On Mon, 10 Jan 2005 15:50:53 +0100, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pada 10 Jan 2005, 15:04:20 +0100, Made Wiryana menulis (diringkas): > > > Memang dalam hal ini mau tidak mau kita (termasuk pemakai bahasa > non-Inggris lainnya) harus mengakui bahwa di Internet, Bahasa > Inggris sudah menjadi "lingua franca". Misal saja seperti contoh > yang pernah diberikan di sini tentang "page" yang sulit juga > diterjemahkan di Jepang. Padahal dalam pengertian aslinya, masak > orang Jepang tidak punya istilah untuk halaman rumah mereka?
Di Jerman ada beberapa istilah yg tetap bertahan digunakan kata Jermannya, alih-alih bahasa Inggrisnya (karena istilah bahasa Jerman sudah dulu ada ketimbang bahasa Jermannya). Sedangkan beberapa terminologi yang memang lahir di belahan dunia berbahasa Inggris biasanya diserap menjadi bahasa Jerman (Homepage, email, dsb). Tapi untuk Drucker (printer), tetap digunakan istilah aslinya. Mungkin mirip dg istilah "gestalt" yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Inggris. > > Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang > > dapat digunakan (Help , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata), > > bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan > > sebagainya > > Tampaknya yang dimaksud "kata" di atas "huruf", ya? ;-) ukuran kata : jumlah huruf (bukan ukuran huruf). Itu yg saya maksud dengan parafraf di atas. > Kalau menggunakan Bahasa Indonesia, pakai juga kata dasarnya, > jadi "bantu", bukan "bantuan" atau "membantu". Saya kira tidak > terlalu panjang juga: tulis, baca, sunting/edit, pilih, alat,... Dalam bahasa Indonesia penggunaan kata dasar saja menjadi kalimat perintah 8-) dan sedikit lari dari tata bahasa (ini kendala lainnya dalam penerjemahan GUI). Terutama kalau berdiri sendiri tanpa obyek/subyek. > Bantu orang-orang Pusat Bahasa. > Ini pekerjaan kita di Indonesia, banyak sekali yang harus > didukung dengan informasi yang memadai -- dari pihak redaksi > hingga sekian belas departemen dan anak-anaknya. Sayangnya tidak semua seidea 8-) banyak pihak yg merasa "Otoritas" dalam ilmu bahasa, pihak yang tak berlatar belakang bahasa (misal orang komputer) dianggap tidak berhak untuk menentukan tepat/tidaknya suatu terminologi tersebut. Faktor lain (seperti pengalaman INPRES 02) tidak semua pihak yg bekerja untuk membuat terjemahan terminologi bersedia/rela, hasil kerjanya diberikan ke publik sehingga orang bisa mendownload dengan bebas. Di awal INPRES 02 ini sempat jadi perbedabatan. Saya sendiri berprinsip kalau memang ingin memasyarakatkan terminologi terjemahan yang benar, ya permudah masyarakat memperoleh daftar tersebut. IMW
