Muhamad Carlos Patriawan wrote: > Keren ini persepsi Pak Made. > > Tapi liatlah kenapa negara seperti China,Singapore,Vietnam dan India > koq bisa ya menarik kembali creative-class-nya. > > Yang pemerintah mereka lakukan ternyata selain memberikan tax-breaks > untuk usaha IT/startups adalah juga menawarkan gaji sepantar dengan > standard barat(yg dibayar persh tentunya). Mungkin 1/2 s/d 1/4-nya. > > > Ini bukan masalah lebih banyak duitnya, tapi gaya ..... mirip dg kerja di > > kota itu lebih keren dari kerja di desa. > > Kalau ada Vendor networking buka R&D di Indonesia,I will be the first > one to leave US. > Salary 1/3. > > I don't care about "keren" really :P > > Carlos
Membahas soal "keren-keren"-an, bisa kita bedah dengan teori Semiotika. Pendek kata, Semiotika adalah ilmu tanda-penanda. Saya ambil contoh sederhana saja deh. Kenapa seseorang dikatakan tidak normal apabila pergi kerja naik angkot. Padahal dia memang mampu membeli mobil. Tapi orang tersebut mengambil keputusan dengan sadar untuk tidak membeli mobil karena dia memang tidak butuh mobil. Nah, dengan ilmu semiotika, seseorang bisa dibuat untuk merasa butuh mobil. Salah satunya dengan cara konstruksi sosial. Membuat definisi normal = pergi kerja naik mobil. Padahal hitung-hitungan secara ekonomis bisa jadi naik angkot itu lebih murah. Tidak perlu repot keluar bensin, bisa baca buku di dalam angkot, tidak perlu keluar biaya service, dll. Begitupun dengan definisi keren-keren-an. Jadi bisa saja di struktur-kan secara sosial, bahwa bekerja di LN itu lebih keren. Kalau Bang Carlos jadi pulang, asyik! Bisa nitip oleh macam-macam. Zaki Akhmad http://www.zakiakhmad.info *masih script-kiddies*
