Ndak usah berpanjang2 lagi debat soal perokok ah.. setelah saya baca posting-posting yg pro-kontra, kayaknya ga bakal ke mana-mana obrolan beginian. Saya mau cerita aja deh.. cerita2 wali Allah. Mudah2an cerita2 saya ga jadi pemicu perdebatan lagi dan tidak kena larangan hehehehe.. lha dulu saya pernah dilarang kirim kisah2 karamah wali ;)
Ini kisah tentang Kyai As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo, beliau adalah salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Kisah ini diceritakan oleh khadamnya, Kyai Zainullah Zuhar. Mbah As'ad ini dikenal sebagai kyai perokok yang sudah menempati maqam Wali Allah. Pada suatu malam, Mbah Kyai As'ad sedang berbincang2 di serambi masjid bersama Kyai Jumat dan Kyai Zainullah. Kyai As'ad, yg waktu mengenakan baju, kebetulan ingin merokok tapi tidak bawa, maka diutuslah Kyai Zainullah untuk mengambilkan rokok dirumahnya yg jaraknya agak jauh. ketika sampai di rumah Kyai As'ad, Kyai Zainullah kaget saat yg membukakan pintu rumah adalah Kyai As'ad sendiri, yg mengenakan kaos. "Kok cepat sekali?" begitu pikir Kyai Zainullah. Lalu Kyai As'ad bertanya, "Sapa sih yg nyuruh sampeyan ngambil rokok malam2 begini?" Kyai Zainullah tentu saja bingung. Dia menjawab. "Yg nyuruh saya ngambil rokok Kyai As'ad." Kata Kyai As'ad, "Ya sudah, cepet ambil." Lalu Kyai Zainullah balik ke masjid, dan menyaksikan Kyai As'ad masih asyik ngobrol dengan Kyai Jumat. Lalu Kyai Zainullah berbisik kepada Kyai JUmat, apakah Kyai As'ad tadi pulang atau tidak. Kyai Jumat mengatakan bahwa Kyai As'ad dari tadi ga kemana-mana. Kyai Zainullah bingung sendiri. Lalu siapa kyai As'ad yg ada di rumah? Kok ada dua mbah As'ad? Siapakah Kyai As'ad Syamsul Arifin ini? Paling tidak di mata kaum Nahdliyin, beliau adalah Kyai besar yg berpengaruh di tingkat nasional. beliau masih paman Gus Dur. Kyai As'ad adalah murid langsung dari Qutbul Awliya MBah Kholil Bangkalan, Madura dan Kyai As'ad juga murid Hadratus Syekh Hasyim As'yari Tebuireng. JIka rekan-rekan jalan2 ke Jawa Timur dan ngobrol2 dengan santri di Situbondo atau di mana saja, rekan2 akan mendapat banyak kisah karamah Kyai As'ad ini, termasuk beberapa kisah lain tentang Kyai As'ad yang bisa "memecah diri". Kyai As'ad, bersma dengan Kyai Abbas Jamil, Buntet Cirebon, termasuk panglima perang pada saat pecah pertempuran Surabaya 10 November 1945. Pada era 80-an, Kyai As'ad ini termasuk kyai besar yg menerima asas tunggal Pancasila, dan beliau sempat berbeda pendapat dengan Gus Dur, dan karenanya menyatakan diri memisahkan diri dari kepemimpinan Gus Dur di tubuh NU. Sebagian kyai meyakini bahwa Kyai As'ad telah menempati maqam Qutub, Wa ALlahu A'lam. ila hadaratis-Syekh As'ad Syamsul Arifin r.a .. al-fatihah. salam triwibs --- In [email protected], "Roosdiana Ischak" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rasa bingung itu pertanda baik, pak. > > Salam, > Roosdiana > > > On 4/26/08, triwibs <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > WAH BETUL SEKALI MAS PRIYA > > lha kita ini yg agamanya cuma dikit kan memandang sesuatu dengan > > perspektif terbatas. jadi ya wajar kalau saling berbeda pendapat. > > > > Cuma sayangnya, ya, kadang perbedaan ini agak berlebihan sampai > > mengatakan kalau perokok ga bakal diterima shalatnya. waduh.. apa Gus > > Mustofa Bisri, Mbah Syamsul Arifin, Gus Miek, dan masih banyak lagi > > kyai besar yg perokok ga diterima shalatnya???? Apa ilmu kita sudah > > lebih tinggi dari mereka sampai kita yakin bahwa perokok pasti salah > > dan ga diterima shalatnya?? hehehehe.. kalo saya sih termasuk orang > > kuno, suka pake sarung dan kuplukan, yakni tergolong dalam KFC (Kyai > > Fans Club)..jadi ya kalo kyai panutan saya bilang rokok ga haram, ya > > saya ga bilang haram, lha wong ilmu mereka lebih tinggi dari saya, dan > > bahkan almarhum al-mukarram Gus MIek, kyai nyentrik dan kontroversial, > > itu dikenal orang (bahkan diakui banyak kyai besar) sebagai wali Allah > > yg perokok sejati... lah, masa wali shalatnya ga diterima hehehehe > > ada-ada saja kita ini.. > > > > saya sendiri suka memberi oleh-oleh rokok kepada mursyid saya, seorang > > kyai yang amat tawadhu. beliau biasa merokok, meski tak pernah > > dihabiskan. dan kami, para murid, biasanya yg menghabiskan rokoknya > > untuk mendapatkan berkah.. hehehehehe. > > > > jadi persoalan sesungguhnya yg bikin rame bukan soal beda pendapat > > halal-haramnya rokok, sebab itu sudah khilafiah di level furu'. Yg > > jadi banyak orang gregetan mungkin klaim yng agak berani bahwa perokok > > tidak diterima shalatnya - ini kan seperti gaya aliran wahabi yang > > dengan gampang menuduh orang lain yg tidak sepaham dengan pemikirannya > > sebagai orang yg ga bakal masuk surga? > > > > sekali lagi, pertanyaan saya, apa bener kyai seperti Gus Mus atau Gus > > Miek atau Mbah As'ad atau Mbah HInan, atau banyak kyai besar lainnya > > yg perokok (seperti di Pesantren Buntet), yang kebanyakan sudah > > menempati level mursyid tarekat, shalatnya ga diterima karena mereka > > perokok???? ah.. yg bener aja coy.. heheheheheh.. > > > > jadi sebenarnya saya ga masalah kalo ada yg bilang rokok itu haram, > > sebab juga banyak yg bilang rokok itu tidak haram. Tapi saya agak > > sedikit bingung kalo ada yg bilang perokok shalatnya ga diterima... > > > > salam > > triwibs > > > > --- In [email protected] <tqn%40yahoogroups.com>, "Susila, Priya" > > <priya.susila@> wrote: > > > > > > Mas Tri, > > > > > > > > > > > > Qt ini masih sama2 buta dan senangnya menilai orang lain...betul > > ga''' > > > > > > Klo sudah ga buta "PASTI" tidak akan suka menilai orang lain lho.... > > > Sebab semuanya sudah jelas alias terang penuh cahaya... > > > > > > Ulama'2 yang sampeyan sebut itu, memang merokok namun tidak pernah > > > menilai dirinya benar dan benar sendiri...hanyut dalam maqom masing2 > > > tanpa mereka berselisih, sekalipun mereka berbeda, disebabkan mereka > > > sudah pada jalannya dan mampu melihat disampingnya dengan terang > > > benderang... > > > > > > Sebenarnya yang suka usil, debat dan semacamnya ini ya qt2 ini yang > > > masih belum sampai pada jalanya. > > > > > > Klo yang sudah biasanya malah2 diam2 saja sambil senyum...he...he.. > > he... > > > > > > > > > > > > YANG penting sekalipun kita debat klo bisa sih musyawarah ...yang > > > dianjurkan...asalkan saling pada menghormati satu sama lain...tak > > akan > > > ada masalah sekalipun syawirnya panas seperti sekarang ini..... > > > > > > > > > > > > AYO mas jangan pada diam siapa tahu dari pemahaman mas2 yang ada > > disini > > > bisa menambahkan pengetahuan kita untuk menambah "spirit" kita dalam > > > mencari jalan kebenaran menuju ilahi anta maqsudi ......yang sudah > > tentu > > > dengan bimbingan Sang Mursyid masing2 sebagai kholifah dari Mursyid > > dari > > > segala Mursyid ( ya rasyid) yang jelas melalui pintu Sang kekasih- > > Nya, > > > Sayyiduna Ya-Siin, Sayyiduna Shohibul Qur'an. > > > > > > > > > > > > Wassalam > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ________________________________ > > > > > > From: [email protected] <tqn%40yahoogroups.com> [mailto: > > [email protected] <tqn%40yahoogroups.com>] On Behalf Of > > > triwibs > > > Sent: Tuesday, April 22, 2008 9:50 AM > > > To: [email protected] <tqn%40yahoogroups.com> > > > Subject: [tqn] Re: Siapapun Merokok, maka Solatnya Tidak Diterima > > > > > > > > > > > > weladalahhh.. masalah begini kok jadi ribut2 sampe saling > > menyalahkan? > > > > > > padahal gampang sekali. yg anti rokok dan menafsirkan rokok haram > > > berdasarkan qiyas, ya jangan merokok. sedangkan yng menganggap rokok > > > mubah atau makruh, ya silahkan merokok. seperti kata Gus Dur, gitu > > aja > > > kok repot. > > > > > > nah perkara amalnya diterima oleh Allah atau tidak, kita ga bakal > > > tahu, kecuali Allah. perkara apakah hati bisa ditembusi cahaya atau > > > terhalang asap rokok, kita ga pernah tahu, hanya Allah yg tahu. > > Bukan > > > hak kita untuk menghakimi diterima atau tidaknya amal kita. > > > > > > jadi kita tak usahlah repot-repot ngurusi pahala dan amal orang > > lain. > > > sudah ada yg ngurus kok. kalo kita masih suka menyalah2kan orang > > lain. > > > dan merasa bahwa pendapat kitalah yang paling benar, paling didukung > > > oleh ayat-ayat qur'an, ya apa gunanya kita ikut tarekat... > > > > > > mengapa kita tidak berlaku bijak seperti sufi-sufi yang kita kagumi > > > bersama? > > > > > > Kyai Ihsan Jampes Kediri, ulama bertaraf internasional yang kitabnya > > > jadi rujukan di timur tengah dan mesir, pernah menulis masalah > > > perbedaan pendapat rokok dengan amat bagus sekali - beliau sendiri > > > adalah perokok. Apakah orang seperti Kyai Ihsan Jampes yang menulis > > > kitab tasawuf yng bermutu tinggi pada usia 33 thn itu dadanya tidak > > > ditembusi cahaya Allah hanya karena asap rokok? > > > > > > Kyai Hamid Pasuruan - beliau adalah Wali ALlah era 70-an dan 80-an > > yg > > > amat dihormati oleh sesepuh mursyid tarekat mu'tabarah, tidak anti > > > rokok dan tidak pernah mengharamkan rokok. Apakah kyai sekaliber > > Mbah > > > Hamid ini shalatnya tidak diterima oleh ALlah hanya karena merokok? > > > > > > Kyai As'ad Syamsul Arifin - yg menurut sebagian ulama sufi menduduki > > > Qutub pada zamannya, yg juga merokok .. apakah beliau ini akan masuk > > > neraka hanya karena berpendapat merokok tidak haram? > > > > > > itu baru tiga contoh. masih banyak lagi ulama besar yang tidak > > > mengharamkan rokok. Apakah ulama-ulama semacam itu begitu bodoh? > > Saya > > > rasa tidak. dan pendapat mereka yg tidak mengharamkan rokok pasti > > ada > > > dalilnya. sekali lagi, mereka bukan ulama bodoh dan bukan ulama yg > > sok > > > merasa paling benar dan paling suci. > > > > > > ah, kita kok hendak jadi mirip seperti Wahabi ya? begitu mudahnya > > > menuduh orang yang tak sependapat dengan kita sebagai pihak yang > > > salah, amalnya tidak diterima, sesat, bidah... Masya Allah.. > > > > > > betapa sia-sianya kita berdebat soal furu' semacam ini, Mengapa kita > > > tak belajar dari sejarah? perdebatan soal furu' tak akan bakal > > > mencapai titik temu. yg bisa kita lakukan adalah menghormati > > meskipun > > > kita tidak setuju atau berbeda pendapat, dan tidak dengan unsur > > > menyalah-nyalahkan dengan embel-embel alasan amar ma'ruf nahi > > mungkar, > > > seolah-olah kita sajalah yang paling benar dan yg lain salah dalam > > > memahami al qur'an dan hadits. Naudzubillah min dzalik > > > > > > salam damai > > > triwibs > > > > > > --- In [email protected] <tqn%40yahoogroups.com> <mailto: > > tqn%40yahoogroups.com <tqn%2540yahoogroups.com>> , "Hudan > > Ibnul > > > Iman" <imanprasojo@> > > > wrote: > > > > > > > > tak ada gading yang tak retak disadari atau tidak oleh sang Gajah, > > > > tapi tak ada Gajah yang rela mati menyerahkan gadingnya. > > > > Selama masih hidup di dunia tak akan pernah lepas dari dosa > > disadari > > > atau tidak, > > > > tapi tak ada yang rela amal kebajikannya tertolak di akherat > > kelak. > > > > Kita manusia lemah, tak punya daya upaya menghindar dari segala > > > > keburukan datang menimpa, tapi kita manusia telah diberi 'akal- > > > fikir' > > > > untuk bisa memilih mana yang baik mana yang buruk, dan sudah > > diberi > > > > 'rambu-rambu' melalui kitab2 suci. > > > > Apakah lampu merah rambu lalu lintas menjelaskan tertulis secara > > > detil > > > > makna dari warna 'merah-kuning-hijau'? tentu saja tidak, > > > > demikian pula dalam ayat-ayat Al-Qur'an tidak perlu detail > > > menyebutkan > > > > apa saja yang haram dan apa saja yang halal. > > > > 'Maka, nikmat Tuhan manalagi kah yang kamu dustai?'. > > > > > > > > Memang tidak ada larangan untuk membuat, menjual, membeli rokok > > > > sehingga roda perekonomian terus berjalan baik, secara hukum jual- > > > beli > > > > sah. > > > > > > > > tapi yang ada adalah larangan perbuatan yang merusak di atas muka > > > bumi, > > > > termasuk merusak/menyakiti diri sendiri terlebih kepada diri yang > > > lain. > > > > > > > > Dengan katalain 'Silahkan beli, tapi jangan dihisab', perusahaan > > > > untuk, lapangan pekerjaan terbuka, APBN kaya karena kita beli, > > juga > > > > badan sehat, orang lain sehat-tidak terganggu karena tidak dihisab > > > > rokoknya, (he he..., emang ada yang mau begitu?) > > > > > > > > sebagai tambahan, menurut Imam Al-Ghazali, Nur-Allah atau Cahaya > > > Allah > > > > itu masuknya melalui dada terus tembus ke dalam hati. > > > > bagaimana Cahaya Allah bisa masuk kedalam hati jika dalam dada nya > > > > penuh dengan asap. > > > > Coba saja bila kita berada di suatu ruangan atau daerah yang penuh > > > > asap tebal, walaupun sudah memnyalakan lampu apakah jelas terlihat > > > > apa2 yang ada di sekeliling kita, rela kah membiarkan diri kita > > > > terhijab dari CAHAYA ALLAH!. > > > > > > > > Wassalam. > > > > > > > > Pada tanggal 21/04/08, Himawan Muhammad <himawan.muhammad@> > > > menulis: > > > > > check this : > > > > > > > > > > http://sylviatjahyadi.blogspot.com/2007/11/ketika-indonesia- > > tanpa- > > > <http://sylviatjahyadi.blogspot.com/2007/11/ketika-indonesia-tanpa-> > > > cukai-rokok.html > > > > > http://www.customs.go.id/news/print_news.php? > > > <http://www.customs.go.id/news/print_news.php?> > > > newsID=995&channelID=01 > > > > > http://www.antara.co.id/arc/2007/7/2/target-penerimaan-cukai- > > 2007- > > > <http://www.antara.co.id/arc/2007/7/2/target-penerimaan-cukai-2007-> > > > diperkirakan-tercapai/ > > > > > http://www.indomedia.com/bpost/022005/26/depan/utama1.htm > > > <http://www.indomedia.com/bpost/022005/26/depan/utama1.htm> > > > > > > > > > > nah itu masalahnya... > > > > > jika semua orang nggak ngerokok... abis deh APBN kita... > > > > > pemerintah nggak bisa membiayai operasional negara... > > pengangguran > > > > > banyak.... penjahat jadi banyak... malah nggak bisa ibadah... > > > > > > > > > > ini hanya ngingetin aja temen-temen yang nggak suka/anti rokok. > > .. > > > klo selama > > > > > ini pemerintah kita membangun negara dan membiayai negara selama > > > ini ya dari > > > > > rokok... temen-temen ikut menikmati pembangunannya nggak?... > > > > > > > > > > > > > > > Himawan Muhammad > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > Roosdiana >
