Assalaamu'alaykum ww.

Leo Yuliawan wrote:

> 1.      Bagaimana pandangan kaum theosophy mengenai tujuan hidup di dunia ini? Dan 
>bagaimana kaitannya dengan konsep reinkarnasi?
 
> 2.      Tasawuf mengajarkan penyucian tubuh, jiwa, nafs hingga akhirnya ruh suci 
>kita bisa bertemu (liqa') Allah swt. kelak di akhirat dengan sebaik-baiknya 
>pertemuan. Apa akhir perjalanan yang ditempuh oleh kaum theosophy? Bagaimana konsep 
>akhirat menurut mereka? Sepertinya kok tidak ada suatu pengadilan agung yang 
>memutuskan semua waktu dan ruang. (Maksud saya...sepertinya kehidupan tubuh (?) 
>selalu berputar melalui konsep reinkarnasi tak terputuskan oleh suatu akhir zaman / 
>kiamat?)

Tujuan hidup kaum teosofi adalah kesempurnaan jiwa (kehendak,
pikiran). Menurut mereka, hidup di dunia harus dimanfaatkan untuk
menyempurnakan atau memurnikan jiwa, yaitu dengan menjalankan pola
kehidupan dan perilaku yang baik. Menjalani hidup sebagai pelayan
[bagi kemanusiaan] adalah yang terbaik. Kita tak dapat menyangkal
bahwa hal ini bersesuaian dengan tasawuf.

Sebagaimana diuraikan dalam "Manusia dan Tubuhnya", reinkarnasi adalah
bersatunya unsur fisik, astral dan pikiran sehingga membentuk manusia
baru melalui kelahiran, sebagai kendaraan baru bagi 'Aku' (Ruh) untuk
berekspresi (berkarya) di dunia. Unsur pembentuk itu tidak harus
berupa materi yang sama dari kehidupan terdahulu; sintesa baru ini
boleh dikata terbentuk secara acak dari materi fisik, astral dan
pikiran yang ada di alam semesta. Itu adalah reinkarnasi total. Di
samping itu ada istilah inkarnasi, yaitu proses perubahan wujud,
bagian kecil dari siklus reinkarnasi. 

Di alam fisik kita mengenal inkarnasi air: air yang ada di muka bumi
ini berinkarnasi menjadi uap; uap itu di awang-awang berinkarnasi
menjadi awan; awan menjadi hujan; hujan menjadi telaga, sungai, air
terjun, danau, air sumur, laut dll. Selain itu air juga berinkarnasi
melalui proses-proses biologis: air kita minum, kemudian sebagian
berinkarnasi menjadi keringat dan air seni; air seni membasahi tanah,
diserap oleh tumbuh-tumbuhan menjadi air di dalam rumput, rumput
dimakan ayam dan air itupun masuk ke dalam ayam; kalau ayam itu
disembelih, dimasak dan kita makan, air itu kembali ke dalam tubuh
kita. Siklus air yang sudah saya sederhanakan itu hanyalah salah satu
unsur fisik yang terlibat dalam proses reinkarnasi. Saya belum
menyebut unsur padatan, gas, ether, benda astral dan benda pikiran
yang juga terlibat dalam siklus-siklus inkarnasi yang sulit untuk
digambarkan sekaligus.

Masalah 'bertemu' dengan Allah, kaum teosofi menyatakan bahwa Allah
itu immaterial sehingga kita tidak dapat 'mak jegagik' bertemu muka
dengan-Nya. Pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik, melainkan lebih
merupakan berimpitnya sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat Allah.

Akhirat atau hari kemudian dipandang sebagai 'akibat' dari kehidupan
sekarang. Dalam dimensi waktu, dihitung dari saat ini, bisa saja
terjadi beberapa menit kemudian, beberapa jam kemudian, beberapa hari,
minggu, bulan, tahun, abad, milenium kemudian; bisa juga diartikan
sebagai kehidupan pada inkarnasi mendatang. Ini berbeda dengan
pemahaman kita yang menanggap akhirat sebagai masa setelah kita mati
[dan tak akan pernah hidup lagi].

Kiamat diartikan sebagai akhir dari suatu eksistensi [perwujudan].
Besok adalah kiamat bagi hari ini; lusa adalah kiamat bagi besok. Uap
adalah kiamat bagi air, awan adalah kiamat bagi uap; hujan adalah
kiamat bagi awan. Suka adalah kiamat bagi duka; duka adalah kiamat
bagi suka. Mati adalah kiamat bagi hidup; hidup adalah kiamat bagi
mati. Kiamat bagi abad dan milenium ini akan terjadi pada awal
1-Jan-2000.

Dalam Islam, kita diberi gambaran yang menakutkan mengenai kiamat itu,
karena dengan datangnya kiamat, kita sudah putus hubungan dengan tubuh
fisik, kita tidak dapat lagi menggunakannya sebagai kendaraan untuk
berbuat amal kebaikan yang kita perlukan dalam rangka membina tubuh
astral dan pikiran; kesempatan untuk berbuat itu sudah lenyap tatkala
tubuh fisik kita mati. Bila kita baru menyesal atas perbuatan kita
yang kurang baik pada saat menjelang ajal, kita sudah kehilangan
kesempatan untuk membina tubuh astral dan pikiran kita. Dalam teosofi,
tubuh astral dan pikiran ini hanya bisa dimurnikan selama kita hidup
di dunia. Jadi, kalau kalau hidup ini kita sia-siakan untuk berlalu
begitu saja tanpa berhasil membina jiwa, hidup kita sungguh rugi -- di
sini terdapat kesamaan antara pandangan tasawuf dan teosofi.

Teosofi tidak melihat adanya hari pengadilan; yang mereka lihat mirip
dengan itu adalah hubungan sebab-akibat sebagai hukum yang sangat
adil, mengadili manusia tanpa perlu 'sidang pengadilan'. Suatu
perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan, perbuatan buruk
menghasilkan keburukan -- bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Kehidupan yang buruk hingga jiwa ini mengalami perkembangan negatif,
akan menyebabkan 'neraka' atau penderitaan yang lebih berat pada
kehidupan mendatang. Tanpa ada sidang pengadilan pun, 'hukuman' itu
sudah merupakan konsekuensi yang otomatis. Begitu pun sebaliknya,
'pahala' tidak perlu diputuskan dalam sidang; orang yang banyak
melakukan kebaikan akan diganjar langsung dengan kesenangan [sorga],
di masa kini dan/atau masa mendatang tergantung kasusnya. Kaitan
semacam ini tampak jelas dalam pandangan tasawuf dan teosofi.

Kalau masih belum jelas, jangan segan-segan bertanya meskipun tidak
selalu bisa dijawab.

Wassalaamu'alaykum ww
RS

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke