On Wed, Nov 01, 2006 at 08:30:18AM +0100, Made Wiryana wrote:
> Karena orang Jerman ndak sama dengan orang Indonesia he he h, yang saya
> tulis dalam paragraf di atas adalah situasi di Indonesia.
 
sebenarnya, kalau dilihat lebih jauh (subyektif yang saya lihat),
mereka tidak begitu pusing dengan trademark. tapi memang trademark
linux ini sedikit sekali pemainnya. sedikit sekali pemain, karena
kalau bermain-main di situ, bisa ndak sustain karena demand tidak
ada. gitu saja terus, seperti lingkaran setan :-)

> Soal biaya support memang agak heran :-) ada badan pemerintah rela beli
> lisensi hingga 1 M utk 100 komputer padahal relatif tanpa support (dg asumsi
> pengguna di badan tersebut bisa mensupport sendiri), sedangkan ndak rela
> keluar 500 juta utk layanan support tapi pakai Linux.

kebetulan kenal satu institusi yang bermaksud melegalkan OS mereka
dengan membeli paket. saya bilang pakai ubuntu saja :-) tapi pertanyaan
valid mereka: nanti kalau ada apa-apa siapa yang mau/bisa membantu?
selama ini mereka mengandalkan pihak ketiga dalam hal update program,
memperbaiki program yang 'crash', pasang antivirus dan bersihkan
virus dll. nah, tipe kerjaan seperti ini, bahkan dalam wacana pun,
belum terlalu sering disinggung .. 

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke