Pada 10 Jan 2005, 15:04:20 +0100, Made Wiryana menulis (diringkas):
>
> Kedua penerjemahan ini memiliki batasan dan pendekatan yang berbeda.
>
> Pada penerjemahan GUI salah satu kunci yang penting adalah konsistensi
> dan tepat melambangkan obyek yang ingin diacu (oleh karena itu
> pendekatan semiotik lebih pas ketimbang sekedar semantik/sintaks).
Memang dalam hal ini mau tidak mau kita (termasuk pemakai bahasa
non-Inggris lainnya) harus mengakui bahwa di Internet, Bahasa
Inggris sudah menjadi "lingua franca". Misal saja seperti contoh
yang pernah diberikan di sini tentang "page" yang sulit juga
diterjemahkan di Jepang. Padahal dalam pengertian aslinya, masak
orang Jepang tidak punya istilah untuk halaman rumah mereka?
Karena bertambah banyak istilah umum dan baru yang diasosiasikan
terhadap konsep baru, penerjemahan "page" semata-mata menjadi
sekedar "halaman" misalnya, menjadi janggal.
Saya pikir hal ini berlaku di setiap periode dengan "lingua
franca" yang diakui pada masa tsb.
> Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang
> dapat digunakan (Help , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata),
> bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan
> sebagainya
Tampaknya yang dimaksud "kata" di atas "huruf", ya? ;-)
Kalau menggunakan Bahasa Indonesia, pakai juga kata dasarnya,
jadi "bantu", bukan "bantuan" atau "membantu". Saya kira tidak
terlalu panjang juga: tulis, baca, sunting/edit, pilih, alat,...
> Justru itu kadang saya lebih suka menguji ulang panduan kata yang
> diberikan oleh pusat bahasa, karena relatif pendekatan yang digunakan
> adalah untuk pembuatan teks terjemahan.
Bantu orang-orang Pusat Bahasa.
Ini pekerjaan kita di Indonesia, banyak sekali yang harus
didukung dengan informasi yang memadai -- dari pihak redaksi
hingga sekian belas departemen dan anak-anaknya.
;-)
---akhir kutipan---
--
amal
Alas, I am dying beyond my means.
-- Oscar Wilde [as he sipped champagne on his deathbed]