On 5/2/06, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


 Menurut aturan Jerman Geschaftfuehrer (alias CEO) memililiki 2 tugas utama
 - Membayar gaji pekerja
 - Membayar pajak

 Lain-lainnya itu tambahan, kalau 2 itu tidak terpenuhi bisa dibui.   Lain
halnya kalau membayar pajak dan gaji pekerja itu disebut "social
responsibility:"

Sip. Jadi klop bahwa tugas CEO tidak harus menghasilkan profit.
hi hi hi.

Tentu saja profit menjadi acuan sukses atau tidaknya CEO tsb.,
tapi ternyata profit bukan satu-satunya. Mungkin sekarang
malah profit nomor dua. Asal harga saham naik :)

Social responsibility itu menentukan value dari perusahaan,
yang nantinya  berimpak kepada harga saham dari perusahaan tsb.
Kalau misalnya sebuah perusahaan minyak (public company)
seenaknya saja dalam menangani lingkungan, oil spill cuek saja,
malah ikut membunuh ikan paus (misalnya nekad), dan seterusnya.
Maka nilai saham dia anjlok.

Itu sudah terjadi, akan tetapi belum menjadi persyaratan
penilaian formal. Yang saya dengar dari para top management
tersebut bahwa di kemudian hari ini akan menjadi salah satu
indikator dalam menentukan "nilai" dari perusahaan.

Itulah sebabnya sekarang perusahaan besar seperti IBM lebih
memperhatikan masalah "limbah elektronik" (buangan monitor,
lampu LCP projector, PCB, dll.) dan juga masalah energi
(bagaimana membuat komponen yang lebih irit energi, "green
technology"). Drive dari ini tidak sekedar karena ingin
memiliki produk yang lebih efisien dalam penggunaan energi
saja akan tetapi juga sebagai bagian dari meningkatkan valuation
dari perusahaan. Hal-hal seperti ini bisa membuat naik saham.

Hal yang sekarang menjadi pemikiran adalah dengan majunya
India dan China nantinya akan membawa dampak kekurangan energi
di negara tersebut! (Sekarang saja sudah!)
Kalau mereka (negara tsb.) dituntut untuk menghasilkan energi
secepatnya dan semurah mungkin (maklum, tuntutan pengusaha)
maka ditakutkan mereka lari ke nuklir.
Ada ketakutan dari dunia barat bahwa kalau mereka ke nuklir,
mereka mungkin tidak cermat dalam mengelolanya. Ketakutan
bocor reaktor dsb. menjadi pemikiran mereka.
Jadi, bagaimana membantu India dan China dalam menangani
masalah krisis energi mereka.
Ini ternyata masuk ke kategori social responsibility, meskipun
di dalamnya terdapat opportunity business.

Contoh-contoh lain masih banyak, seperti misalnya perusahaan
energi membantu komunitas di tempat dia melakukan penambangan
minyak. (Seperti perusahaan minyak asing di Indonesia.)


Itu kalau di luar negeri. Kalau di dalam negeri, ternyata tidak
ada efek dari social responsibility :(
Jadi tidak ada insentif bagi perusahaan Indonesia untuk ikutan
dalam social responsibility.

Ah biarlah ... itu urusan orang Barat ... [?]

-- budi

Kirim email ke