> Memnurut saya, kesuksesan linux (sbg desktop) tidak hanya ditentukan > oleh faktor eye candy ini semata, tapi adanya standarisasi UI. Sampai > saat ini yg saya lihat, faktor terlalu banyak pilihan dan TIMTOWDI-lah > yang justru menghambat linux (desktop), ini sangat menyulitkan bagi apps > developer, distro maupun user sendiri.
IMHO adanya pilihan (GTK+ atau Qt?) itu justru merupakan kelebihan, asal digunakan dengan tanggung jawab. Lagipula, sekarang akan ada freedesktop.org yang didukung juga kolaborasi pihak-pihak yang terkait soalan desktop. Kemajuannya cukup lumayan. Bandingkan, 5 tahun yang lalu Netscape di atas KDE akan tampak aneh/asing, belum lagi ada XMMS nongol juga. Sekarang, misalnya desktop SUSE, aplikasi berbasis GTK+ dan Qt secara "kulit luar" sudah semakin mirip dan tidak membingungkan. Icon juga semakin seragam. > Windows dan MacOS punya kelebihan yg tdk dimiliki linux, yaitu UI sandar > dan terkontrol, yang sangat mempermudah developer. Tidak selalu standar. Lihat bagaimana UI Microsoft Office selalu nampak lain dibandingkan Microsoft Windows. Bandingkan sekali dengan tampilan program seperti Norton AV, Winamp, dsb. Semakin beraneka rupa "wajah"-nya. > Contoh kecil sangat mudah mengasumsikan bahwa program ada di c:\program > files\xxx > dan di dokumentasi tinggal sebut "Untuk menjalankan program, klik start->all > programs -> xxx" Beda paradigma. Unix hardcore user juga akan geleng-geleng kepala kalau melihat tiap program Win32 punya library sendiri (bukannya diletakkan di /usr/lib dan dishare), mengotori direktori sistem dengan ratusan DLL (dan tidak bisa di-make uninstall), dan yang masih menyimpan file data di direktori yang sama (tidak berfungsi kalau bukan jadi Administrator). > Belum lagi masalah API untuk grafis atau printing. Solusinya kolaborasi, misalnya freedesktop.org itu.
