Pada 11 Jan 2005, 09:09:57 +0700, Erwien Samantha Y menulis (diringkas):
>
> On Tue, 11 Jan 2005 08:40:49 +0700, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Seriously, this kind of thing that makes me stick with English.
> >
> > -- budi
> >
>
>
> Tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu secara luas terhadap kata2 baku
> yang sudah ada ketetapanya. Yahh hasilnya seperti pak Budi ini :).
>
> tetingkap?
> bebutang?
> kode batang?
>
---akhir kutipan---
Serius juga: santai sedikitlah...
Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik jangan terburu-buru
dengan urusan rumit seperti peristilahan di atas. Itu yang
sering menyebabkan orang sudah apriori terlebih dulu sebelum
menikmati keelokan berbahasa.
Mulai dengan hal-hal yang gampang, misalnya
* memperbaiki penulisan "di" sebagai awalan atau kata sambung,
* aturan pemakaian "me" ("mengubah", bukan "merubah")
* penggunaan kata sambung (di, ke, dari, kepada, pada, ke),
* pemakaian kata ganti ("kami" dan "kita" sering salah
pemakaiannya)
Teladan di atas lebih mudah dipraktikkan dibanding urusan
tetikus atau bebutang, dan yang lebih penting lagi menimbulkan
sikap keacuhan (menindaklanjuti usulan Jay tentang terjemahan
"awareness") kita terhadap bahasa.
Tentang aturan pembentukan istilah, Pusat Bahasa sudah
menerbitkan panduannya, bisa dilihat di sana. Penerbit ITB
termasuk yang aktif menulis seri kebahasaan untuk tulisan teknik
pada buku-buku mereka terbitan 1990-an.
--
amal
Don't try to outweird me, three-eyes. I get stranger things than you free
with my breakfast cereal.
-- Zaphod Beeblebrox