On Sat, 15 Jan 2005 12:16:43 +0900, baskara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya juga kurang tahu mengapa komunitasnya tidak terdengar. > Mungkin karena "susah bergaul"? Dalam arti, untuk melakukan > riset-riset teoritis, kita harus "bergaul" dengan komunitas-komunitas > internasional di bidang teori yang bersangkutan, misalnya dengan IEEE > Communication Society, IEEE Information Theory, ACM, dll. It's easy to say when we're away (not in Indonesia). Begitu kita di Indonesia, banyak yang tidak bisa lagi mengikuti hal-hal seperti itu. Kadang-kadang ini terpaksa. Sudah ada banyak perdebatan di Indonesia tentang apakah kita mau terjun ke dunia teoritis atau ke yang aplikatif. Tuntutan masyarakat adalah yang aplikatif, bukan menjadikan perguruan tinggi sebagai menara gading (sebagaimana di luar negeri). No offense. Saya mau lihat rekan-rekan di Indonesia, atau nanti yang sudah dari luar negeri dan kembali ke Indonesia apa masih bisa melakukan hal-hal yang teoritis. Lihat saja ... setelah 3 atau 5 tahun berlalu, maka lupalah dia dengan hal-hal yang pernah dikerjakannya di luar negeri. Lihat saja the so called pakar-pakar kita di Indonesia. (I am included.) Mereka sebetulnya tidak layak lagi disebut sebagai pakar. Mungkin dalam kelas Indonesia, tapi tidak layak dalam skala dunia. Dulu waktu di luar negeri, saya merasa bisa menjadi second layer di bidang saya. Maksudnya second layer itu adalah bukan orang yang ternama tapi bisa mengikuti bidang itu, bisa baca journal teknis, masih termasuk 100-200 orang yang bergerak di bidang itu. Tapi sekembalinya ke Indonesia, bacaan saya merosot. Mula-mula ngedrop IEEE transaction. Kemudian journalnya. Sekarang tinggal magazinenya (IEEE computer itu magazine dalam pandangan saya). Bahkan sebentar lagi turun lagi ... menjadi sekedar teknologi di Business Week. ... Holly snappin' Batman! ... Jika bahan bacaan dijadikan acuan, maka ilmu saya sudah mlorot. Demikianlah ... (apanya?) -- budi
