On Tue, Dec 20, 2005 at 09:59:49AM +0700, Andika Triwidada wrote:
> 
> Sebenarnya poin-poin "pengaturan" ini sangat menarik. Saya pernah baca
> buku "How To Be Creative" (lupa judul tepatnya, pinjam dari P Budi
> :D), yang salah satu poin pentingnya (IIRC) adalah, untuk bisa
> kreatif, kita perlu mengurangi "aturan" sebanyak mungkin. Saya pikir,
> pada suatu saat, milis id-gmail pernah menjadi milis kreatif karena
> menerapkan anarki/chaos tersebut, tetapi kok tidak bisa bertahan. Bisa
> jadi karena saya mulai bosan, atau member terlalu banyak dan topik
> posting terlalu lebar sehingga tidak bisa saya ikuti lagi.
> 

Mungkin penduduk id-gmail, merasa ada suatu kebanggaan saat menyebut diri 
sebagai 'penduduk kampung gajah' yang punya istilah-istilah sendiri seperti 
'basbangpret' 'swgtl' 'nungging', bahkan menerbitkan kamus untuk 
menjelaskannya, sehingga menjadi bacaan wajib buat para 'tamu' 'kampung gajah'. 
Ada Pak RT, Pak Lurah. Ini seperti membentuk budaya sendiri yang memberi kesan 
'elit'.

Seperti dulu (mungkin sampai sekarang) di 'dunia kecil' kampung IRC di mana ada 
negara dalnet, effnet dan undernet. Penduduk masing-masing kota seperti 
jakarta, bandung, atau komunitas bawel, memiliki istilah sendiri. Pv, gebet, op 
atau merayu kenalan baru, ngirim kembang dengan @}--- dst. 

Bentuk kreativitas seperti itu, bukan berawal dari chaos. Tapi justru menjadi 
bentuk yang jamak, dan sudah seharusnya menjadi seperti itu. Dari interaksi 
yang berulang, menerbitkan budaya. Dari akar budaya, dibuatkan panduan-panduan 
atau pengaturan. Pada titik tertentu, aturan-aturan ini akan dihantam lagi 
dengan bentuk budaya baru sebagai ujung dari interaksi yang selalu berubah 
bentuk.

Analisa amatiran :-)

-- 
fade2blac

Kirim email ke