Oke, sori baru ngasih tanggepan sekarang. Jadi dah rada telat.

Cerita dari awal: kenapa awalnya saya lebih suka belajar ilmu sosial
dibanding kuliah di Elektro? Karena bagi saya ilmu itu harus bisa
diaplikasikan. Ilmu tanpa amal tidak berguna sama sekali. Dulu, saya
tidak melihat guna dari kuliah Medan I dengan 4 persamaan Maxwell. Saya
tidak melihat kegunaan saya belajar kuliah kendali dengan Matematika
yang bikin saya sakit perut. Halaah itu gunanya apa Matematika
se-dahsyat itu? Toh kemiskinan akan selalu ada. Toh orang-orang
minta-minta di pinggir jalan tetap ada. Toh pejabat korupsi akan selalu
ada.

Saya termasuk orang yang berpikir dari makro ke mikro. Asal saya tahu
tujuan akhirnya saya akan all-out untuk itu.

Saya dulu aktif di unit jurnalistik ITB. Saya benar-benar menikmati
ke-aktif-an saya disana. Begadang sampai malam, menulis, cari nara
sumber, cari fakta, rapat redaksi, berdebat, berdiskusi, nemenin
anak-anak desain melayout, ke tukang percetakan, mengasong jualan,
dengan satu tujuan: supaya tulisan saya dibaca orang. Terbitan kami
cuma dijual 1000 rupiah! 16 halaman dengan informasi yang kami gali
susah-susah. Bahkan uang hasil penjualan juga paling buat balikin modal
ongkos naik cetak. Kami tidak dibayar! Bahkan zaman dulu, kami sempat
patungan dulu dengan uang sendiri supaya bisa naik cetak.  But we have
a great time! We enjoy every second of it.

Akhir cerita, kuliah saya sampai berantakan. Dan kemudian tiba-tiba
saya tersadar biar bagaimanpun saya harus lulus kuliah. Lalu dimulailah
perjalanan kembali ke "jalan yang benar' sesuai kuliah saya. Dimulai
dengan membeli buku sains populer, ngobrol sama Pak Samaun, diskusi
dengan Pak Budi, datang presentasi BHTV, masuk teknologia, kenal sama
Carlos.

Waktu kenal sama Carlos, terus terang, saya ragu! Ini benar orang
Indonesia? Saya cek foto di friendster-nya. Gila, benar juga! Lah dia
kok bisa kenapa saya gak bisa. Semangat saya mulai terbakar. Dan
pengakuan saya dengan status script-kiddies itu memang benar-benar saya
belum terbukti apa-apa di dunia IT ini. Jadi saya juga tidak mau dicap
sebagai orang yang ngomong doang. Saya berusaha fair, jujur apa adanya.
Dan saya tahu saya tidak bisa berlindung di balik pangkat ini terus.

Namun saya ingin semuanya berjalan alami. Saya tidak ingin matang
secara karbitan. Masih terlalu pagi bagi saya untuk memutuskan all-out
profesi apa yang akan saya geluti. Legenda pribadi saya masih banyak
dan tentu menjadi kebebasan pribadi saya untuk menentukan legenda
pribadi yang mana yang ingin saya wujudkan. Titik ekstrimnya, orang tua
saya pun tidak berhak mengintervensi keputusan masa depan profesi apa
yang akan saya pilih.

Lanjut lagi dengan debat Panci lah, IT lah, dll lah.
Will we stop it this debate?

Ilmu yang berguna itu ilmu yang diamalkan! Saya suka ilmu sosial,
karena saya tahu cara mengamalkannya di Indonesia. Saya suka sekali
ngobrol dengan orang-orang sederhana: tukang ojek, supir angkot, dan
tukang gorengan di depan kampus. Saya menemukan kedamaian disana. Saya
merasa hidup saya masih lebih enak. Biarpun kiriman dari orang tua
pas-pasan, saya punya teman-teman baik yang begitu banyak.

Nah kurikulum kuliah di Elektro ITB itu ternyata IDEALnya tidak kerja
untuk hal-hal yang sifatnya manajerial dan juga solder-menyolder. Ini
Pak Samaun yang bilang lho. Teman-teman saya yang dari subjur
mikroelektronika harusnya begitu lulus kerja jadi IC-Designer!
Sayangnya lapangan kerja untuk itu di Indonesia tidak ada. Dan sudah
pada tahu kan, membuat pabrik IC-Designer tidak sesederhana membuat
pabrik pembuat panci atau membuka restoran makan.

Soal nasionalisme. Saya pribadi tidak suka terkotak-kotak. <u>Manusia
yang paling berarti adalah manusia yang paling bermanfaat bagi yang
lain</u>. Saya cuma seorang Zaki Akhmad yang kebetulan lahir di
Jakarta, kuliah di Elektro ITB, lebih suka dunia sosial dan baru mau
kembali ke "jalan yang benar", dan berkewarganegaraan Indonesia. Jika
memang ilmu saya lebih berguna di Silicon Valley ya saya berarti harus
berusaha untuk sampai kesana. Jika memang ilmu saya lebih berguna di
depan anak-anak SMA, ya saya akan menjadi guru saja. Jika memang ilmu
saya lebih berguna di dunia jurnalistik, ya saya akan menjadi wartawan
saja. Toh ini kan pilihan saya pribadi.

Sampai saat ini bagi saya yang prinsip adalah agama. Jadi yang lain
boleh ganti-ganti, tapi tidak untuk agama. Ganti kewarganegaraan? Ah
itu tidak prinsip bagi saya. Teman saya bilang, secara ikatan emosional
Indonesia pasti tidak akan hilang. There's no place like home!

Analoginya kalau saya dari kecil dibesarkan di rumah A dan ketika sudah
beranjak besar pindah ke rumah B, secara emosional saya akan lebih
dekat dengan rumah A saya. Atau dilihat dari sisi lain. Setelah saya
menghabiskan waktu 10 tahun di LN saya memutuskan kembali ke Indonesia
dengan alasan, banyak sekali masalah di Indonesia yang harus dibenahi.
Dimulai dari membuang sampah pada tempatnya, menyebrang di jembatan
penyebrangan, dan bisa jadi juga memulai BHTV ini.

Kalau saya mau ganti nama juga tidak masalah. Yang jelas bisa jadi saya
repot sendiri. Harus ngasih tahu ke banyak orang, kecuali kalau saya
operasi plastik. Ah kok saya jadi serius gini yak................

Zaki Akhmad
http://www.zakiakhmad.info

Kirim email ke