On 4/14/05, fade2blac <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> IMHO,
> Modal itu mutlak, kecuali salah satu diantara foundernya ahli accounting, dan 
> mau mengurus cash flow-nya, mungkin bisa bertahan. Bentuk software house 
> menurut saya ada dua besar:
> 
> - Palugada (apa lu mau gua ada), jadi ngerjain bermacam-macam project sesuai 
> permintaan. Bentuk ini sulit berkembang. Masalah terbesar biasanya project 
> yang ngaret, requirement yang berubah-ubah dll (masalah klasik). Ini berimbas 
> pada pengaturan keuangan yang kelabakan ngikutin developmentnya. Disamping 
> itu karena nggak fokus, nggak akan bisa awet.
> 
> - Pengembangan produk secara vertikal. Misal Anda punya sofware accounting, 
> maka hidup mati Anda ngerjain cuma accounting doang. Setiap hari diperbaiki 
> dan diperkaya featurenya. Ini kemungkinan berhasil lebih besar. Masalahnya 
> untuk overhead sehari-hari Anda harus punya. Dan jika mengganggu fokus, Anda 
> harus bisa menolak proyek yang nggak ada hubungannya.
> 
> Tentang koneksi, suap menyuap dan bagi bagi, mungkin itu penting. Tapi 
> menurut orang yang pernah berbisnis IT dan survive, yang pernah saya mintain 
> sarannya, itu bukan jaminan. Ada masanya kekenyangan, tapi sering paceklik 
> dan akhirnya tutup.
> 

Nah bagaimana dengan bisnis open source (bagi yg starting up usaha)?
Aku belum menemukan model bisnisnya. Apakah model "tailor"
(integrator) lebih mudah berkembang?
Kayaknya bisnis IT (jd sw developer) di Indonesia memang sulit. Kalau
produknya di open souce-kan, saingan bisa mudah mengetahui kelebihan
dan kelemahan sw kita, mrk bisa re-engineer menjadi yg lebih baik, sw
kita kalah.
Kalau closed source, butuh sdm (modal gede) utk research dan
engineering (krn kalau open source, r&d bisa dibantu komunitas).

"Jualan" solusi dgn sw open source memang sulit euy.. :(

-- 
-Ananda Putra-

Kirim email ke