Ya Alloh... Ampuni dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana 
mereka menyayangi kami waktu kecil.
semoga bermanfaatwassalamu'aliakum wr. wb

ronn
------------------------------------------------------------------

Mampukah Kita Membalas Cintanya
Oleh Muhammad Fatih
Suatu ketika ada seorang anak yang sangat benci kepada ibunya.
Begitu besar kebencian yang dirasakannya terhadap ibunya. Bukan karena
ibunya orang yang jahat dan tidak perhatian kepadanya. Tapi semata
karena Mata sang ibu cacat sebelah. Ketika sekolah dasar sang anak
sering di ejek teman-temannya dengan sebutan anak si buta.
Pernah suatu ketika si Ibu memanggil dan tersenyum kepadanya ketika
dia sedang berkumpul dengan temannya. Bukan sebuah senyum yang di
dapatkan ibu dari sang anak tapi sebuah sumpah serapah yang dilontarkan
si anak. Sang anak berkata di depan ibunya bahwa dia benci punya ibu
buta, dia ingin ibunya mati saja.
Tahun dan bulan berganti sang anak telah memiliki keluarga sendiri,
selama itu dia tidak lagi pernah bertemu ibunya, karena sejak SMA dia
sudah tidak mau tinggal dengan ibunya. Suatu kali sang ibu berkunjung
ke rumah anaknya yang ia tahu dari para tetangganya. Ketika sang ibu
berada di depan pintu sang anak bukan mempersilahkan masuk tapi malah
mengusir dengan cacian dan makian. Sang ibu hanya terdiam dan
meninggalkan lokasi dengan wajah sedih.
Suatu ketika sang ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Para
tetangga mengabarkan pada sang anak. Sang anak tidak merasa sedih sama
sekali dengan kepergian ibunya, sampai seorang tetangga memberikan
sepucuk surat dari sang ibu kepada anaknya.
Dalam suratnya ibunya hanya mengatakan maaf jika selama ini
membuatnya malu. Ibunya juga menceritakan mengapa matanya cacat
sebelah. Ketika usia 3 tahun sang anak terjatuh ketika bermain sehingga
menyebabkan kebutaan sebelah pada matanya. Karena tidak ingin sang anak
buta sebelah maka sang Ibu memberikan matanya untuk anak tercintanya.
Dia tidak perduli harus kehilangan sebelah matanya asalkan sang buah
hati dapat menjalani kehidupan ini dengan normal.
Di akhir surat sang ibu mengatakan bahwa dia begitu mencintai sang
anak dan ingin sekali memeluk erat sang anak sebagaimana dulu ia
memeluk erat sang anak yang tergolek lemah ketika terjatuh. Tercekat
kerongkongan sang anak ketika membaca, tak kuasa butiran air mengalir
dari sudut-sudut matanya, dadanya sesak dipenuhi perasaan haru dan
bersalah teramat dalam.
Saudaraku, tidakkah kita sadar bahwa salah satu anugerah terbesar
yang Allah berikan adalah ketika kita diberikan orang tua. Mungkin
banyak di antara kita yang terkadang malu memiliki orang tua yang
penampilan fisiknya tidak lagi menarik. Kita begitu malu ketika harus
menggandeng tangan ibu kita saat berada di antara teman-teman kita,
kita begitu kesal jika ibu atau ayah kita tidak menuruti keinginan
kita. Kita terasa berat untuk mengulang kata yang kadang tidak
terdengar jelas oleh orang tua kita karena pendengaran mereka telah
berkurang. Kita begitu malu ketika harus menerima kenyataan bahwa orang
tua kita bukanlah orang yang sempurna, melainkan hanya seorang yang
ringkih tubuhnya, lusuh penampilannya dan tidak memiliki sesuatu yang
di banggakan.
Tapi tidakkah kita ingat saudaraku bahwa mereka tak pernah malu
menjadi petugas kebersihan yang selalu beregelut dengan sampah hanya
karena ingin melihat kita bersekolah sebagaimana anak-anak lainnya.
Mereka tidak pernah malu menjadi pedagang kaki lima yang kadang harus
berlari tersengal-sengal karena dikejar keamanan kota demi untuk
membelikan kita jajanan sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka tidak
pernah peduli dengan kesehatannya dan terus bekerja membanting tulang
demi menafkahi kehidupan kita. Mereka tidak pernah bosan
mengulang-ulang kata agar kita pandai bicara. Mereka dengan sabar
menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, walaupun kita kerap menanyakan hal
yang sama.
Bukankah ringkih tubuh mereka karena begitu kerasnya mereka berjuang
agar kita dapat hidup lebih baik dari mereka. Bukankah lusuh penampilan
mereka karena mereka terlalu sibuk memikirkan iuran sekolah dan
kebutuhan hidup kita lainnya.
Mungkin orang tua kita adalah orang tua yang tidak sempurna, orang
tua yang memiliki berbagai macam kekurangan. Mungkin bahasa mereka
dalam mengungkapkan cintanyapun tidak sepenuhnya kita pahami. Tapi
yakinlah bahwa di antara doa-doa panjangnya, sebagian besar adalah doa
untuk kebaikan kita. Disetiap peluh keringatnya semata-mata hanya untuk
melihat kita bahagia. Di antara amarah dan larangannya adalah bentuk
perwujudan cintanya pada kita.
Saudaraku mumpung waktu itu belum tiba, waktu di mana kita hanya
bisa menangis penuh sesal di makamnya karena selama hidupnya kita hanya
menyusahkannya dan tidak pernah membuatnya bahagia. Waktu di mana kita
tidak bisa memeluk erat tubuh ringkihnya yang penuh kehangatan cinta.
Waktu ketika semuanya telah terlambat.
Datanglah saudaraku, datanglah kepadanya saat ini seraya mencium
dengan takzim punggung tangannya, datanglah dengan senyum merekah dan
tutur kata yang lemah lembut. Datanglah dengan lirih berbisik bahwa
kita begitu mencintainya. Karena bukan dunia dan isinya yang membuat
mereka bahagia, tapi bakti kitalah yang membuat senyum bahagia mereka
merekah.
 Allahummagfirli waliwali dayya warhamhuma kama rabbayani shagirah.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke