Pada hari Senin, tanggal 16/01/2006 pukul 13:40 +0700, Ikhlasul Amal menulis: > Pertama, "panci" dalam gambaran di atas hanya simbol, jadi jangan > sampai ilustrasi tersebut menutup kemungkinan perspektif lainnya. :)
Saya mikirnya malah, ga usah jauh-jauh jadi produsen perangkat lunak. Mau bikin panci kek, mau bikin tutup botol kek, ga apa-apa. Tapi jadilah pembuat panci yang benar2 diperhitungkan dunia. Bikinlah panci sedemikian sehingga dunia bergantung pada kita. Kalau kita ngambek, biarin eropa atau amerika kelimpungan karena ga bisa masak pakai panci. Silakan ganti kata 'panci' di atas dengan benda favorit Anda. (Membayangkan jawaban2: kalau kita ngambek, nanti Sino dan Indihé akan masuk jualan panci juga dengan harga 1/3-nya.) Tapi saya agak sedikit senang karena produk-produk buatan Indonesia sudah mulai dijual di IKEA dan beberapa toko baju internasional di sini. Sebelumnya kesal sekali lihat "Made in Sino" bertebaran di sini. Tapi punya kita masih kurang banyak (saat ini saya tidak begitu peduli berapa orang kita yang ada di lembah atau di lereng jadi insinyur komputer, tapi lebih peduli berapa baju atau boneka atau panci yang bisa kita jual ke negeri seberang lautan, karena saat ini lebih yang banyak narik urat betot otot di bidang itu daripada jadi insinyur). Tapi patut kita hargai upaya bung Carlos (dengar nama Carlos jadi ingat Carlos Arozamena di komik Mimin) karena menjadi kompor cap Butterfly untuk mengajak bertebaran di bumi Amerika menjadi insinyur nomor satu karena ga semua orang berminat jadi pembuat panci. Siapa tahu nanti kalau sudah pulang dari Amerika selain bikin produk-produk haitek juga bikin pabrik panci haitek dengan merek "HAITEK" (jadi ingat di sini ada kursi santai model bola kasti buatan Cina dengan tulisan gede-gede "GONG XI FACAI" di kanan kiri sisi kursinya, tapi kok bisa laku ya?). Pasti akan berguna bagi kita semua di kemudian hari (mungkin ini yang beliau sebut dengan pandangan secara long-term).
