On 4/27/06, m.c. ptrwn <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> > ah ini kan cerita saja, kalau ada perancang chip di indonesia yang mau
> > fokus ya fokus saja.
>
>
> Cerita di atas adalah ilustrasi kondisi yang ada di Indonesia.

masih kurang jelas relevansinya apa , kalaupun ada yg minta bantuan kan
juga tidak tiap hari.

Maksudnya gini Carlos (loe kelamaan di luar sih, jadi sering kagak nyambung he he he, makanya sering liburan donk).

Kalau di Indonesia sering kita terpaksa jadi Superman tidak bisa menolak kerjaan sesuatu walau bukan spesialisasi, dan itu bukan karena faktor uang, tapi karena faktor tidak ada orang lain yang melakukannya (atau bersedia melakukannya).  Tidak ditangani, kasihan juga, ditangani ya akhirnya kita tidak spesialisasi (he he he mas Budi Rahardjo pasti maklum maksud saya).

Contohnya saya, mas Budi kadang kudu harus nangani perihal seperti seritfikasi profesi, kurikulum,  dsb dsb.

Itu juga misalnya urusan mengajar. kita mo nolak "Maaf saya tidak menguasai banget mata kuliah itu", mahasiswa bisa bisa nggak ada yg ngajar.  Pilihannya mana diajar oleh orang yang tahu dasar, atau mahasiswa sama sekali tidak diajar.

Yang masih berharap spesialisasi itu artinya masih suka onani (sorry).

IMW

Kirim email ke