On Thu, 3 Mar 2005, Ronny Haryanto wrote: > Contoh lain: sekretaris harus cewek kah? Alesan klisenya: cewek > biasanya lebih rapi, dsb. Itu kan "biasanya". Kan gak semua cewek > begitu, dan ada juga cowok yg bisa rapi dan qualified utk jadi > sekretaris. Jadi gak make sense kalo dibatasi berdasarkan jenis > kelamin hanya karena stereotyping.
Rekan2 yth, Rasanya alasan rekan Ronny ada benarnya juga mengenai masalah stereotype yet melihat rekan Dicky menjelaskan 'latar-belakang' gender discrimination yang di Indonesia ternyata cukup mewakili keadaan yang sebenarnya. Kultur masyarakat memang belum bisa dipisahkan meskipun teknologi sudah menjulang. Sebagai contoh, gender apa yang suka maen PS2 dan/atau yang suka maen Barbie. Rasanya ini lebih cenderung kearah teknologi yang 'compliant' dengan culture. Jika memang culture bisa perlahan dirubah salah satunya dengan perbaikian perekonomian (cmiiw), mungkin nanti kita akan perlahan melihat supir bis dari gender perempuan. Beberapa negara sudah mulai menerapkan hal ini. Sebenarnya, jika saya boleh mendukung pendapat rekan2. Discrimination tidak selalu berakibat buruk. Yang menjadikan buruk sebenarnya adalah motif mengapa diberlakukan discrimination. Contoh saja, kalau memang yang diperlukan adalah pria, mungkin baik juga diberitahukan sebelumnya. Oya, saya jadi sedikit tergelitik jika ada pertanyaan ketika ada okb masuk ke tempat pelacuran. Rasanya pertanyaan, 'Mau cowok atau cewek, Bos?" cukup beralasan juga. Contoh yang lain adalah Satpam/Polisi perempuan yang memang lebih perempuan karena kadang harus bertugas menggerayangi tersangka dengan gender perempuan. Nowadays, masih lumrah diberikan gender classification dalam dunia computer khususnya di Indonesia. Tetapi kalo sudah ngomong 'suka kerja lembur' rasanya juga masih lumrah karena unfortunately, masih banyak golongan pekerja yang suka mempergunakan daya tariknya untuk hal2 negatif. Iklimnya di Indonesia masih cukup sopan untuk 'lebih menghormati' gender wanita sehingga ada beberapa pemilihan secara sosial gender mana untuk pekerjaan apa. Tetapi kalo memang bisa dan tidak ditentang secara sosial, why not. Gimana kalo dikasi contoh baru seperti tukang ojek wanita dan/atau CEO perempuan seperti http://www.businessweek.com/bwdaily/dnflash/feb2005/nf20050211_0210.htm Nice Discussion guys! thx .dave
