cocok untuk semua orang. Penisilin tentu tidak
akan diberikan kepada orang yang alergi. 

Tugas mursyid tak jauh bedanya dari dokter. Siapapun akan mudah
mengakui bahwa menjadi vegetarian akan menjadikan orang lebih sehat
jasmani dan ruhaninya, tetapi pantang makan daging hewan bukanlah
satu-satunya cara untuk membersihkan jiwa. Dokter jiwa di wilayah dan
waktu tertentu tidak akan memakai resep itu jika di situ tidak cukup
tersedia sayur-sayuran dan buah-buahan. Orang yang sehari-hari harus
bekerja dengan energi fisik yang tinggi, baginya tidak mungkin ada
larangan yang ketat untuk tidak makan hewan, tetapi mungkin saja
dibatasi pada hewan herbivora, susu dan telur. Merupakan tugas mursyid
untuk menetapkan diet seorang salik tertentu, yang disesuaikan dengan
keadaan salik itu secara menyeluruh. Manusia adalah susunan beraneka
ragam energi yang sangat kompleks. Dengan meneliti susunan energi yang
ada pada seseorang, dikaitkan dengan pola input dan output energi itu,
mursyid dapat menyusun cara manipulasi yang tepat agar energi orang
itu secara kumulatif bersifat positif.

>     2. Pertanyaan lain seputar tubuh astral. Aura kama dalam tulisan ini yaitu
>     bagian dari tubuh astral yang menonjol keluar dari tubuh fisik dapat
>     mencerminkan ketinggian spriritual pemiliknya. Barangkali jika makam
>     ruhaninya masih rendah maka auranya seperti kera atau babi dll :-). Tubuh
>     Astral di sini dibahas seakan bahwa disinilah terlihat tingkatan jiwa dari
>     sang pemilik. Apakah memang ini yang digunakan oleh Mursyid untuk menilai
>     tingkatan jiwa seorang salik?

Ya, tetapi hanya salah satunya. Masih banyak parameter lain yang dapat
dipakai untuk menilai tingkatan jiwa seseorang.

>     Barangkali ada gunanya juga ya berjalan-jalan di alam astral, siapa tahu
>     bisa melihat orang dengan makam ruhani yang tinggi. Di buku-buku serta juga
>     di situs tertentu banyak dibahas tentang OBE (Out of Body Experience) yang
>     konon dengan bermacam metoda mampu membuat tubuh astral keluar dari tubuh
>     fisik. Bagaimana menurut pak Sunarman tentang hal ini apakah ada gunanya
>     mempelajari trik-trik semacam ini? (hehehe..... Pak NHA pasti kesenengan
>     dengan pertanyaan ini :-0 ).

Tasawuf Islam menganjurkan agar kita tidak melatih kemampuan OBE
sebagai upaya terpisah. Kemampuan itu harus dibiarkan muncul dengan
sendirinya ketika seorang salik sudah mencapai derajat kebersihan jiwa
tertentu. Mengapa begitu? Kalau orang sudah bisa OBE padahal jiwanya
masih kotor, bisa-bisa ia menggunakan kemampuannya itu untuk ngintip
orang mandi ... :-) atau bahkan untuk melakukan kejahatan.

>     Di dalam tulisan ini juga disebutkan bahwa orang yang melakukan kegiatan
>     pelayanan (amalan sosial?) akan mampu terus memperbaiki keadaan tubuh
>     astralnya.

Pernyataan ini menandung nilai universal; semua agama menganjurkan
kegiatan pelayanan itu, apapun alasan yang dikemukakannya. Amalan
sosial termasuk dalam pelayanan, tetapi pelayanan itu mencakup semua
pekerjaan baik fisik maupun metafisik yang lebih luas demi
kesejahteraan manusia khususnya dan perbaikan alam semesta pada
umumnya: Menyingkirkan batu di jalan, mengingatkan orang yang lupa,
mendoakan orang lain, shalat berjamaah, ... menjadi administrator
milis :-)

>     3. Pertanyaan berikutnya sekedar masalah asosiasi. Apakah kita dapat
>     dibenarkan mengasosiasikan "Tubuh astral" dalam pandangan theosofi dengan
>     "Jiwa" dalam pandangan Al-Ghazali? Lebih jauh juga mengasosiasikan "Tubuh
>     Pikiran" dengan "Ruh"?

Yang pertama benar: tubuh astral memang jiwa, tetapi tubuh pikiran
juga jiwa; keduanya hanya merupakan tubuh atau kendaraan yang dipakai
oleh Ruh untuk berekspresi; bukan Ruh itu sendiri.  

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke