Assalamu'alaikum wr. wb.
Spiritualisme dalam peradaban materialistik;
sebuah konflik batin
Kesadaran kepada pencapaian nilai-nilai spiritual memang diyakini sebagai
sebuah bagian yang integral dalam Islam. Islam tidak hanya mengajarkan
ibadah-ibadah sebagai sebuah praktek dzahir semata, tapi juga nilai-nilai
ruh yang terkandung didalamnya.
Pencapaian nilai-nilai yang sifatnya batiniah seperti ini terasa
jauh lebih sulit dibandingkan pelaksanaannya secara lahiriah.
Terlebih di peradaban modern sekarang, di mana segala sesuatu diciptakan
dan dinilai berdasarkan kebutuhan materi semata. Rasionalitas dan
empirisme menjadi senjata yang sangat ampuh bagi tujuan ini.
Bagaimana mungkin kita mencapai nilai-nilai ruh tersebut sementara dalam
kehidupan sehari-hari kita kebenaran hanya diukur dengan rasio semata.
Kebenaran hanya bisa diterima ketika ia terdeteksi oleh indera, logis, dan
dapat dihitung secara matematis.
Fenomena rasional-empirik seperti ini juga terasa di wilayah agama. Banyak
orang tidak dapat menerima praktek-praktek ibadah yang terasa "tidak
masuk akal" yang biasanya bersifat mistis. Akhirnya penjabaran
ajaran-ajaran agama sangat bersifat tekstual/skripturalistik.
Kesadaran untuk mencapai nilai ruhiah dan keharusan untuk "hidup terus" di
bumi dengan peradaban materialisnya dapat membawa konflik yang
"membatin" pada orang-orang tertentu. Keinginan untuk mentransendenkan jiwa
namun tetap "membumikan" raga kadang terasa sebagai sebuah paradoks. Dan
pada akhirnya sebuah kegalauan spiritual. Ini kadang mengakibatkan
keputusasaan yang mendalam.
Assalamu'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)