Anto Satriyo Nugroho wrote:
> Muhamad Carlos Patriawan wrote:
> > Yang jauh lebih penting sebenrnya adlah bagaimana hasil riset tsb bisa
> > menjadi produk alias fulus.
>
> Pendapat Pak Carlos ada benarnya, tapi ini lebih tepat ditujukan pada
> applied research. Sekedar mensitir pendapat Grinnel di "The Scientific
> Attitude" (The Guilford Express, 1992),  riset ada dua : basic research
> yang target produknya adalah paper, kalau applied target akhir
> produknya berupa patent.

> Keduanya tidak perlu dipertentangkan,
> karena saling mendukung & sama-sama penting. Fulus datangnya
> dari produk yang aplikatif. Tapi aplikasi tidak mungkin terwujud
> kalau tidak ada fondasi teori yang kuat. Repotnya kadangkala


Saya ada pertanyaan:
1. Kira-kira berapa ratio riset di luar yang dilakukan oleh peneliti
Indonesia untuk penelitian applied dan non-applied (rough estimate pls)
?

2. Untuk yang applied apakah ada yang pernah menjadi produk,kalau ada
dalam sektor apa ? apakah ada yg bergulir menjadi bisnis atau mentok di
paten saja ? maksud saya risetnya evolving sbb: "penelitian di skala
universitas --> patent --> persh startup --> produk" atau skenario
kedua: "penelitian di skala universitas --> patent "  ?


> signifikansi dari riset dasar ini kadang sulit diterima dan
> dicerna oleh umum. Basic research kadangkala perlu menunggu
> waktu lama untuk dipetik, karena visinya jauh memandang ke depan.

Ini sangat lumrah dan sebenarnya sangat sektoral(tergantung dengan
objek risetnya).

Di valley misalnya,para enterpreneur/financier berani investasi
sejumlah dana untuk persh startup yang dalam lima tahun kedepan tidak
bakal menghasilkan uang (2 tahun pertama untuk bikin prototype saja
misalnya).Ini banyak terjadi untuk startup di sektor biotech dan
high-end networking.

Jadi memang riset dasar (seringkali) gak perlu dicerna oleh umum,tapi
yang penting adalah bagaimana para enterpreneur/analyst memandang hasil
riset dasar tersebut,apakah ada potensi atau tidak di masa
depan,marketnya bagaimana,etc.


> Sekedar contoh : riset di bioinformatics sudah cukup lama
> dilakukan, dan map dari human genome sudah diperoleh dua tiga
> tahun yll. Tapi jalan masih panjang untuk bisa diaplikasikan
> ke dunia kedokteran (tailored made medicine, dsb.). Prof. Sangkot
> (Eijkman Inst.) pernah mengeluhkan mengenai kurangnya dukungan dari
> dunia industri (bio & farmasi) di Indonesia terhadap riset dasar,
> padahal dana besar sangat diperlukan untuk riset dasar. Tak mungkin
> bisa lompat ke applied yang menghasilkan fulus tanpa riset dasar.

Kalau "dukungan"nya berupa finansial kenapa tidak mengajak pihak
asing/VC untuk investasi dan buka startup (entah startup IT atau
startup biotech) ?

Atau apakah sebagian riset dasar ini memang tidak ada potensi (bisnis)
?

> Kesimpulannya : jangan tinggalkan dua-duanya. :-)

Setuju,tapi seperti di email saya lainnya,kelihatannya cuman ada satu
saja yang jalan,yaitu peneliti Indonesia yang mengerjakan proyek
non-applied di LN,CMIIW.

Tapi jarang sekali saya melihat,ada peneliti (atau engineer-lah)
Indonesia yang bisa dan mempu mengembangkan ide/bakat/talent/penemuan
dan kemudian menjadi produksi (melalui persh startup).

Kalau saya mau ambil contoh langsung,saya mau refer ke Pak Pantas dan
Sehat Sutardja yang berhasil membangun perusahaan semikonduktor dari
startupnya 10 tahun yang lalu.Mudah mudahan ini contoh yang tepat.


Carlos

Kirim email ke