On Thu, Dec 22, 2005 at 07:08:06AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> Nah, kalau di Indonesia, yang nomor (1) itu tidak masalah!
> Hah?!? Betul. Di Indonesia, manusia tidak dihargai dan bisa
> dijadikan kelinci percobaan (untuk obat misalnya) dengan mudah
> dan murah. Saya pernah ketemu dengan seorang ahli hukum yang
> ingin menggugah orang2 Indonesia (dan hukum) agar penelitian
> yang melibatkan manusia (sebagai obyek) perlu diberi pagar2.

FUD? Seyogyanya isu seperti ini tidak dibackup dengan 'saya pernah',
'katanya' atau 'ada yang bilang' dlsb. Untuk obat misalnya (clinical
trial fase 2), justru memang _harus_ murah (tidak boleh dibayar),
apalagi fase 3. Bahkan di luar sana saya ragu dengan kata 'voluntarily'
pada penelitian-penelitian semacam ini, ya .. maksudnya orang jadi
sukarela setelah di meja diletakkan setumpuk uang (entah itu mau dikasih
semua atau tidak hi..hi..). Sebenarnya gini, tanpa aturan pun, ada bbrp
pakem yang harus dipenuhi dalam clinical trial, kalau tidak, result
tidak akan digubris (buang-buang duit). nah .. barangkali ada yg
bertanya: kalau ada manipulasi gimana? untuk ini silaken ditanyaken
kepada rumput yang bergoyang.

> Jadi ... sebetulnya Indonesia ini lahan bagi penelitian,
> ... sebagai kelinci, oops bukan, sebagai manusia percobaan.

ini pasti FUD juga.

> Untuk yang kedua (2), soal yang nyerempet agama, bakalan sama
> susahnya di Indonesia. Di Indonesia dan di Amerika, ada massa
> yang very religious - aka garis keras yang militan.
> Barrier ini yang mungkin tidak ada di Korea Selatan sehingga
> mereka menjadi nomor #1 dalam penelitian ini.

dulu pernah ada seminar di yogya (saya lupa pembawanya siapa, who cares
:) beliau bilang bahwa sebaiknya isu 'hukum' (agama, UU) ditinggalkan,
atau bersifat antisipatif, jangan belum-belum sudah dilarang dlsb. kalau
ndak, kita akan ketinggalan ratusan tahun dengan negara-negara lain.

kalau mendengar orang ngoceh seperti itu, seperti juga di milis ini
(soal rekayasa genetika dlsb), pikiran saya selalu terbawa ke alam lain
(katakanlah saya orang aneh. kalau anda berbeda sendiri di kerumuman
400-an orang, bukankah otomatis anda adalah orang aneh? :-)

diskusi-diskusi seperti ini (rekayasa genetika, hukum, agama), kalau
dalam bahasa latin: ora gelem ndelok githoke dhewe, atau kacang lupa
kulitnya. pikirin dulu itu kasus diare, ispa (YA .. ISPA!!!), yang masih
jadi momok dan kita kagak gableg ngurusin itu. urusin saja endemik
hepatitis, malaria, TB dll. sekarang malah kasus busung lapar (dan
kebanyakan orang intelek masih ndak sadar juga kalau ini karena harga BBM
dinaikkan). sukurlah kita hidup di negara yang dihuni oleh orang-orang
yang benar-benar sakti mandragade eh .. mandraguna. bukankah seringkali
kita mengkritik kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada rakyat
kecil, dan kita pikir itu karena mereka sudah hidup enak, gaji gedhe,
rapat di ruang AC dll, ndak merasakan susahnya orang kecil, nah ..
sekarang kita sendiri yang melakukan seperti itu. kayaknya ini bukan
pertama kali saya ngomong kalau indonesia, masih ndak becus ngurusin
panu, tapi masih saja ada diskusi-diskusi ala para dewa di khayangan
seperti ini. lah wong jadi exportir spesimen flu manuk cipret kelas
kakap saja kok masih mau-maunya ngomong stem cell :-)) eits ol ebot mane
mane mane. duitnya dipakai saja dulu buat beli obat panu.

pasti ada yang bilang: kalau gitu, kapan majunya indonesia (betul?
he..he.. kan sudah saya bilang, saya ini orang aneh). lebih ngaco lagi
kalau lantas ada yang bertanya ke saya: jadi anda tidak setuju dengan
rekayasa genetika :-)) http://google.com/search?q=logical+fallacy.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

-- 
Ini signature saya. Pasang iklan anda di sini ... tarif menantang :-)

Kirim email ke