On 11/22/05, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> tahap requirement udah gagal? dan itu pengalaman develope product?

hi hi hi. tentu saja ada yang lain.
tapi yang lain itu didevelop dengan tidak mengacu ke standar
software engineering yang baku (alias dibuat dengan cara
tukang ngoprek). yang gini ... malu ceritanya. he he he.

[dulu saya buat mailbased-archive-server, jamannya orang
akses internet lewat email. kemudian buat juga program bbs.
tapi kalau sekarang lihat kodenya, saya malu ... he he he.
support, via email.]


pakcik sudah buat produk?
boleh tahu produknya apa?
boleh cerita pengalamannya?


> > PS: produk2 yang kami maksudkan baru muncul sekarang2 ini.
> > We were ahead of our time.
>
> pantesan suka gak realistis. sukanya ahead of time.

nah sekarang sudah banyak yang realistis.
(jadi gak buat produk lagi. he he he.)



> > Wah harus disamakan dulu yang dimaksud dengan customization.
> > Coba kalau kita lihat produk seperti SAP, Oracle, dsb.
> > Produk ini membutuhkan customization untuk client2nya.
> > Sekali customization => US$1 juta cing!
>
> Sekarang udah banyak di Jakarta ginian Pak. Gak perlu BHTV. Intinya
> mereka reseller. Jualan di Indonesia.

Itu kan hanya sekedar contoh.
PS: yang penting bukan masalah reseller SAPnya, tapi maslaah
customizationnya.


> > > Atau emang BHTV itu pengen diarahkan jad
> > > seperti ide Stallman?  free software?
> >
> > Ingat bahwa BHTV itu *TIDAK* harus software :)
> > Dia bisa biotech, dsb.
>
> ini gak ahead of time juga Pak?

tidak. malah sekarang ... terlambat. :(


> hahahaha .. baru dengar ada customization begini. misalnya product di
> develope di US. trus di suruh orang di Indonesia, yang bukan developer
> productnya supaya customizable. Ini benar2 cara gila. doomed.

wah ... jadi gimana? semua harus didevelop di US?
udah baca blognya si Danny 'the sexer' yang kerja di Riya
(sebuah perusahaan baru yang mencoba mengidentifikasi
seseorang dari foto. perusahaan ini lagi rame dapat sorotan.)
di blognya dia cerita bagaimana enaknya punya cabang di Bangalore.

ketika kantor mereka tutup di amerika (tutup jam kerja, maksudnya)
maka pekerjaan pindah ke Bangalore. kerjaan bug hunting
(dan tentunya memperbaiki) dikerjakan di Bangalore.
pagi hari di amerika (besoknya), bug hunting pindah lagi
ke amerika.

cerita dari kawan di amerika, customization product mereka tidak
dikerjakan di amerika tapi di negara lain di eropa (eastern europe?
saya lupa negaranya apakah romania? atau ukraina, atau apa
lupa saya). yang pasti, customization produk mereka dilakukan
di eropa timur, bukan di amerika.

ps: pekerjaan ini sudah lazim dikerjakan di india.
mungkin bentar lagi vietnam nyusul.
indonesia? dilewatin aja deh.


> Ini menandakan bahwa pak Budi hanya user. Tidak pernah develope
> product.  waduh, benar2 gawat.

kalau produk yang seorang diri, ada. tapi malu-maluin.
kalau produk yang besaaaarrr, terus ikut porsi yang besar, gakpernah
tapi kalau ikut ngoprek bagian software gede, udah pernah.
(hanya porsi saya juga sangat minor sehingga memalukan
kalau untuk bragging.)

kalau produk yang proprietary dan one shot (misal untuk proyekan,
bukan yang retail) sih ada banyak. :)


> > Jadi, saya mengklaim bahwa saya bukan pakar software eng.
> > (Meskipun saya mengerti, tapi saya bukan pakarnya.
> > Harus tahu diri. he he he. Jadi tentu kami2 membutuhkan
> > bantuan, cerita, pengalaman dari rekan-rekan semua.)
>
> Bukannya pak Budi dosen Object Oriented di Elektro? am I incorrect about that?

he he he. ada beda mengajarkan pemrograman dengan mengajarkan
software engineering. kalau untuk software engineering, saya harus
mengakui bahwa bu inge mungkin jauh lebih mumpuni dari saya.

pemahaman saya mengenai software engineering hanya sebatas
membaca (banyaaaaakkk referensi). jadi saya merasa belum
pantas disebut pakar sofwtare engineering. gitu?


[soal non-customization windows]
> > Inilah yang membuat saya lebih suka Linux :)
>
> tapi pak Budi mau mendatangkan Microsoft. :)

yup. ada kepentingan pribadi dan ada kepentingan orang banyak.
kadang terpaksa kita mengorbankan kepentingan pribadi untuk
kepentingan orang banyak :(



> > Coba deh ke Silicon Valley. Jalan2... aja.
> > Nanti baru kebayang.
>
> hehe .. bayarin ongkosnya dong Pak

minta apa Carlos tuh. he he he.
ada banyak cara. misalnya, ngelamar pekerjaan di sana.
siapa tahu dikasih tiket untuk wawancara :)


> > Saya malah memimimpikan adanya biotech di BHTV. :(
> > [Life sciences di Singapore maju banget euy!]
>
> ahead to time lagi? :)

waktu nonton video "100 tahun renaisance silicon valley"
(ya baca: 100 TAHUN!) di situ ada cerita seorang profesor
yang ditarik ke stanford karena bidang dia adalah biotech.
saya lupa tahunnya (mungkin tahun 1960-an ya?)
entah kalau 1960-an itu mau dibilang ahead of its time

sekarang ...
proyek genome sudah beres(?)
genentech sudah besar di silicon valley.
saya rasa ... kita sudah terlambat.
(ketika ke singapore 2 minggu lalu, saya ngobrol2 dengan
guru di sana. lomba2 siswa/mahasiswa sudah ada yang
lari ke biotech. dan mungkin yang menang dapat modal.
mereka mencoba menjadi leader di life sciences.
yang gini saya kagak ngarti.)

terus terang saya nggak ngerti bisnis biotech.
apa sih hebatnya. kemudian saya tanya ke salah
satu entrepreneur hebat indonesia: iskandar alisyahbana.
dia menjelaskan kepada saya. barulah saya ngeh.


> > Kritik saya terhadap orang Malaysia atau Singapore adalah
> > mereka tidak kreatif.
>
> Dan Indonesia lebih OK dengan mimpi2nya?
> Don't find something wrong?

Nope.
Mimpi tidak salah!
Yang salah, cuma mimpi doang!!!
Gak mau merealisasikannya!!!
Ini yang salah besar dari kita. Cuma mimpi doang!

Coba cek dengan para inventor. Mereka ... mimpi.
Dan selalu, mereka diketawain oleh para ekspert
(kayak kita-kita ini).
Coba Anda simak film dokumenter "Triumph of the Nerds"
(ini dokumenter PBS yang jauh lebih baik dan lebih otentik
dari "Pirates of Silicon Valley" yang sekedar dongeng.)
Berkali-kali disebutkan:
- para penemu ini selalu melanggar yang tidak mungkin (mimpi)
- yet, the experts are wrong!

Waktu Bill Gates buat basic intrepreter di Altair, diketawain.
mimpi kali ye. mosok bisa masuk ke altair yang memorynya
cuma segitu. experts salah!
Ketika Steve Woz membuat rangkaian apple ][, banyak yang
meragukan bisa membuat sekecil itu.
Yet again. Ekspert salah.

Jadi, saya bilang ke mahasiswa saya:
Anda harus punya mimpi, tapi harus dieksekusi!


> kita jauh tertinggal dari Silicon valley. Dan mau ngerjakan project
> yang ahead of time?

Bukan. Kita harus memilih niche dimana kita bisa sukses.
Kalau kita (Indonesia) mau adu olah raga, ya jangan ke
tinju kelas berat. Dulu ada Tyson.
Kalau kita mau lari ke IT, ya jangan generic software development.
Di sini sudah ada India.

Nah, kita cari daerah dimana kita punya potensi.

Terus diskusinya, pakcik...

-- budi

Kirim email ke