Mohon maaf karena saya baru sempat mereply sekarang.
At 14:34 14/06/2005 +0700, Budi Rahardjo wrote:
On 6/13/05, Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ya, informasi diatas betul sekali. Tapi, ada beberapa masalah ketika kita
> berbicara pajak dengan skala sebesar Microsoft.
> Pertama, pajak tsb jadi tidak bisa didistribusikan sesuai dengan keperluan
> rakyat, karena tentu pemerintah yang lebih tahu mengenai kebutuhan
rakyatnya.
Begini, kita mau fair atau tidak?
Tidak fair juga belum tentu jelek lho. Keberpihakan kepada
sesuatu juga belum tentu jelek, misalnya berpihak ke rakyat.
Bukannya itu salah satu yang disebut fair / adil ? Kalau agama Islam sih
setahu saya memang sangat berpihak kepada rakyat, terutama yang miskin. Dan
saya kira semua agama juga demikian (perkecualian misalnya "agama"
kapitalisme :-)
Hanya, ketika sebuah perusahaan seperti Microsoft telah
memenuhi kewajibannya, seharusnya potongan pajak juga bisa
dia distribusikan sekehendak dia.
"As philosopher Mark Kingwell told me, when philanthropists choose to use
tax shelters to reduce their tax burden but then give some of it back to
charities, they are doing an end-run around the public will"
ref: http://www.idealog.us/2004/10/follow_up_to_ci.html
Normalnya demikian, namun kalau dengan skala sebesar Microsoft, maka saya
kira perlu pertimbangan khusus. Karena jumlahnya yang luar biasa, sehingga
sangat merugikan
(http://www.seattleweekly.com/features/0439/040929_news_microsoft.php).
Lalu cara2nya juga sangat tidak etis.
> Kedua, uang pajak tsb jadi disalurkan berdasarkan keinginan B&MGF, yang
> belum tentu merupakan sesuai dengan prioritas kebutuhan rakyat. Malah
> dicemaskan ditumpangi oleh "hidden agenda"-nya mereka.
Ya sama saja, siapa pun yang mendistribusikannya bisa dituduh
punya hidden agenda. Misalnya pajak tersebut didistribusikan
oleh pemerintah, maka bisa saja ada tuduhan bahwa hal itu
ditumpangi oleh agenda dari partai politik sang presiden,
misalnya.
Ya baik bagi Microsoft, karena yang bermasalah si presiden. Yang penting
dia sudah mengerjakan kewajibannya, kalau ternyata diselewengkan oleh oran
lain ya tentu bukan salah dia lagi.
Menuduh mudah, buktikan dong.
Beberapa contoh:
# Menyumbang ke tokoh berpengaruh di white house:
http://www.freerepublic.com/focus/f-news/1416279/posts
# BG bisa kena sanksi-sanksi pajak, kalau dia tidak menyumbang minimal
1.500 juta dolar setiap tahunnya:
http://seattlepi.nwsource.com/national/182972_gates21.html
# Menyumbang ke pihak yang sangat potensial memaksakan GM/biotech ke
negara2 miskin:
http://www.organicconsumers.org/ge/gates102303.cfm
http://www.guardian.co.uk/analysis/story/0,3604,1063669,00.html
# Menyumbang vaksin ke negara2 miskin - agar perusahaan2 Bill Gates bisa
meng uji cobanya ?
http://www.whatisaids.com/wwwboard/messages/134.html
http://www.healtoronto.com/gates_india2.html
Berbagai investasi Bill Gates di bidang biotech:
http://www.wabio.com/biohistory_microsoft.htm?pp=1
# dst
Kalau kita lihat secara jumlah sedikit, kita perlu ingat bahwa mengungkap
hal-hal seperti ini tidak mudah.
Contoh: sebagian kita sejak awal sudah yakin bahwa War on Terror hanyalah
akal-akalan Bush untuk menjalankan program neo-kolonialisme nya, namun baru
akhir-akhir ini saja bukti-buktinya yang kuat mulai bermunculan, spt
http://www.downingstreetmemo.com/
Jadi yang sedikit ini dicemaskan adalah hanya puncak gunung es. Sayangnya,
investigasi secara komprehensif sangat kecil kemungkinannya untuk bisa
terjadi, karena kuatnya lobi Microsoft di pemerintahan, dan bargaining
position-nya yang sangat kuat.
> Ketiga, Microsoft & B&MGF mendapatkan nama baik (dan PR Microsoft termasuk
> yang terbaik) despite potential problems above.
Lah wajar dong. Kalau mereka menyumbang mengapa tidak boleh
mendapat nama baik?
Karena bisa menyumbang dari hasil berbagai masalah - masalah monopoli,
predatory business practices, outright lying / FUD, non-ethical tax
evasions, Microsoft tax on computers, dll. Sumbangan2 tersebut jadi
menutupi apa sebenarnya Microsoft itu.
> Keempat, salah satu masalah yang sudah terdeteksi yaitu penyumbangan
> software Microsoft: (a) Microsoft menyatakan menyumbang sekian juta dolar,
> padahal biaya duplikasi software paling cuma berapa sih :-)
Tidak semudah itu.
Ketika mereka menyumbang, mereka harus melakukan pembukuan.
Dalam pembukuan tersebut tentu saja nanti akan diaudit dan
dikaitkan dengan pembajak.
Tentu saja kita hanya melihat duplikasi softwarenya, tapi
tidak melihat proses di belakangnya.
Hal yang sama, duplikasi MP3 kan gampang, kenapa artis harus
dapat bayaran dari lagunya?
Demikian pula penulis buku, kan tinggal dibuatkan ebooknya
terus *GAMPANG* kan mengcopynya.
Semua produk yang dapat disimpan dalam bentuk digital akan
dapat dituduh seperi ini.
Padahal ... untuk membuat satu eBook, saya membutuhkan
waktu 5 tahun misalnya. Untungnya ebook saya kebanyakan
bisa didownload secara gratis. Tapi point saya bahwa effort
yang saya keluarkan lebih dari hanya sekedar mengcopy.
Ya, tapi kalau Microsoft mendapat laba US$ 12.300 juta di tahun 1999 saja,
saya kira biaya yang mereka keluarkan sudah kembali semua plus masih sangat
banyak labanya. Tapi tetap saja mereka melakukan ini.
(http://www.taxreform.org/do/Home)
Coba saja deh ... mas Harry buat perusahaan dengan 20 orang
pegawai saja. Silahkan coba ... :) It's not easy running
a (software/IT) company.
Kebetulan salah satu tugas saya disini (selain IT consulting, dll) adalah
membantu me-manage bisnis keluarga, dengan sekitar 110 pegawai. Anda betul,
tidak mudah, masalahnya bermacam-macam. Padahal kalau menuruti nafsu,
maunya sih oprek-oprek komputer saja sepanjang hari :)
> (b) Yang
> disumbangi tentu jadi ketergantungan dengan software Microsoft, dan ketika
> software sumbangannya tidak bisa dipakai lagi (contoh: versi baru Office
> tidak bisa dibaca oleh versi lama Office) maka akan cenderung membeli versi
> barunya
Ah yang bener :)
Ya kalau nggak mau kalah, ya silahkan sumbang software
open office. Silahkan deh. Nggak ada yang melarang.
Memang nggak ada yang melarang, tapi, nggak ada yang mau terima :)
Misalnya, ini salah satu client saya sudah selesai dipersiapkan untuk
migrasinya ke Linux, termasuk ke OpenOffice. Setup server, workstation,
training, dukungan dari manajemen sudah didapat, dst. Tinggal pencet tombol
saja istilahnya.
Tapi karena sudah terlanjur "kecanduan" MS-Office, tetap saja mereka tidak
mau memencet tombol itu. Padahal bukan dikasih gratis, mereka sudah bayar
saya untuk mempersiapkan itu semua. Malah rugi mereka kalau tidak
memanfaatkannya. Tapi, ternyata tingkat ketagihan MS-Office mereka memang
sudah sangat kronis :)
> (c) Microsoft mendapatkan nama baik, despite all the problems above.
Lagi-lagi, kita harus fair dong.
Kalau ada seseorang berbuat baik, tentu saja dia mendapatkan
nama baik.
keywordnya "despite all the problems above" pak :)
normalnya tentu kita tidak komplain kalau orang menyumbang; tapi kalau uang
untuk menyumbang itu didapatnya dengan bermasalah, lalu disumbangkan ke
jalan yang potensial masalah, logikanya tentu kita musti
mempermasalahkannya juga.
Sekarang kalau saya todong balik:
mas Harry sudah nyumbang berapa duit untuk kemanusiaan ?
he he he.
Malu ah saya, pasti masih jauh di bawah pak Budi.
> Bukan begitu, masalahnya, sumbangan softwarenya itu dihargai dengan harga
> retail. Padahal, spt saya tulis diatas, berapa sih biaya copy per CD jika
> dicetak secara massal :-)
Aspek pembukuan sumbangan tidak semudah itu.
Mereka bisa kena sangksi "dumping" kalau melakukan financial
engineering. Ini suatu yang tidak mudah bagi public company.
Kenyataannya, 2/3 perusahaan di Amerika bisa menyatakan bebas pajak.
Sekitar 90% hanya kena pajak kurang dari 5%.
(http://reclaimdemocracy.org/articles_2004/corporate_tax_evasion_offshore.html)
> Kalau beberapa perusahaan lainnya masih agak mendingan, Sun misalnya
> cenderung menyumbang server & workstation ke berbagai universitas. Kalau
> seperti ini memang sumbangannya agak lebih riil, Sun memang betul-betul
> keluar uang banyak untuk membuat server2 & workstation2 tsb.
Lho? Memangnya Microsoft nggak keluar uang?
Kalau kita lihat, duit Microsoft yang keluar untuk R&D
termasuk yang terbesar. (Hmm... daftarnya biasanya muncul
di majalah akhir tahun.) IBM juga termasuk yang terbersar.
Kita juga harus menghargai intelektual, tidak hanya sekedar
benda fisik.
Untuk apa dulu, apakah untuk mendapatkan paten sebanyak-banyaknya, dan
kemudian memungut royaltinya ?
Microsoft telah merekrut seorang pakar yang telah memungkinkan royalti
paten menjadi 1/3 dari pendapatan IBM, dan sejak itu telah mendaftarkan
ribuan proposal paten, dengan sekitar 90% yang diterima. Kasusnya yang
cukup high profile mungkin misalnya adalah kasus pemungutan royalti dari
FAT, dan bisa masih banyak lagi lainnya di masa depan.
(http://www.idealog.us/2004/10/follow_up_to_ci.html)
> >Yayasan B&MG banyak juga membantu dalam bidang healthcare.
> >Saya rasa kita perlu fair untuk hal ini.
> >Jangan rasa benci mencemari judgment kita.
>
> Ya, tapi pertama, apakah yang tersebut adalah prioritas tertinggi rakyat
> Amerika ? (sebagai yang seharusnya menerima pajak tsb)
Sebagai warga dunia, saya lebih senang kalau yayasan ini
memberi sumbangan penelitian untuk penyakit di Afrika,
misalnya daripada di Amerika.
Kita jangan terkotak kepada satu negara saja.
Semestinya kita bisa berpikir sebagai warga dunia.
Mudah-mudahan memang tulus dan niat baik, tapi sayangnya ada juga indikasi2
ke sebaliknya.
Untuk institusi yang memiliki power sebesar mereka, saya kira kita perlu
*waspada*, kalau tidak ingin kecele dan menjadi bulan-bulanan di kemudian hari.
> Contoh skenario: riset healthcare untuk menemukan obat AIDS, lalu setelah
> berhasil, hasilnya dipatenkan dan dipasarkan exclusively oleh Paul Allen,
> dengan bagi hasil utk pak Bill. Padahal kemarin ini banyak pasien AIDS yang
> meninggal sengsara, karena mereka tidak mampu membeli obat AIDS, karena
> versi generiknya tidak bisa dibuat, karena dijegal oleh paten
internasional.
Buktikan bahwa mereka terlibat di belakangnya?
Ini cuma contoh skenario pak, bukan kejadian sebenarnya.
> >Tentu saja I still love free software :) he he he.
> Saya justru benci free software, karena konfigurasinya ribet, banyak yang
> harus di oprek oprek dulu agar bisa berjalan lancar, para pendukung
> fanatiknya sering cuma menyalahkan tapi tidak memberi solusi, dst, dst.
(er, kalimat saya berikutnya (just kidding) tidak ter-quote)
Yup, sama seperti pendukung open source yang hanya membenci
Microsoft tapi juga hanya sebatas for convenience.
Ketika mereka besar ... mereka bisa juga jadi proprietary.
Mungkin ada contohnya pak ?
Sementara Free Software Movement, kebebasan adalah filosofi
bukan hal yang bisa ditawar-tawar.
(Jadi kalau menurut orang free software: MS is evil!
Kalau menurut orang open source: belum tentu. It depends ...)