On 1/5/06, Mohammad DAMT <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
...
> Saya pikir kalau murid2nya tidak ada yg bertanya, ya tidak salah juga.
...

Kalau memang murid2nya bisa, nggak masalah.
Permasalahannya, ketika di-quiz/ujian, gak bisa!
Saya kasih contoh permasalahan:

  buat sebuah program yang membuat matriks 5x5
  kemudian isi sehingga matriks tersebut menjadi
  1 0 0 0 0
  1 1 0 0 0
  1 1 1 0 0
  1 1 1 1 0
  1 1 1 1 1

mosok gini saja nggak bisa?
saya hanya membutuhkan jawaban/ide/algoritma saja.
hayo ...

> Saya juga waktu sekolah dulu jarang bertanya. Lah apa yang mau
> ditanyain?

MDAMT kan pinter. Jadi udah ngarti. Ya memang mau nanya apa?
Sah kalau nggak tanya. (Dosen tambah senang.)


> Jadi kalau mau, ajarin aja yg salah2. Kalau ada yg protes, kasih nilai
> tambah, kalau yg diem aja ya biarin aja.

Walah ... nanti malah ngejeblosin dong.
(Tapi ide bagus juga. Boleh dicoba neh.)


> Belajarnya sambil praktek mungkin lebih asyik. Bawa alat-alat peraga
> betulan.

Betul. Di kelas juga kadang2 saya bawa peraga:
- vacuum tubes, transistor, IC
- buku2 tentang ini dan itu,
- majalah (IEEE, Business Week, Newsweek)

Ada juga acara ngajar di bawah pohon. (Ini kesukaan anak2.)
Ada perl poetry.
Ada juga nonton video.
Ada juga mensimulasikan komputer dengan masing2 berperan
sebagai CPU, I/O (keyboard, monitor), dsb.
Jadi itu sudah saya coba semua (termasuk ide2 dari buku
accelerated learning, metoda presentasinya lessig, dsb.)
I am open to ideas ...

Memang ada 1 atau 2 orang yang selalu datang setelah kelas
untuk ngobrol. Kelihatannya mereka pemalu, sungkan kalau
bertanya di kelas. (Mungkin takut dianggap sok pinter oleh
rekan-rekannya?)

Kembali ke pak Samik: bagaimana membuat diskusi kelas yang
lively ya?

-- budi

Kirim email ke