On 12/23/05, Zaki Akhmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kenikmatan membaca di atas kertas, belum tergantikan bagi saya. Oleh
apapun! Eh, saya belum pernah punya tablet PC deing, jadi belum pernah
ngerasain. Belum punya atau memilih untuk gak punya Zak? Alaah bilang
aja gak mampu beli Zak :)

Tapi  pasti terasa sekali "nikmat"nya menyimpan dalam format digital
dibandingkan menyimpan dalam format kertas,

Mengapa saya masih begitu nyaman membaca di atas kertas? Berikut saya
jelaskan beberapa alasan saya. Ada yang karena faktor ekonomis,
praktis, bahkan filosofis juga ada.

1) Nikmat di mata

Betapa tidak nikmatnya membaca salinan surat penting hasil fotokopian (Rp. 50 ;-)
dari kertas termal paper mesin fax atau
nikmatnya membaca email penting 5 menit yang lalu

2) Bisa dibawa kemana saja
Dengan bahan bacaan yang sudah di print, lebih enak bagi saya untuk
membacanya karena bisa dibawa kemana saja. Bisa baca di perpustakaan,
bisa baca di angkot, baca di bawah pohon juga asyik. Dan pada jumlah
sedikit, bacaan diatas kertas tidak memberatkan tas-ransel saya
tentunya.

Nikmatnya membawa SSP 12 halaman (10 rangkap) dalam map terpisah-pisah beserta bukti transaksi
atau nikmatnya meng-attach semua itu dalam satu kali kirim email

3) Bisa dicoret-coret
Kalau ini sih soal kebiasaan saya membaca. Saya suka corat-coret
tulisan di buku yang tidak saya mengerti. Saya garis bawahi-lah, saya
lingkari-lah, saya gambari-lah, dan lain sebagainya. Eh, tapi buku yg
saya corat-coret, koleksi buku pribadi saya lho. Kalau buku pinjaman
bisa-bisa saya gak dapat pinjaman lagi dong.

Nikmatnya mengisi formulir SSP dengan mesin tik dan tulis tangan
atau nikmatnya mengisi formulir dengan Word Processor dan Adobe  Acrobat
 

4) Bisa di koleksi
Ini dari sisi manusia kali ya. Saya suka sekali melihat koleksi
buku-buku asli saya yang berjejer rapi di kamar. Walau buku saya juga
belum banyak-banyak amat. Tapi melihat mereka berbaris rapi, diurut
dari yang tinggi ke yang pendek, itu sungguh indah. Kalau buku-buku
kuliah berbaris dengan rapi, indah juga sih. Tapi kalau buku kuliah kan
bukan buku asli, jadi tak seindah barisan buku asli saya. Lalu, setelah
saya hitung koleksi buku-buku saya, ternyata lebih banyak buku
non-elektro-nya. Ha...ha...
 

5) Kemudahan akses
Saya termasuk pembaca yang buruk. Saya seringkali bosan. Bahkan untuk
novel fiksi sekalipun. Kalau saya rasa flow di tiga bab awal begitu
lambat dan tidak menarik, jangan harap saya membacanya hingga usai.
Kemudahan akses yang saya maksud adalah dalam hal kecepatan membaca.
Saya bisa menemukan indeks dengan cara: membuka halaman belakang dari
buku. Saya bisa lompat dari bab yang satu ke bab yang lain dengan cepat
ketika buku itu sudah di print dan terjilid dengan rapi.

Nikmat mana?
menyimpan puluhan koleksi kliping koran 12 issue dan tema
kemudian mencari potongan berita tanggal 12 Desember 1998 dari
tumpukan lemari kliping

atau menyimpan kliping dalam ScanSoft PaperPort versi 10
yang bisa mengindex dan sekaligus OCR didalam CD dan DVD?  

Lalu, apakah kelima faktor itu tidak bisa dilakukan oleh tablet PC nan
super-canggih sekalipun? Bisa kok Zak! Tapi jangan tanya saya yah.
Soalnya saya belum pernah nyoba baca, corat-coret, dan lain sebagainya
dengan menggunakan tablet PC. Balik lagi, saya belum punya tablet PC
(dan laptop juga).

Kurang tepat kalau membandingkan Kertas dengan Tablet PC,
atau karena contohnya yang kurang nyaman,

Konsep Paperless lebih dari sekedar menggunakan Tablet PC mestinya,
begitupun Kertas, lebih dari sekedar media tulisan. kertas juga menjadi bahan pembungkus :D 



--
Gempur SR,
Y!M : gempur_sr

Kirim email ke