Assalaamu 'alaikum wr. wb. Pak Sunarman yang saya hormati, Alhamdulillah saya akhirnya selesai membaca tulisan yang sangat menarik tersebut. Banyak pertanyaan yang mencuat dalam benak saya, saya berharap pak Sunarman bersedia menjawab beberapa beberapa pertanyaan sbb: 1. Masih tentang makanan, dalam fiqh islam biasanya ikan serta seluruh hewan laut dianggap halal (artinya pasti mengandung energi spiritual yang baik?). Tetapi dalam beberapa tarekat dianjurkan untuk tidak memakan hewan air yang tidak bersisik seperti Cumi, Lele, Belut, Ikan Pari(?) dll. Bagaimana menurut pak Sunarman? Apakah hewan-hewan tak bersisik ini mengandung energi spiritual yang buruk juga sehingga menarik bahan yang buruk dari dunia astral? 2. Pertanyaan lain seputar tubuh astral. Aura kama dalam tulisan ini yaitu bagian dari tubuh astral yang menonjol keluar dari tubuh fisik dapat mencerminkan ketinggian spriritual pemiliknya. Barangkali jika makam ruhaninya masih rendah maka auranya seperti kera atau babi dll :-). Tubuh Astral di sini dibahas seakan bahwa disinilah terlihat tingkatan jiwa dari sang pemilik. Apakah memang ini yang digunakan oleh Mursyid untuk menilai tingkatan jiwa seorang salik? Barangkali ada gunanya juga ya berjalan-jalan di alam astral, siapa tahu bisa melihat orang dengan makam ruhani yang tinggi. Di buku-buku serta juga di situs tertentu banyak dibahas tentang OBE (Out of Body Experience) yang konon dengan bermacam metoda mampu membuat tubuh astral keluar dari tubuh fisik. Bagaimana menurut pak Sunarman tentang hal ini apakah ada gunanya mempelajari trik-trik semacam ini? (hehehe..... Pak NHA pasti kesenengan dengan pertanyaan ini :-0 ). Di dalam tulisan ini juga disebutkan bahwa orang yang melakukan kegiatan pelayanan (amalan sosial?) akan mampu terus memperbaiki keadaan tubuh astralnya. 3. Pertanyaan berikutnya sekedar masalah asosiasi. Apakah kita dapat dibenarkan mengasosiasikan "Tubuh astral" dalam pandangan theosofi dengan "Jiwa" dalam pandangan Al-Ghazali? Lebih jauh juga mengasosiasikan "Tubuh Pikiran" dengan "Ruh"? Jazakumullahu khairan katsira. Wassalaamu 'alaikum wr. wb. > ---------- > From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Tuesday, 6 July 1999 10:35 > To: Tasawuf > Subject: Re: [Tasawuf] Pandangan Theosofi mengenai tubuh manusia > > Assalaamu'alaikum Wr. Wb. > > Someone yang ingin namanya tidak disebut, menulis: > > > Pertama saya tertarik pada makanan, mungkin Pak sunarman banyak > pengetahuan selain terjemahan tersebut, didalam terjemahan tersebut > disebutkan bahwa ada makanan 'murni' dan tidak murni. Mungkin Pak Sunarman > bisa menjelaskan kepada saya tentang hal tersebut dilihat dari apanya. > Bila dilihat dari yang paling kecil, menurut pengetahuan saya semua benda > yang saya bisa saya lihat bahannya sama yaitu atam, atau inti dikelilingi > oleh elektron kata para ahli atau yang saya terima dari sekolah dulu, > kemudian besarnya atau apanya ya inti sehingga mempengaruhi banyaknya > elektron yang mengililingi. Kemudian atam-atam tersebut bergabung-gabung > satu sama lain dengan suatu energi tertun katanya. Sehingga yang ada > adalah ada materi dan enegi. > > Dan kemudian orang makan, hanya mengambil energi yang mengikat-ikat > atam-atom tsb. dan mengambil sedikit unsur-unsur yang di perlukan tubuh. > > Apa bedanya makanan yang datang dari yang hewan atau tumbuh-tumbuhan, > apakah energinya yang dari tumbuh-tumbuhan masih murni, atau gimana ya ? > > ------ > Dalam pandangan orang awam, makanan hanya dilihat dari energi fisik > yang dihasilkannya, tetapi kalangan spiritual memperhatikan pula > energi spiritual yang dibawa makanan itu. Makanan yang murni adalah > yang mengandung energi spiritual yang mendorong orang untuk melakukan > perbuatan positif, sedangkan makanan yang tidak murni menimbulkan > dorongan untuk melakukan tindakan yang tidak membangun. Menurut > kalangan Theosofi, golongan makanan tak murni adalah daging atau darah > binatang, minuman yang memabokkan, dan sayuran yang ofensif (cabai, > lada, bawang merah dll.) Konon, makanan yang paling murni secara > spiritual adalah tanaman yang ditanam > sendiri. > > Ada suatu kisah, seorang petani membajak sawah sambil mendendangkan > lagu cinta kepada anak-anak dan isterinya. [Ini untuk menggambarkan > dedikasi yang tulus dari petani itu kepada keluarganya ketika > melakukan pekerjaan]. Akibatnya, hasil panen petani itu menghasilkan > rasa cinta kasih dalam hati keluarganya. Biarpun hasilnya sedikit, > keluarganya puas. > Kisah lain: seorang isteri memasak makanan untuk keluarganya dalam > keadaan terbenam di dalam rasa kasih sayang kepada anak dan suaminya. > Maka masakannya, meskipun rasanya sedikit ngalor-ngidul, menimbulkan > rasa puas pada keluarganya. > Dari kedua kisah itu kita dapat mengambil analogi: bagaimana kalau > kita, orang Islam, sambil bekerja mencurahkkan dedikasi pekerjaan itu > demi Allah... > > > > Oya ada lagi, ini dipandang dari sudut Islam, apa bedanya hewan yang di > sembelih dengan nama Alloh dengan hanya yang mati biasa apanya yang > membedakan, atau energinya juga atau apanya atau ?. > --- > Energi fisiknya sama. Energi spiritualnya lain. Penyebutan nama Allah > ketika menyembelih hewan itu menetralkan energi buruk yang merupakan > bawaan dari hewan. > > > > Lagi Pak, makanan yang dibeli dengan uang haram dengan makanan yang di > beli dengan uang halal padahal makanannya halal bila dilihat dari hukum > Islam, dilihat dari apanya juga. > --- > Energi fisiknya sama. Energi spiritualnya lain. Energi buruk yang > berasal dari uang haram menyatu dengan makanan yang dibeli dengan uang > itu. Ketika dimakan, energi buruk itu akan menyatu dengan orang yang > memakannya. Bukan hanya makanan; apapun yang dibeli dengan uang haram > itu seolah-olah api yang siap membakar apa saja. > Untungnya, energi buruk dari uang haram itu dapat hilang bila uang > tersebut atau benda-benda yang dibeli dengannya - disedekahkan tanpa > pamrih. > Konon, sebagian sufi melakukan kegiatan 'pemutihan' itu. Mereka > membujuk para koruptor, perampok, penipu, pemeras dll untuk > menyerahkan hartanya untuk dipakai demi kemaslahatan umat manusia > tanpa mereka sendiri turut menikmati se-sen pun. > > > Seperti hewan korban, apa hubungan antara hewan kurban dengan yang > berkorban, bila sekedar korban dan tidak ada hubungan apa-apa hewan korban > dengan yang berkorban, mengapa tidak memakai uang atau apasaja yang > diperlukan oleh orang miskin. Atau hanya sekedar taat kepada perintah, > tetapi tidak tahu apa maksudnya. Bila saya amati orang-orang yang > berkorban pasti memikirkan uang, misalnya berapa harga sapi, kambing, dll. > --- > Seperti kita ketahui, sasaran kurban tidak sama dengan sedekah. > Sedekah dipakai untuk membersihkan [menetralkan energi negatif pada] > rezki (harta) yang kita peroleh, sedangkan kurban dimaksudkan untuk > membersihkan [menetralkan energi negatif pada] jiwa orang yang > mempersembahkan hewan korban. > > Wassalaamu'alaikum Wr. Wb. > RS > > > --------------------------------------------------------------------- > Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] > Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] > Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] > Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P) > > > > > --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
