> -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On > Behalf Of adi > Sent: Wednesday, May 03, 2006 10:18 AM > To: [email protected] > Subject: [teknologia] Re: Social responsibility (was: Re: [teknologia] Re: > Korea) > > > On Wed, May 03, 2006 at 02:58:25AM -0000, m.c. cptrwn wrote: > > > Tapi mesti diingat, profit hanyalah salah satu ukuran. Yang tidak > kalah > > > penting adalah cashflow. Lebih banyak perusahaan kolaps gara2 > cashflownya > > > kering (padahal secara pembukuan menghasilkan profit) > > > > > > > Hmm menarik , ada contohnya ?
[NL:] Contoh seabreg2 terjadi pada era ngamuknya dolar periode 1998-an. Perusahaan tak mampu menarik tagihan karena pembeli kolaps. Perusahaan terlanjur investasi tapi daya beli konsumen turun. Kalau masih ingat, pada awal 2000an, orang finance tiba2 menjadi primadona perusahaan dan paling banyak diburu untuk menjadi CEO. Tugas utamanya: menyehatkan keuangan perusahaan dan memperlancar arus kas. > isinya piutang melulu kali .. hi.hi.. > > Salam, > > P.Y. Adi Prasaja [NL:] Piutang hanyalah salah satu faktor. Faktor lain misalnya ketidakmampuan mencari pembiayaan proyek sehingga profit yang dibukukan terserap untuk pembiayaan proyek. Trauma perbankan terhadap kredit macet yang triliunan kini masih terasa. Susah sekali cari kredit modal kerja atau investasi. Akibatnya perusahaan dipaksa mencari alternatif lain. Kalau terpaksa ya membiayai sendiri -- dengan memanfaatkan laba terbukukan. Begitu laba dijadikan sumber utama pertumbuhan dan pembiayaan, maka risiko seretnya cashflow makin besar. Salam Nukman
