On 11/21/05, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Di India sih saya belum pernah mencoba langsung, tapi cukup banyak yang mengatakan bahwa koneksi Internetnya sama mahalnya dengan di Indonesia. Saya engga tau standar baik dan buruknya soalnya di Indonesia sendiri kualitas koneksi sangat beragam.
Yang saya tekankan pada infrastruktur India di sini adalah ketersediaan koneksi fiber optik bawah laut (atau melalui satelit) langsung dengan pusat - pusat ekonomi dunia (er... pluralnya diilangin deh...), yaitu US. Ini yang kita belum punya. Orang koneksi fiber optiknya aja baru nyampe batam (belum bisa nyambung lagi ke singapur gara - gara kepentok lisensi).
Wah kalau internetnya Singapura dibandingin sama Indonesia, ya jelas donk pak lebih cepet Singapura :-) walaupun itu kembali lagi, bergantung pada daerahnya karena kualitas koneksi di Indonesia sendiri beragam (dan men-generalisir semuanya, jelek)
Ah yang hobi mendownload film itu makenya koneksi 54Mbps keluar, jelas aja cepet. Memanfaatkan fasilitas tidak pada tempatnya itu sih :-D
Wah ada yang kesentil nih hehehe. Maksud saya dengan you-know-what ini sama dengan bahasan - bahasan thread yang sudah lalu. Memang mentalnya yang belum terbentuk. Mau nungging sambil jungkir balik juga ga bakalan jalan. Kudu mentalnya dulu yang dibentuk baru jalan gituh. Makanya saya pakai istilah "you-know-what" karena sudah pernah di bahas dan rasa - rasanya F.U.B.A.R. kalau dibahas lagi.
Hm... lihat jawaban saya di atas.
Lihat pembahasan di bawah
Open source software profit centernya kan memang kebanyakan ada di servis. Jadi jangan salahkan bisnis modelnya :-). Redhat pun akhirnya bisa besar dan sumber pemasukan utamanya bukan terletak pada penjualan software (walaupun ini juga menyumbangkan fragment keuntungan). Kalaupun akhir - akhir ini mereka membayarkan software enterprise mereka (lisensinya make apa sih?), toh tetap tidak masalah bagi mereka kalau softwarenya dibajak karena kebanyakan customer mereka lebih mementingkan layanan yang dapat mereka berikan (dengan membeli software sesuai dengan price-tagnya) daripada harga software bajakan yang murah.
--
--cut--
Ah yang bener ... Sudah pernah nyoba infrastrukturnya India?
Saya sudah. Ternyata nggak hebat-hebat amat. Bahkan cenderung lebih
buruk daripada di Indonesia.
Sudah nyoba infrastrukturnya Silicon Valley? Sama saja.
Nggak hebat-hebat amat.
[Beberapa minggu lalu, juga nyoba internetnya Singapore. Biasa saja.]
Di India sih saya belum pernah mencoba langsung, tapi cukup banyak yang mengatakan bahwa koneksi Internetnya sama mahalnya dengan di Indonesia. Saya engga tau standar baik dan buruknya soalnya di Indonesia sendiri kualitas koneksi sangat beragam.
Yang saya tekankan pada infrastruktur India di sini adalah ketersediaan koneksi fiber optik bawah laut (atau melalui satelit) langsung dengan pusat - pusat ekonomi dunia (er... pluralnya diilangin deh...), yaitu US. Ini yang kita belum punya. Orang koneksi fiber optiknya aja baru nyampe batam (belum bisa nyambung lagi ke singapur gara - gara kepentok lisensi).
Wah kalau internetnya Singapura dibandingin sama Indonesia, ya jelas donk pak lebih cepet Singapura :-) walaupun itu kembali lagi, bergantung pada daerahnya karena kualitas koneksi di Indonesia sendiri beragam (dan men-generalisir semuanya, jelek)
Di Indonesia ini kita sering mengeluh dan menggunakan resources tidak
semestinya. Akses Internet di Indonesia ini juga kenceng2 kok.
Buktinya rekan-rekan kita hobbynya download film2. he he he.
[No need to name names. ha ha ha. Soalnya saya kecipratan hasilnya.]
Ah yang hobi mendownload film itu makenya koneksi 54Mbps keluar, jelas aja cepet. Memanfaatkan fasilitas tidak pada tempatnya itu sih :-D
> The question is when? BHTV itu kalau tidak salah sudah dicanangkan sejak
> lama deh tapi realisasinya masih belum (karena you-know-what)
No, I don't know "you-know-what"?
Kalau ada yang tahu jawabannya, tolong diberitahu.
Wah ada yang kesentil nih hehehe. Maksud saya dengan you-know-what ini sama dengan bahasan - bahasan thread yang sudah lalu. Memang mentalnya yang belum terbentuk. Mau nungging sambil jungkir balik juga ga bakalan jalan. Kudu mentalnya dulu yang dibentuk baru jalan gituh. Makanya saya pakai istilah "you-know-what" karena sudah pernah di bahas dan rasa - rasanya F.U.B.A.R. kalau dibahas lagi.
[ps: diskusi semacam ini, dan membuat link dengan orang2 di LN
seperti Carlos ini, merupakan salah satu aktivitas yang bisa diklaim
sebagai aktivitas BHTV lho.]
Hm... lihat jawaban saya di atas.
> > Mudah-mudahan waktu SBY datang ke Bangalore 1 bulan yang lalu,hal
> > seperti ini masuk kedalam pemikiran beliau.
>
> Loh bukannya beliau masih tetap ngotot menjadikan Bill Gates dan
> Microsoftnya sebagai IT partner Indonesia? Kalau memang punya pemikiran
> seperti itu, seharusnya beliau (lebih tepatnya: penasihat - penasihatnya)
> sadar kalau propietary software (setidaknya untuk kondisi sekarang) bukanlah
> jawaban.
He he he ... lantas para software developer itu cari makan dimana ya? ;-)
Lihat pembahasan di bawah
Kalau saya, karena bukan software developer, build services on top
open source / free software. Jadi memang untuk jenis layanan / bisnis
seperti yang saya tekuni, free / open source software sangat mendukung.
Jadi jelas saya pro open source / free software movement.
Namun, saya kebayang kalau *semua* software itu dibuat non-proprietary,
para developer makan apa ya? he he he. Siapa yang menggaji mereka?
Google?
(Itulah sebabnya saya jadi mikir2 ingin melamar jadi country managernya
Google di Indonesia supaya bisa bayarin programmer/tukang utak atik
di Indonesia untuk ngoprek open source.)
Saya perhatikan (tidak punya data yang sahih), para software developer
di Indonesia kebanyakan buat aplikasi kecil2 (seperti accounting, dll.)
yang sifatnya *PROPRIETARY*. Kayaknya sih cukup untuk makan
mereka sehari-hari, tetapi tidak/belum menjadi industri.
Open source software profit centernya kan memang kebanyakan ada di servis. Jadi jangan salahkan bisnis modelnya :-). Redhat pun akhirnya bisa besar dan sumber pemasukan utamanya bukan terletak pada penjualan software (walaupun ini juga menyumbangkan fragment keuntungan). Kalaupun akhir - akhir ini mereka membayarkan software enterprise mereka (lisensinya make apa sih?), toh tetap tidak masalah bagi mereka kalau softwarenya dibajak karena kebanyakan customer mereka lebih mementingkan layanan yang dapat mereka berikan (dengan membeli software sesuai dengan price-tagnya) daripada harga software bajakan yang murah.
Oskar Syahbana
http://www.permagnus.com/
http://blog.permagnus.com/
