On Fri, 7 Jan 2005 20:12:24 +0700, Firman Pribadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > pliss deh juga *kata saya* > apa itu defnisi media awam disini, saya koq jadi ikutan nimbrung itu > karena bingung, gak ada pegangan, cuma ada kibot. jadi saya tanya > lewat ketikan...
Saya lagi sadar bahwa mail group ini memang berisi kumpulan hacker. Jadi wajar lah kalau bentuk tanggapannya kayak gini. Termasuk minta definisi yang pasti. Yang dimaksud dengan awam itu media yang bersifat general, atau tidak general tapi di luar scope / kekhususan bidang yang kita bahas. Jadi nggak usah ngebahas nantinya "Infolinux juga awam soal biologi molekular". Eh, tuh kan, saya yang jadi gokil. Trus siapa tuh, sohib yang nulis "nggak bisa jadi pakar, soalnya nenek aku udah meninggal". Good point. Aku abis baca buku "Insiden anjing di tengah malam yang bikin penasaran". Buku itu abis kurang dari 3 jam (sambil makan, bikin report, dan jalan sebentar). Anda2 pasti juga doyan buku itu. Jalan pikiran tokohnya mirip Anda2 semua :). "Dilarang menginjak rumput." Rumput yang mana? Di semua taman? Di seluruh dunia? "Dilarang mencampuri urusan orang lain" Mana bisa hidup tanpa interaksi dengan kebutuhan orang lain. Dst. Typical penghuni mail group ini deh :). > ini dalam pandangan saya _yang masih butuh koreksi_, sebetulnya > se-berat apapun bahasa yang digunakan dalam media untuk menyampaikan > informasi, bila saja ada footnote atau sebangsanya yang menjelaskan > istilah yang berat tadi menjadi gamblang dan mudah dimengerti publik > atau orang yang menikmati media tadi, gak bakalan deh sampe harus > membeberkan hal yang gak [ah bingung mencari kata yang tepat untuk > tingkah pakcik kermit] ke media. Media awam itu nggak pernah pakai footnote. Kalau Anda cuma menulis dan dikutip di media yang punya footnote, punya index, punya editor tamu, dll, mungkin suatu hari Anda jadi net.god.id menggantikan BR. Tapi tetap nggak bisa jadi tokoh digital Indonesia (biarpun saya yakin Anda juga nggak ada yang pingin jadi gituan), soalnya media kayak gitu cuman kurang dari 1% media di Indonesia. Dari mana tuh angka 1%. Saya udah mengadopsi ilmu kermit. Saya ulangi, saya tidak meminta Anda semua berubah. Negara ini rugi kalau Anda berubah. Tapi wartawan juga punya kebutuhan. Barangkali, tidak perlu semua, tetapi ada beberapa yang mau agak fleksibel menghadapi orang di luar sana. Bukan menuntut mereka. Kita tidak bisa memaksa orang lain berubah. -- Kuncoro Wastuwibowo http://kun.co.ro/
