> Assalamu 'alaikum wr.wb.

Walaikum salam.

> Maaf mas, kalau boleh saya bicara, nasionalisme itu bukan diukur dari
> kita pakai barang bikinan sendiri atau tidak.

Mas Affan, menurut saya salah satu wujud nasionalisme adalah
menggunakan barang bikinan sendiri.

> Menurut saya, nasionalisme itu sebaiknya diukur dari kepedulian kita
> atas permasalahan yang dialami oleh sesama teman kita orang Indonesia
> dan bagaimana kalau kita bisa selesaikan masalah mereka. Kalau perlu
> diextend sampai bukan hanya kita bisa masalah orang Indonesia aja yang
> bisa selesai, tapi orang luar Indonesia, bahkan seluruh dunia pun bisa
> selesai masalahnya.

Kenapa harus berpikir "seluru dunia pun selesai masalahnya" ? Mungkin
rada melenceng, tapi baru akhir2 ini aja soccer baru ngetop di amrik,
sebelumnya lebih populer american football, basket, baseball. Bahkan
nascar punya lebih punya penggermar fanatik dibanding F1, CMIIW. Apa
dia mikir buat seluruh dunia ?

> Kalau saya lihat, bagusnya kita lihat sendiri masalah orang Indonesia
> itu apa sih ? Nah lalu baru kita usahakan bagaimana pemecahan
> masalahnya. Kalau kita mikirnya cuma bikin barang yang 'pokoknya
> bikinan Indonesia', jadinya kayak kampanye ACI (Aku Cinta Indonesia)
> yang gak ada bekasnya sekarang, karena orang sekarang pake paradigma
> SPMM (Sing Penting Mlaku lan Murah, yang penting barangnya jalan dan
> harganya murah).

Gak juga, bukan masalah ACI. Kenapa india sampai sekarang bikin bajaj
? di dunia manapun saya rasa gak ada lagi bajaj.. disana ada, malah
mau bikin pabrik di indonesia... Tujuan akhir tetap Sing Penting
Murah, gimana murah kalau royalti harus bayar, teknologi harus import.
Mas tau kan buat korek kuping kita beli dari china, karena di cina
lebih murah dibanding bikin. Apa jadinya kita beli terus gak pernah
bikin ?

> Dan saya kok nggak melihat masalah keyboard itu masalah yang esensial
> di Indonesia.

Heheh.. keyboard memang gak essensial, mungkin karena kita juga
berpikir dan berpikir dan terus berpikir, tapi yaa.. mikir aja.. :-)
*sama ama omong doang*. Keyboard masalah sederhana kok, tapi untuk
bikin qwerty pun juga ada alasan, demikian juga dvorak. Mungkin kalau
ada mahasiswa S2 / S3 yang kerja sama lintas disiplin ilmu buat mikir
"bagaimana keyboard yang paling cocok buat orang indonesia", itu bisa
jadi thesis yang menarik. Dan kalaupun akhirnya dia gak bisa jual ke
pasaran, saya rasa orang itu tetap harus diacungin jempol, karena dia
berpikir 'beda' gak cuma ngikut sesuatu yang 'canggih' tapi bukan
milik sendiri.

> Maaf kalau tulisan saya agak gimana gitu.

ma'af kalo OOT nya jadi nambah jauh.

-- 
Arie Reynaldi Zanahar
reymanx at gmail.com
http://www.reynaldi.or.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke