waktu itu, Mon, Sep 05, 2005 at 12:00:58AM +0700, Andika Triwidada menulis: > > Jadi alternatif angkutan masal publik yang lebih feasible, nyaman, cepat, > dan ekonomis untuk Jakarta apa? >
Tentu bis kota paling feasible. KRL juga masih feasible. Pertanyaannya bis kota yang seperti apa atau KRL yang seperti apa yang ideal? Kalau dirunut akar masalahnya, diurai satu-satu: Macet, disebabkan karena kendaraan yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah jalan. Mobil pribadi paling banyak. Ngukurnya gampang, kalau mobil pribadi dilarang di jalan raya, dijamin nggak macet. Tapi kalau bis/motor dilarang, kemungkinan besar masih macet. Salah satu cara yang paling kena untuk mengurangi kemacetan adalah dengan mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya. Caranya gimana? a. Tarif Parkir dimahalin. Tentu pemda yang ambil duitnya. Di London, pemerintah menetapkan tarif parkir yang sangat mahal, sehingga orang lebih rela meninggalkan mobilnya di stasiun kereta, lalu naik kereta, dan sesampai di dalam kota, naik bis. Bisnya sendiri sangat 'jelek' tampangnya. Toh orang nggak butuh bis yg enak2 amat, yg penting cepet sampai. Itu kan tujuan alat transportasi? b. Pajak mobil ditinggikan Kalau nggak bener-bener kaya, jangan harap bisa punya mobil dan bayar pajak. Mungkin bisa dengan pajak progresif. Artinya, tarif pajak DKI paling tinggi (yang plat nomornya B), menyusul kota-kota besar lainnya. Jika pengguna kendaraan pribadi dikurangi, pemda harus menyediakan angkutan umum yang nyaman dan aman. Dari kedua langkah diatas, pemda dapat tambahan duit banyak. Duitnya dikembalikan lagi untuk membangun sistem transportasi yang lebih baik: a. Sistem setoran dihapuskan, diganti sistem gaji tetap. Mungkin akan mengurangi jumlah sopir ugal-ugalan dan rebutan penumpang. Pasti akan makan korban, dan sopir2 pada demo. Ini juga harus diantisipasi. b. Menetapkan standar yang lebih tinggi, dengan aturan lebih ketat tentang bis yang masih layak beroperasi. c. Dibuat sistem tiket terusan. Jika beli satu tiket KRL misalnya, bisa dipake buat naik bis kemana-mana. Beli tiket PPD, bisa untuk naik Mayasari Bakti. Tiket bisa dijual di warung-warung, dicetak dengan alat khusus yang dikeluarkan oleh pemda. Ini diterapkan di London dan mungkin negara eropa lainnya. Jika itu bisa direalisasi, baru dibuat peraturan lalu lintas yang tegas, dengan sanksi yang berat. Pembuatan SIM diproses secara benar. Tilang juga dijalankan sesuai dengan yang ada. Pointnya adalah, tidak perlu mencari bentuk transportasi baru. Tapi sistem yang ada dibenahi agar lebih efisien. Jika Busway sekarang dianggap sukses apa indikatornya? Sukses berarti kemacetan berkurang, ternyata tidak. Lalu monorel? Sependek pengetahuan saya, itu pointless. Subway? Ngatasin banjir aja nggak gape mau bikin subway.. :-) Tulisan di atas, hanya sekedar untuk buang waktu mengingat bukan kompetensi saya -- fade2bl.ac
