Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Yth. Pak Ahmad Fauzi, tulisan pertamanya cukup telak menyentuh keadaan
sekeliling kita, marilah kita mencoba mengamati kehidupan kita dalam
peradaban materialistik seperti saat sekarang ini, dimana hampir segala
fasilitas diberbagai sektor hanya dapat diakses dengan sejumlah nilai
uang tertentu, tanpa itu "no away" katanya ...
Jadi kasihan dong orang miskin tidak akan pernah dapat menikmati
fasilitas tersebut, apakah fasilitas pendidikan, fasilitas papan,
fasilitas kesehatan dan fasilitas lainnya, nah kalau toh mereka punya
keinginan-keinginan seperti itu yah terpaksa dapatnya hanya mbatin saja
lha wong ora duwe duit koq.
Lalu ikhtiar dan upaya-upaya secara phisik (dengan bekerja giat) guna
mewujudkan keinginannya agar anak-anaknya dapat menikmati fasilitas
pendidikan yang memadai, membuatnya terkesan ngoyo (nuansa materialistik
seakan mewarnai kehidupannya) demi tuntutan hidupnya. Dan disisi lain
keinginan hatinya untuk menapaki jalan yang lurus menuju ridha Allah SWT
juga sangat dirindukannya, terbukti begitu tingginya kesadarannya untuk
mendirikan shalat malam diiringi dzikir yang panjang untuk menggapai
ridho-NYA.
Betapa pola kehidupan yang demikian telah menimbulkan konflik bathin
yang membuat kegalauan dihatinya, bagaimana ini mas koq ora koyo "Kang
Sejo" yang begitu tulus, ikhlas, sabar dan nrimo ing pandum seraya
nyebut Duh Gusti ...
Kalau sudah begini bagaimana dan apa yang harus dilakukannya ?
Mengejar kebutuhan fasilitas kebutuhan hidupnya tidak juga ampai-sampai,
menapaki jalan yang lurus menuju Allah SWT tidak juga sampai-sampai, hal
ini benar-benar membuat frustasi/ stres berat dalam hidupnya, mohon
nasihat pada "TULISAN KEDUA" barangkali ada kiat-kiat khusus untuk
menyiasati keadaan ini, ben ora stres ya mas, matur nuwun.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Edy W +++
Ahmad Fauzi wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Spiritualisme dalam peradaban materialistik;
> sebuah konflik batin
>
> Kesadaran kepada pencapaian nilai-nilai spiritual memang diyakini sebagai
> sebuah bagian yang integral dalam Islam. Islam tidak hanya mengajarkan
> ibadah-ibadah sebagai sebuah praktek dzahir semata, tapi juga nilai-nilai
> ruh yang terkandung didalamnya.
>
> Pencapaian nilai-nilai yang sifatnya batiniah seperti ini terasa
> jauh lebih sulit dibandingkan pelaksanaannya secara lahiriah.
> Terlebih di peradaban modern sekarang, di mana segala sesuatu diciptakan
> dan dinilai berdasarkan kebutuhan materi semata. Rasionalitas dan
> empirisme menjadi senjata yang sangat ampuh bagi tujuan ini.
>
> Bagaimana mungkin kita mencapai nilai-nilai ruh tersebut sementara dalam
> kehidupan sehari-hari kita kebenaran hanya diukur dengan rasio semata.
> Kebenaran hanya bisa diterima ketika ia terdeteksi oleh indera, logis, dan
> dapat dihitung secara matematis.
>
> Fenomena rasional-empirik seperti ini juga terasa di wilayah agama. Banyak
> orang tidak dapat menerima praktek-praktek ibadah yang terasa "tidak
> masuk akal" yang biasanya bersifat mistis. Akhirnya penjabaran
> ajaran-ajaran agama sangat bersifat tekstual/skripturalistik.
>
> Kesadaran untuk mencapai nilai ruhiah dan keharusan untuk "hidup terus" di
> bumi dengan peradaban materialisnya dapat membawa konflik yang
> "membatin" pada orang-orang tertentu. Keinginan untuk mentransendenkan jiwa
> namun tetap "membumikan" raga kadang terasa sebagai sebuah paradoks. Dan
> pada akhirnya sebuah kegalauan spiritual. Ini kadang mengakibatkan
> keputusasaan yang mendalam.
>
> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)