On 1/16/06, Arie Reynaldi Z <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Makanya... daripada lulusan ITB, UI atau PTN / PTS lain pada ngehayal, > mending bikin yang real dan bisa di implemetasi dengan baik dan benar. > Yang anak sipil belajar bikin highrise building supaya bisa kerja di > china / taiwan,
Nah bagaimana caranya belajar yang real? Harus mau magang/kerja ke luar negeri, yang saya sebut "belajar bekerja". Ada bedanya membuat rumah 2 lantai dengan gedung 150 lantai :) Di IT juga seperti itu. Ada bedanya mengelola warnet 10 komputer dengan mengelola infrastruktur Google dengan 100 ribu komputer. Heck, gak usah Google, perusahaan dengan 5000 komputer aja sudah bikin pusing. (Kebayang kalau harus install OS ke 5000 komputer, selesai berapa tahun ya? Kalau sehari bisa install 10 komputer, maka dibutuhkan waktu 2 tahun baru selesai install. he he he.) Itu sebabnya "belajar bekerja" di research center sangat penting. > Daripada ngehayal nungguin VC > dari sillicon valley ngelirik indonesia. Boro2 mereka mikir indonesia > banyak orang pinter.. paling mikir disini sarang teroris.. Sudah *BANYAK* VC dari Silicon Valley yang datang ke Indonesia. (Saya sendiri sudah ketemu 2 orang. Yang terakhir adalah seorang VC yang perusahaannya dibeli oleh Amazon. Ada fotonya di scrapbook saya di http://budi.insan.co.id) Mereka mencari investasi di Asia karena selain mencari untung, juga ada rasa kepuasan diri karena telah membantu orang/bangsa lain. (Maslow's law?) Kelihatannya tren yang ada saat ini adalah pilih Vietnam! Mengapa tidak Indonesia? -- budi
